MINGGU, 25 SEPTEMBER 2016

SOLO --- Peringati Hari Tani Nasional, di Solo, Jawa Tengah diwarnai dengan aksi unjuk rasa oleh puluhan mahasiswa. Dalam aksinya ini, mahasiswa prihatin dengan nasib petani yang kian lama semakin tidak jelas. Aksi kekesalan mahasiswa dari Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) diwujudkan dengan membakar orang-orangan sawah.   


“Dari tahun ke tahun nasib petani tidak ada yang jelas. Bahkan lahan pertanian terus menyusut banyak yang dialihfungsikan. Bagaimana kebijakan pemerintah yang seharusnya melindungi petani,” tegas Koordinator Aksi Alif Darman, dalam aksinya yang digelar di Bundaran Gladak, Minggu siang (25/9/16).

Aksi yang dilakukan dengan orasi dan membentangkan berbagai poster dan spanduk ini mengecam pemerintah Jokowi-JK yang dinilai selama 3 tahun  pemerintahannya tidak ada perubahan nasib yang diberikan kepada petani. Menurut mahasiswa, petani hingga saat ini tidak pernah mendapat hak sesuai dengan Undang-Undang Agraria yang sudah 56 tahun ada.


“Orang-orangan sawah ini simbol matinya petani. Orang-orangan sawah yang menjadi alat pengusir burung petani kini sudah tidak ada lagi, karena lahan pertanian kian habis dan nasib petani tak kunjung jelas” lanjut Alif. 

Dalam aksi Hari Tani, ada sejumlah tuntutan mahasiswa yang ditujukan kepada Pemerintahan Jokowi-JK. Diantaranya, mahasiswa menuntut pemerintah menjalankan Reformasi Agraria yang sejati, mahasiswa menuntut pemerintah menyelesaikan kasus-kasus Agraria yang terjadi di Indonesia, mendorong Reformasi Agraria dimasukkan dalam kurikulum Perguruan Tinggi. 


Selain itu, mahasiswa juga menuntut pemerintah Jokowi-JK menolak impor segala pangan dari Luar Negeri serta  menuntut pemerintah mensejahterakan kehidupan kaum marhaen atau pertani miskin Indonesia. 

“Kami di sini menegaskan jika nasib petani di Indonesia jauh dari kata sejahtera. Pemerintah Jokowi-JK yang notabenenya sebagai pemimpin yang berasal dari rakyat kecil harus memberi bukti dengan mensejahterakan kaum marhaen,” tutupnya dalam aksi tersebut. 
(Harun Alrosid)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: