RABU, 28 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- Hujan disertai petir dan angin kencang yang melanda sebagian wilayah Lampung dari malam hingga dini hari mengakibatkan peralatan elektronik warga di sejumlah kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan mengalami kerusakan. 


Kerusakan pada jaringan listrik tersebut diantaranya terjadi pada gardu induk di Desa Kekiling perempatan Palas dengan dampak langsung jaringan listrik di wilayah tersebut meredup. Selain itu di wilayah Desa Kerinjing Kecamatan Rajabasa sejumlah rumah juga mengalami padam listrik secara mendadak.

Beberapa warga yang mengalami dampak dari sambaran petir tersebut diantaranya rumah milik Nurkholis, Marwoto, Manulang, Edi Suhardi dan beberapa warga di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan. Kerusakan peralatan listrik diantaranya kerusakan pada bohlam lampu yang dialami oleh Nurkholis sebanyak 6 bohlam lampu, Marwoto sebanyak 5 bohlam lampu pecah berikut televisi yang mengalami kerusakan. Edi Suhardi mengalami kerusakan pada sebanyak 5 bohlam lampu dan Manulang mengaku sebanyak 3 bohlam lampu pecah karena sambaran petir tersebut.

“Sejak terkena sambaran petir sempat hidup tapi sekitar lima menit kemudian mati dan selanjutnya hidup lagi kemudian saya telepon warga lain ternyata tidak mengalami mati listrik ternyata hanya di jalur listrik di beberapa rumah yang ada di sini” terang Nurkholis saat ditemui Cendana News di rumahnya sembari mengawasi perbaikan jaringan listrik oleh petugas PLN, Rabu (28/9/2016)


Kerusakan jaringan listrik tersebut menurut Nurkholis terjadi selama hampir delapan jam sebelum petugas PLN mendatangi rumahnya dan memperbaiki jaringan listrik yang ada di wilayah tersebut. Perbaikan jaringan listrik tersebut menurut Nurkholis dilakukan dari tiang listrik yang berada di tepi Jalan Lintas Sumatera yang menjadi pusat dari beberapa jaringan listrik rumah warga di Desa Pasuruan.

Akibat kerusakan beberapa boklam tersebut Nurkholis mengaku langsung membeli sebanyak 6 bohlam baru dan langsung diganti setelah petugas PLN datang ke rumah warga. Sebanyak 6 boklam dengan rata rata harga Rp38ribu tersebut menurut Nurkholis rata rata pecah dan terbakar akibat peristiwa sambaran listrik tersebut. Selain Nurkholis warga lain yang mengalami kerusakan pada peralatan listrik terutama bohlam lampu segera membeli bohlam baru untuk perbaikan.

Petugas dari pelayanan gangguan PLN cabang Kalianda ,Maryono, yang sekaligus tekhnisi mengaku sejak pagi sudah menangani sekitar 8 rumah yang mengalami gangguan listrik akibat sambaran petir tersebut. Ia mengaku rata rata kerusakan terjadi akibat sambaran petir meski bukan sambaran petir secara langsung melainkan pengaruh gelombang eletromagnetik yang berpengaruh pada jaringan listrik tersebut.

“Sebetulnya kerusakan diakibatkan terjadinya konektor dari jaringan utama yang terlepas dan berakibat jaringan listrik ke rumah warga terganggu bahkan merusak peralatan elektronik warga” terang Maryono.

Terkait kerusakan tersebut ia mengaku pihak PLN tidak akan memberikan ganti rugi karena peristiwa tersebut merupakan peristiwa alam yang tak dikehendaki. Ia juga menghimbau dalam beberapa pekan terakhir dan masih berpotensi terjadi hujan diharapkan warga segera melepas stop kontak listrik atau tidak menghidupkan peralatan elektronik terutama televisi, radio, handphone serta alat elektronik lain untuk menghindari kerusakan akibat petir.

Sebelumnya petir juga melanda rumah salah satu warga Desa Hatta Kecamatan Bakauheni yakni Supinah (40) seorang janda yang tinggal bersama orangtuanya. Ia mengaku petir yang terjadi bersamaan dengan hujan terjadi secara tiba-tiba bahkan menghancurkan sebagian genteng, plafon serta beberapa peralatan di rumah miliknya.


Supinah bahkan mengaku sempat merasakan sambaran petir dan mengaku langsung lemas dan terduduk di lantai. Ia sebelumnya sempat melepaskan kabel peralatan elektronik yang terpasang untuk menghindari sambaran petir lanjutan.

“Saya tiduran di depan televisi dan melihat percikan api yang berasal kabel yang tersambar petir tersebut” ujar Supinah.

Supinah mengaku sambaran petir berakibat genteng rumah yang ditinggalinya hancur, magicom rusak, televisi yang langsung dicabut pun diduga rusak karena tersambar petir. Beberapa peralatan elektronik lainnya pun rusak namun belum bisa dicek karena listrik belum menyala.

Ia mengaku kerusakan juga terjadi pada meteran, travo dan sekering milik warga pun hancur. Selain itu antena televisi yang ditopang menggunakan bambu sekitar 10 meter pun hancur berantakan.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: