JUMAT, 16 SEPTEMBER 2016
  
SUMENEP --- Setelah bertahun-tahun anjloknya harga garam di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, seringkali dikeluhkan oleh para petani daerah setempat. Pasalnya harga tersebut sangat tidak berpihak kepada petani, akibatnya mereka tidak bisa mendapatkan hasil yang menjanjikan dari hasil garapannya, sehingga pemerintah diminta memperhatikan nasib petani garam agar tidak terus menerus mengalami kerugian.

Suasana petani sedang mengangkut garam dari lahan garapannya
Selama ini meskipun harga garam di daerah ujung timur Pulau Madura ini cukup rendah, pemerintah setempat terkesan diam saja, karena ia tidak ikut berperan dalam mencarikan solusi agar garam yang dihasilkan petani tersebut memiliki nilai tawar lebih tinggi dan nantinya bisa membuat harga garam rakyat itu mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya.

“Kami minta pemerintah memperhatikan nasib petani garam yang ada di daerah ini, karena jika harga garam rakyat terus menerus anjlok, maka mereka akan selalu mengalami kerugian. Sehingga dari tahun ketahun penderitaan petani garam semakin lengkap, apalagi ditambah pada musim kali ini memasuki musim kemarau basah, dimana mereka tidak bisa memproduksi garam dalam waktu yang lama,” kata Syamsuri (30), salah seorang petani garam asal Desa Karang Anyar, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep, Jumat (16/9/2016).

Disebutkan, bahwa sampai sekarang ini perhatian pemerintah terhadap petani garam yang ada di daerah ini sangat minim, sehingga tak jarang petani merasa kecewa terhadap sikap pemerintah yang terkesan tidak ada kepedulian sama sekali. Karena hingga kini penderitaan petani garam cukup lengkap, baik dari rendahnya harga serta minimnya serapan garam rakyat, namun sayang itu tidak kunjung ada perhatian serius.


“Hingga kini perhatian pemerintah terhadap petani garam tidak ada sama sekali, padahal petani sering mengeluh dengan nasib yang dialaminya. Tetapi belum ada respon apapun dari pemerintah, makanya petani garam merasa kecewa dengan sikap pemerintah yang tak kunjung memperhatikan,” jelasnya.

Pihaknya berharap kedepan pemerintah daerah juga bisa ikut andil dalam mengatur regulasi harga garam rakyat, sehingga nantinya harga tersebut dapat berpihak kepada petani. Karena jika kondisi harga seperti saat ini penghasilan mereka dari memproduksi garam sangat minim, sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya akan kebingungan.

Sekedar diketahui harga garam rakyat sampai saat ini masih belum ada perubahan dari sebelumnya, yaitu untuk KW 1 harganya hanya Rp.500 per Kilogram dan KW 2 harganya sebesar Rp.450 per Kilogram. 
(M. Fahrul)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: