SENIN, 5 SEPTEMBER 2016

JAKARTA --- Pengamat politik dari Monash Institute, Muhammad Nasih menilai sikap partai Gerindra yang tak lagi kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah saat sekarang dikarekan tidak lagi memiliki kekuatan moral.


Gerindra tidak mempunyai kekuatan moral yang kuat, karena diantara kadernya sudah terlibat kasus korupsi. Yang lebih memprihatinkan lagi, Gerindra sudah ditinggalkan Parpol yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih (KMP). 

"Maksud hati oposisi, namun ditengah jalan ditinggal oleh parpol-parpol koalisi. Sementara moralitas partai tidak cukup untuk menjadi oposisi sendiri,"sebut Nasih dalam keterangan tertulis yang diterima Cendana News di Senayan, Jakarta, Senin, (5/8/2016).

Dikatakan, kika Gerindra memiliki moralitas itu secara paripurna, maka walaupun sendiri pasti berani. Hal ini juga menderap langkah politiknya pasti akan terasa berenergi.

"Jadi kalau sudah tersentuh korupsi, seperti kasus M Sanusi, jangan coba-coba, sebab bisa-bisa diborgol dan masuk jeruji besi oleh yang sedang berkuasa," sebutnya.

Namun ia juga menyebutkan, ekonomi saat ini melorot, bahkan janji-janji pemerintah pun meroket. Banyak pelanggaran hukum dan etika bernegara yang terjadi.

Untuk itu, ia menyarankan agar Ketua Umum, Prabowo harus mengambil ketegasan menyatakan bahwa semua kader Gerindra harus benar-benar menjaga dan membangun moralitas politik untuk mengatakan yang benar itu benar dan yang salah harus dihentikan. Jika Gerindra tak bisa ambil momentum dengan menjadi oposisi yang kritis, maka, Gerindra akan menelan pil pahit di 2019 mendatang. 

"Gerindra tidak akan mendapatkan perhatian masyarakat. Bahkan bisa dianggap tidak punya kepedulian terhadap keadaan negara dan rakyat yang sekarang makin buruk,"tutupnya.
[Adista Pattisahusiwa]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: