JUMAT, 16 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- Paska harga tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram langka dan mahal di sejumlah kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan mengakibatkan sejumlah masyarakat beralih menggunakan bahan bakar kayu, arang kayu serta arang batok kelapa. Beralihnya penggunaan gas elpiji meski hanya sementara waktu tersebut memberi dampak positif bagi pedagang tungku abu yang ada di wilayah Kecamatan Palas yang merupakan pusat pengrajin gerabah diantaranya tungku, kuali, wajan dan sebagian pengrajin genteng dan batu bata.


Melonjaknya harga bahan bakar gas hingga mencapai Rp25ribu dari harga normal Rp22ribu mengakibatkan masyarakat kalangan bawah kesulitan. Sebagian warga di Desa Tanjungsari Dusun Kuningan Tengah memilih alternatif lain dengan menggunakan bahan bakar kayu dan arang kepala yang kini masih banyak digunakan oleh masyarakat ditambah dengan harga gas yang meningkat. Sebagian menggunakan tungku dari batu bata buatan sendiri dan sebagian menggunakan tungku produksi pengrajin yang banyak dijajakan keliling oleh pedagang.

Salah satu pengrajin pembuatan tungku abu di Dusun Blora Desa Sukamulya Kecamatan Palas Palas yang sejak puluhan tahun lalu menekuni pembuatan tungku tanah bernama Budiono ikut merasakan dampak dari kenaikan harga gas dengan melonjaknya permintaan tungku abu.

“Kalau berdasarkan hitungan kami selama hampir satu bulan ini permintaan tungku kayu meningkat bisa jadi karena harga gas elpiji naik dan sebagian banyak warga yang hajatan setelah lebaran Idul Adha tahun ini,”ungkap Budiono saat ditemui media Cendana News di Dusun Blora Desa Sukamulya Kecamatan Palas,Jumat (16/9/2016)

Budiono(49) mengungkapkan proses pembuatan tungku abu dari kayu sudah ditekuni di Way Jepara Lampung Timur sejak tahun 2002 lalu karena bahan baku berkurang di daerah tersebut lalu pindah pada tahun 2011 ke lokasi yang baru. Ia mengaku untuk satu unit tungku tanah saat masih berada di "tobong" atau tempat pembakaran, tungku tersebut akan dihargai Rp20ribu per unitnya,  sementara di daerah Serang harga awal akan mencapai Rp30ribu selanjutnya penjual yang akan menjajakan tungku bsa berkisar Rp40ribu hingga Rp45ribu.

Budiono mengaku selama satu bulan tempat pembuatan tungku dari tanah tersebut mampu memproduksi sekitar 800 unit dengan omzet sekitar 24juta kotor belum dipotong biaya operasional serta gaji karyawan yang bekerja bersamanya.

Budiono yang saat ini memiliki 6 orang anak tersebut mengaku akan terus menekuni usaha pembuatan tungku tanah liat, sebab usaha tersebut merupakan usaha yang menguntungkan bagi dirinya dan para pembuat batu bata.

"Usaha ini justru saling menguntungkan karena kami mengambil abu dari limbah abu para pembuat batu bata yang banyak terdapat di sekitar desa ini," ujar Budiono.

Meski masih menempati lahan seluas seperempat hektar yang disewanya dengan sewa Rp300ribu per tahun, Budiono mengaku ingin memiliki tanah sendiri sebab ia akan berpindah pindah mencari tempat yang bahan bakunya masih banyak, meskipun ia memiliki tempat tinggal di Way Jepara Lampung Timur.

Budiono berharap masih banyak warga yang menggunakan tungku tanah buatannya sebab meski zaman sudah modern namun banyak warga pedesaan yang masih menggunakan tungku tanah buatannya.

Menurutnya proses pembuatan tungku tanah terbilang sederhana yakni bahan baku abu dari pembakaran batu bata dicampur dengan lumpur rawa kemudian diaduk lalu dicetak dengan cetakan khusus yang terbuat dari semen.


"Kami awalnya menggunakan cara manual tapi untuk hasil lebih sempurna tanah kami olah dengan alat pengolahan molen sekitar setengah jam, kalau manual bisa lebih lama," ungkap Budiono.

Pengadukan sekitar setengah jam dengan cara diaduk menggunakan alat molen tersebut menelan biaya sebanyak Rp30ribu untuk ukuran satu mobil L300. Setelah diaduk maka selanjutnya "lumpur" yang sudah tercampur antara tanah, abu diletakkan di lubang pengadukan lalu dicampur dengan abu selama satu jam setengah kemudian dicetak.

Budiono yang mengaku dibantu oleh sebanyak 4 karyawan tersebut selanjutnya mencetak dengan cetakan semen sekitar 60 cetakan. Tungku tersebut dibuat dengan ukuran 32 centimeter dan lebar 31 centimeter untuk bisa menahan beban 10 kilogram.

Saat proses profil tungku yang dibuat belum memiliki lubang sejhingga proses selanjutnya oleh para pekeja tungku tanah liat tersebut diberi lubang menggunakan alat khusus lalu meratakan dasar tungku yang akan dipotong dan dihaluskan.

Setelah proses tersebut tungku tungku tanah tersebut bisa ditumpuk dengan rapi di lokasi yang sudah disiapkan dengan penataan batu bata serta diisi dengan sekam untuk proses pembakaran selama waktu yang sudah ditentukan hingga tungku tanah tersebut matang. 

Bahan baku untuk pembakaran berupa sekam dibeli dari penggilingan padi seharga Rp5ribu perkarung, sementara bahan baku abu dari pembakaran bata merah dibelinya dengan harga Rp3ribu perkarung.

Budiono mengaku, hari ini para pekerjanya membakar sebanyak  380 tungku yang dibakar menggunakan sekam selama 3 hari tiga malam untuk proses pematangan tungku yang sempurna.

Meski melakukan usaha tersebut cukup lama sejak tahun 1980-an, namun Budiono mengaku proses pembuatan tungku  tanah sangat mengandalkan panas dan musim kemarau sebab jika musim penghujan proses penjemuran akan berjalan  lambat dan biaya operasional yang dikeluarkan akan dua kali lipat lebih mahal.

Setelah selama tiga hari dibakar maka pembuatan tungku tanah tersebut selesai dan akan dikumpulkan di tempatr khusus menunggu untuk diangkut ke daerah tujuan. Untuk proses pengirman, Budiono mengaku melakukan pengiriman sendiri dan sesampainya di daerah tujuan yakni daerah Serang dan wilayah lokal maka akan dicari penjual yang akan menjajakan tungku tanah buatannya bahkan hingga keluar dari Pulau Sumatera.


Kenaikan harga elpiji ukuran 3 kilogram juga dirasakan pedagang eceran tungku tanah atau abu dengan cara menjajakan tungku menggunakan motor dengan dua rombong di sisi kanan dan kiri. Rasta (40) dalam sehari menjajakan sebanyak 10 tungku perhari ukuran kecil dan kadang kadang tungku ukuran besar 4 tungku. Ia mengaku permintaan tungku dalam sehari mencapai 20 tungku sehingga dalam sehari dirinya mengirim sebanyak dua kali ke sejumlah kecamatan.

“Sehari saya menjajakan tungku ke beberapa kecamatan bahkan saat ini tengah hari sudah pulang dan kembali mengambil di tempat pembuatan tungku” terang Rasta.

Tungku tanah atau abu tersebut dijual Rasta dengan harga mulai Rp30ribu-Rp40ribu untuk ukuran kecil dan ukuran besar Rp80ribu-Rp100ribu tergantung jarak tempuh konsumen yang akan membeli tungku yang dijualnya. Pemesan diantaranya sejumlah warung dan konsumen langsung sehingga dirinya memiliki dua tujuan diantaranya konsumen untuk dijual lagi atau langsung ke konsumen.

Faktor kelangkaan dan mahalnya harga elpiji ukuran 3 kilogram membuat permintaan tungku meningkat dan menjadi berkah dari berjualan tungku. Selain itu saat ini di beberapa desa mulai banyak warga yang hajatan sehingga permintaan tungku untuk keperluan dapur. Permintaan oleh warga dalam satu pembelian diantaranya rata rata membeli 4 hingga 8 tungku.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: