SENIN, 5 SEPTEMBER 2016

MALANG --- Ratusan pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia kembali mengikuti Pekan Nasional Cinta Sejarah (PENTAS) yang diselenggarakan Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, Kementerian Pendidikan dan Budaya di kota Malang tepatnya di gedung Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang (FIS UM).


"Acara Pentas ini adalah kegiatan tahunan dari Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya dan tahun ini adalah penyelenggaraan yang keenam sejak pertama kali diadakan pada tahun 2010," jelas Kasubdit Sejarah Nasional Amurwani Dwi Lestari Ningsih, Jumat (2/9/2016).

Ia mengatakan, acara Pentas ini sendiri terdiri dari berbagai perlombaan yang berhubungan dengan sejarah dan dieperuntukan bagi pelaja Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat dan juga mahasiswa. Lomba-lomba tersebut diantaranya lomba karya tulis sejarah, lomba komik sejarah, lomba tutur sejarah dan lomba cerdas sejarah. Selain itu juga ada dialog kesejarahan serta pemutaran film dokumenter sejarah sekaligus sarasehan.

"Lomba karya tulis sejarah di peruntukan untuk mahasiswa, lomba cerdas sejarah dan tutur sejarah untuk pelajar SMA. Sedangkan komik sejarah di perlombakan untuk pelajar SMA dan mahasiswa,"paparnya.

Menurutnya para peserta lomba berasal dari 34 provinsi di Indonesia dengan total jumlah peserta sebanyak 600 orang. Jumlah peserta tersebut jauh lebih banyak dibandingkan dengan penyelenggaraan sebelumnya yang hanya di ikuti sekitar 300-400 orang.

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa untuk tim jurinya berasal dari berbagai elemen seperti dosen, komunitas dan sejarahwan. Bagi pemenang lomba nantinya akan mendapatkan hadiah berupa uang, piala dan juga sertifikat.

Sementara itu Amur menyampaikan bahwa untuk tema Pentas pada tahun ini adalah 'Nasionalisme dan Perang Kemerdekaan dalam Perspektif Lokal'.

"Yang dimaksud perspektif lokal  yaitu sebelum generasi muda mengenal sejarah nasional, ada baiknya mereka mengenal dirinya sendiri terlebih dulu. Kalau mereka sudah mengenal dirinya, barulah mereka mengenal lingkungan, sejarah daerahnya seperti apa, baru kemudian mereka bisa bicara mengenai sejarah nasional,"tukasnya. 

"Melalui sejarah, mereka akan tau karakter diri mereka sendiri sehingga pada saat ada serangan budaya asing mulai masuk, mereka sudah memiliki benteng yang kuat untuk itu," tandasnya.


Namun begitu ia juga menyayangkan masih banyaknya generasi muda yang beranggapan bahwa sejarah itu berhubungan dengan benda-benda tua atau kuno, padahal sejarah tidak selalu seperti yang mereka bayangkan.

"Kita tidak ingin mereka menganggap bahwa sejarah itu hanya masalalu, karena sejarah itu sebenarnya bisa juga digunakan untuk memprediksi keadaan di masa yang akan datang,"pungkasnya.
[Agus Nurchaliq]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: