MINGGU, 4 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- Operasional perusahaan daerah air minum (PDAM) unit IKK Kecamatan Penengahan sudah hampir tiga tahun tidak beroperasi. Akibatnya banyak warga yang selama ini berlangganan air bersih tidak mendapat pasokan untuk kebutuhan sehari hari. Beberapa desa diantaranya Desa Pasuruan, Desa Klaten dengan jumlah pelanggan mencapai ratusan. Pasokan yang tak lagi diperoleh dari sumber mata air diduga menjadi penyebab tidak beroperasinya perusahaan milik pemerintah daerah Kabupaten Lampung Selatan di Kecamatan Penengahan tersebut.


Menurut salah satu pelanggan air bersih dari PDAM IKK Penengahan, Sugiyono (60) warga Desa Pasuruan, tidak mengalirnya air bersih tersebut bahkan membuat dirinya melepas semua instalasi untuk saluran air bersih di pekarangan rumahnya. Instalasi yang telah dilepasnya diantaranya pipa sambungan sepanjang 30 meter, alat pencatat meteran. Semua peralatan intstalasi yang sebelumnya dipasang oleh petugas PDAM sekitar 5 tahun lalu.

"Kami pelanggan tak pernah mendapat pemberitahuan terkait tidak mengalirnya lagi air bersih ke rumah kami karena kami tetap membayar biaya langganan namun informasinya debit air menurun dan kerusakan peralatan,"ungkap Sugiyono kepada Cendana News, Minggu (4/9/2016).

Keputusan untuk melepas instalasi air bersih yang sudah tak mengalirkan air bersih tersebut diakui Sugiyono membuatnya harus mengoperasikan kembali sumur miliknya meski hanya menggunakan alat timba air dan mesin pompa listrik. Selain itu terkadang pada saat musim kemarau dan air dari sumur tidak mengalir dirinya terpaksa membeli air bersih dari pedagang air keliling yang bisa dipesan sebelumnya.

Pantauan Cendana News, lokasi PDAM yang sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu tersebut kini tak lagi terlihat aktifitas bahkan kantor yang biasa digunakan untuk pengawasan dan tempat membayar biaya langganan kini tak lagi digunakan. Selama pasokan air masih mengalir, warga masih sempat membayar biaya langganan untuk kebutuhan air bersih dengan kisaran biaya Rp30ribu-Rp40ribu untuk pemakaian beberapa kubik selama satu bulan. Meski sudah tak mengalir namun sebagian warga masih mempertahankan instalasi pipa besi, pipa pvc berikut meteran pencatat debit air yang masih terpasang di rumah warga.

Beberapa warga Desa Klaten yang sudah tak lagi menikmati aliran air bersih sejak beberapa tahun tersebut mengaku tak tahu kapan lagi PDAM tersebut akan dioperasikan kembali. Sebab selama ini PDAM tersebut mengandalkan air bersih yang bersumber dari Gunung Rajabasa. Sebagian warga akhirnya memutuskan membuat sumur bor dan sumur permukaan sebagai sarana untuk memperoleh air sementara sebagian warga lain terpaksa membeli air bersih dari tempat penjualan air bersih atau penjual air bersih keliling.

Beberapa persoalan yang membuat tidak beroperasinya PDAM IKK Penengahan diantaranya persoalan mampetnya saluran air yang disalurkan ke rumah warga. Selain itu aliran air yang cukup kotor sering dikeluhkan masyarakat yang berlangganan air bersih dari PDAM. Meski masyarakat telah menyampaikan keluhan tersebut namun keluhan tak pernah ditanggapi hingga PDAM tersebut tak beroperasi hingga kini.

Salah satu petugas PDAM yang enggan ditulis namanya bahkan mengaku persoalan lain diantaranya pencurian pipa pipa besi pada instalasi dan juga kerusakan pada bak penampungan membuat perusahaan air bersih tersebut tidak beroperasi. Biaya operasional dan pemeliharaan yang tinggi dan tak sebanding dengan pemasukan dari uang pelanggan yang ada di beberapa desa bahkan dipastikan menjadi penyebab bangkrutnya perusahaan penyedia air bersih tersebut.

Kondisi tersebut akhirnya memberi keuntungan bagi beberapa pemilik usaha air bersih perseorangan serta perusahaan penjualan air bersih swasta. Salah satunya penjual air bersih perseorangan di Desa Palembapang yang menjual air bersih menggunakan mobil tanki dan tower air bersih, Samad (34) yang berjualan air bersih sejak dua tahun terakhir. Ia mengaku sudah memiliki pelanggan sebanyak 100 orang lebih dengan cara membeli sistem online. Pemesanan air bersih yang biasa dilayani dengan cara menelpon terlebih dahulu setelah itu baru dikirim.

"Pembeli terutama yang sudah berlangganan akan menelpon kami dan air bersih akan kami antar ke rumah pemesan sesauai dengan jumlah pesanan menggunakan mobil tanki air,"ungkap Samad.

Ia mengaku menjual air bersih sebesar Rp75.000,- untuk air ukuran 1000 liter untuk jarak tertentu dan akan mematok harga lebih mahal jika jaraknya cukup jauh. Ia bahkan pernah mematok harga di atas Rp100.000 per 1000 liter karena menyesuaikan jarak tempuh pengiriman. Pengiriman antar kecamatan pun tetap dilayaninya terutama saat permintaan meningkat berbarengan dengan datangnya musim kemarau. Ia mengaku mendapat keuntungan bersih sekitar Rp500.000 perhari dari pengiriman air bersih permintaan warga dan memanfaatkan tidak beroperasinya PDAM yang ada di Kecamatan Penengahan.

"Lumayan banyak order dengan tidak beroperasinya PDAM dan terutama saat musim kemarau terkadang kami kewalahan karena armada mobil tanki yang terbata untuk pengiriman,"ungkap Samad.


Selain Samad, perusahaan penjualan air bersih RAJA juga setiap hari mendapat keuntungan dengan banyaknya masyarakat yang membeli air bersih. Selain memasok untuk kepentingan rumah tangga, beberapa perusahaan yang memiliki kebutuhan air cukup banyak melakukan pemesanan air bersih dari perusahaan RAJA. Kebutuhan akan air bersih yang dipenuhi oleh perusahaan RAJA diantaranya juga beberapa penjual air bersih isi ulang yang menjuaknya dalam bentuk air dalam galon. Selain itu beberapa kebutuhan lain untuk keperluan pembangunan tol Sumatera pun tergantung dari air bersih perusahaan tersebut.
[Henk Widi]
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: