RABU, 7 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- Proses pembuatan jalan lingkungan yang dilakukan oleh sejumlah desa menggunakan teknik pengaspalan dalam beberapa tahun terakhir kerap dikeluhkan masyarakat. Pasalnya selain kualitas pengerjaan jalan lingkungan yang buruk, penggunaan aspal pada konstruksi jalan terbilang tidak awet meski telah dibangun menggunakan anggaran yang cukup besar. 


Selain proses awal yang memerlukan biaya operasional tinggi, penggunaan jalan aspal lapen bahkan kerapkali cepat rusak dan butuh pengajuan anggaran yang panjang untuk memperbaikinya. Evaluasi penggunaan aspal lapen tersebut membuat pihak Desa Pasuruan memutuskan menggunakan paving untuk peningkatan dan pemeliharaan jalan lingkungan.

Kepala Desa Pasuruan, Kartini, mengaku dalam program penggunaan Dana Desa (DD) saat ini difokuskan pada pembangunan infrastruktur diantaranya peningkatan dan pemeliharaan infrastruktur jalan terutama jala lingkungan. Pada rencana pembangunan tahap kedua untuk peningkatan jalan lingkungan Desa Pasuruan menurut Kartini tengah melakukan pembuatan paving dengan sistem pengerjaan manual. Sementara pada tahap pertama pengerjaan infrastruktur jalan lingkungan dilakukan dengan menggunakan sistem pengecoran semen (rigid) yang membutuhkan bahan bangunan cukup banyak berupa semen, batu koral, besi serta pengerjaan yang cukup lama.

"Selama ini beberapa tekhnik pengerjaan jalan sudah diterapkan diantaranya aspal lapen, cor beton namun beberapa diantaranya sudah mengalami kerusakan pada jalan lingkungan sehingga dirapatkan dengan BPD untuk penggunaan teknik paving pada jalan lingkungan," ungkap Kartini saat dikonfirmasi media Cendana News, Rabu (7/9/2016).


Perbaikan jalan lingkungan tersebut dikatakannya diputuskan menggunakan paving dengan pertimbangan lebih efesien, secara estetika lebih baik dan bisa dikerjakan secara swadaya. Dengan pola ini nantinya masyarakat bisa melakukan gotong royong dalam pemasangan paving dan kebutuhan akan paving bisa dipenuhi dengan keberadaan BUMDes yang bergerak dalam usaha pembuatan paving.

"Pengerjaan paving kan tidak memerlukan alat berat seperti saat pembuatan jalan menggunakan aspal lapen yang memerlukan alat berat sehingga biaya operasional bisa ditekan seminimal mungkin tanpa mengurangi kualitas jalan lingkungan,"ungkap Kartini.

Selain peningkatan jalan lingkungan menggunakan paving, kepala desa berharap agar warga memelihara jalan lingkungan diantaranya dengan melarang kendaraan bertonase berat melintas di jalan tersebut, melaporkan ke pihak desa jika terjadi kerusakan paving sebab kerusakan paving langsung bisa diperbaiki dengan sistem bongkar pasang terutama pada bagian yang mengalami kerusakan. 

Selain itu menjelang musim hujan penggelontoran dan pembersihan saluran drainase pada jalan lingkungan perlu ditingkatkan lagi dengan sistem gotong-royong. Sebab dengan tersumbatnya saluran pada jalan lingkungan akan mengakibatkan limpasan air ke jalan yang berimbas pada amblasnya konstruksi jalan paving dan menyebabkan kerusakan.


Peningkatan jalan lingkungan juga dibenarkan oleh Sekretaris desa Pasuruan, Harto, yang menegaskan bahwa dari sebanyak 8 dusun yang ada di desa tersebut telah mendapat jatah untuk peningkatan jalan lingkungan. Sebelumnya pembuatan jalan lingkungan telah dilakukan meliputi pembuatan jalan rabat beton dengan panjang sekitar 1300,3 meter dengan lebar bervariasi diantaranya lebar 1,5 meter dan 2 meter yang berada di Dusun Pasuruan Atas, Dusun Sendangsari, Dusun Banyumas. Sementara rencana peeliharaan jalan lingkungan pada termin kedua akan dilakukan menggunakan sistem paving. 

Bersumber dari pembuatan paving yang dilakukan oleh BUMdes maka pada pembuatan jalan lingkungan akan memanfaatkan paving yang saat ini tengah dibuat. Harto mengungkapkan usaha paving tersebut akan dibuat sebanyak 10.000 hingga 15.000 buah dengan asumsi 1 meter jalan menggunakan sebanyak 20 paving. Saat ini dalam sehari pembuatan paving blok oleh dua pekerja bisa menghasilkan sebanyak 500 paving blok yang dikerjakan di lokasi pembuatan paving di balai desa lama.

"Kita sudah ujicobakan penggunaan pada badan jalan lingkungan yang lain dan kualitasnya bagus serta bisa lekas diperbaiki jika terjadi kerusakan" ungkap Harto.

Efesiensi penggunaan paving dibanding menggunakan aspal lapen diakui Harto memperhitungkan pengalaman sebelumnya pada semua infrastruktur jalan desa yang dilakukan pada tahap sebelumnya. Beberapa ruas jalan desa dibangun menggunakan aspal lapen sebagian sudah rusak dan mengelupas meskipun menggunakan anggaran cukup besar. Ia menghitung dengan penggunaan paving pemerintah desa bisa melakukan penghematan sebesar Rp500ribu-Rp1juta jika menggunakan sistem paving dan perbaikan bisa dilakukan sewaktu waktu tanpa menunggu anggaran seperti halnya penggunaan jalan aspal.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: