RABU, 21 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- Kebutuhan akan lahan pertanian jenis jagung dan kelapa sawit mengakibatkan beberapa ratus hektar lahan di register 1 Way Pisang mulai mengalami perubahan alih fungsi lahan. Lahan regsiter 1 yang sebagian sudah menjadi perkampungan dan lahan perkebunan, pertanian merupakan sisa sisa lahan tanah register 1 yang pernah dikelola oleh PT Jaka Utama untuk lahan penggemukan sapi dengan sistem Hak Guna Usaha (HGU). Selain pernah digunakan untuk penggemukan sapi lahan ratusan hektar yang sudah beralih fungsi tersebut akhirnya digunakan untuk proses penanaman pohon jati jenis Gamalina (jati putih) meski sempat gagal karena masyarakat menuntut lahan tersebut bisa dipergunakan untuk lahan pertanian.


Alih fungsi lahan hutan register 1 yang sempat dijadikan beberapa lahan usaha tersebut kini sudah berganti menjadi perladangan milik warga di sejumlah desa diantaranya Desa Kemukus, Desa Karangsari, Desa Gandri serta sejumlah desa yang ada di wilayah tersebut. Sebelum penebangan kayu dilakukan secara besar besaran, menurut salah satu tokoh masyarakat di Desa Gandri, Niti (60) wilayah yang dikenal dengan nama proyek tersebut merupakan kawasan hutan yang masih memiliki pepohonan berukuran besar. Keberadaan hutan di register 1 yang banyak memiliki perbukitan tersebut membuat masyarakat sekitar masih memiliki aliran aliran sungai yang digunakan untuk lahan pertanian sawah. Bahkan sempat ada sebuah waduk atau danau buatan yang sekaligus dipergunakan untuk tempat minum untuk peternakan sapi yang kala itu dikelola oleh PT Jaka Utama dengan sistem HGU.

"Dulu sempat banyak pohon pohon besar dan bahkan sebagian masih bisa menemui tanaman tanaman endemik yang ada di wilayah ini diantaranya kayu Merbau, Kayu Bendo, Kayu Laban, serta berbagai jenis kayu lain dan bahkan masih ada harimau, macan akar, namun kini sudah tinggal sejarah," ungkap Niti saat ditemui Cendana News di Desa Gandri, Kecamatan Penengahan, Rabu (21/9/2016)


Ia mengakui alih fungsi lahan dengan bentuk HGU pada lahan register 1 Way Pisang tersebut berakibat pasokan air semakin menipis dan bahkan sebagian warga di Desa Gandri harus membuat sumur untuk mendapatkan air dengan rata rata kedalaman mencapai 15-25 meter. Padahal sebelumnya saat hutan register 1 Way Pisang masih memiliki banyak pepohonan masyarakat masih bisa memanfaatkan belik (sumber mata air) yang ada di wilayah tersebut tanpa harus menggali cukup dalam. 

Salah satu faktor menghilangnya sumber mata air tak dipungkiri oleh Niti dan ratusan kepala keluarga yang tinggal di kawasan tersebut adalah penebangan kayu tanpa disertai penanaman kembali. Sebagian warga bahkan telah melakukan proses jual beli tanah di lahan register tersebut untuk dijadikan lahan pertanian diantaranya tanaman karet, kelapa sawit dan didominasi lahan pertanian jagung. Keberadaan lahan pertanian jagung bahkan mengakibatkan berbagai macam jenis kayu yang ada di wilayah tersebut habis ditebangi dan dampaknya kondisi tanah subur yang semula ada di wilayah tersebut berganti menjadi tanah padas.

"Memang salah satu hal yang membuat terjadinya penebangan hutan adalah sulitnya memperoleh kebutuhan untuk aktifitas sehari hari diantaranya kebutuhan bahan bakar, selain itu kebutuhan untuk bertani dengan cara cepat menghasilkan uang dengan cara menanam jagung dan menebang pohon," ungkap Niti.

Salah satu pemerhati lingkungan di Kecamatan Penengahan, Komarudin, mengungkapkan sebagian besar kawasan hutan register 1 Way Pisang sudah beralih fungsi menjadi lahan pertanian meski status masih menjadi milik Kementerian Kehutanan. Meski demikian sebagian masyarakat masih kurang memiliki kepedulian untuk mengelola kawasan tersebut menjadi kawasan hutan register dengan cara melakukan penanaman kembali tanaman kayu yang sebelumnya ditebang. Meski masih memilik nama kawasan register 1 Way Pisang sebagian besar lahan merupakan lahan perkampungan dan lahan pertanian yang sudah minim ditemui tanaman kayu besar.


Ia berharap ada kepedulian dari pihak pihak terkait untuk mengembalikan fungsi ketersediaan air dengan tetap mempertahankan sebagian wilayah sebagai sumber resapan air. Selain sebagian besar sudah dipergunakan untuk lahan pertanian, penggunaan lahan yang sudah tak digunakan untuk penanaman pohon mengakibatkan kesuburan tanah di wilayah tersebut semakin berkurang.

"Aktifitas ekspolitasi tanpa perencanaan atau penanggulangan atas kerusakan hutan yang digarap menyebabkan hutan semakin beralih fungsi," ungkap Komarudin.

Ia mengaku menyambut positif beberapa organisasi yang peduli akan keberadaan hutan diantaranya Pemuda pecinta alam (Pancala) yang telah melakukan langkah nyata dengan membuat lahan percontohan (demplot area) untuk penanaman kayu kayu kehutanan. Kayu kayu yang ditanam merupakan jenis tanaman berbagai jenis yang berfungsi sebagai sumber penghasilan masyarakat sekaligus dipergunakan untuk konservasi kawasan hutan diantaranya tanaman pala, kelapa, jengkol, petai serta tanaman produktif lain yang bisa dipergunakan untuk sumber cadangan air.

Ketua Pancala Lampung Selatan, Ibnu Kholdun, mengungkapkan kepada Cendana News, kerusakan hutan di Register 3 Gunung Rajabasa menjadi salah satu contoh kurangnya kepedulian masyarakat dalam menjaga hutan. Meski demikian Ibnu Kholdun mengajak masyarakat melakukan proses penghijauan kembali dengan mengajak menanam di kawasan yang perlu mendapat penanaman tanaman kembali diantaranya di Desa Babulang, Desa Pisang yang di sebagian wilayahnya masuk ke kawasan hutan.

Ibnu Kholdun bahkan berharap pemikiran masyarakat untuk mengelola hutan bisa diubah dengan menjadikan hutan sebagai sumber mata pencaharian tanpa merusak kawasan tersebut. Solusi efektif yang dilakukan Pancala Lampung Selatan diantaranya memberikan bibit tanaman jenis produksi yang saat ini disediakan oleh Pancala dengan harapan hutan Rajabasa masih tetap lestari dan sumber mata air bagi kebutuhan masyarakat masih bisa diperoleh.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: