SABTU, 24 SEPTEMBER 2016

SOLO --- Hari Tani Nasional diperingati ratusan warga Desa Pendem, Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah dengan menggelar Pagelaran Jagat Tala. Kegiatan yang dihelat ruang terbuka itu guna menggeliatkan kembali kaum muda untuk mencintai profesi petani sebagai penopang pangan nasional.


Ketua Panitia Ponco Yulianto mengungkapkan, kegiatan Pagelaran Jagat Tala itu digelar berawal dari keprihatinan terhadap profesi petani yang kian tahun kian ditinggalkan masyarakat Indonesia. Potensi lahan pertanian dengan kesuburan tanah Indonesia sebenarnya menjadi karunia tersendiri, sehingga masyarakat Indonesia bisa memanfaatkan dengan baik. 

”Tapi ironisnya petani di Indonesia semakin menurun, dan saat ini jika kita lihat petani yang masih bertahan tidak ada yang muda. Mereka usianya rata-rata 45 tahun ke atas. Untuk generasi muda sudah sangat jarang sekali,” papar Ponco saat ditemuai Cendana News, disela-sela kegiatan pada Jumat malam (23/9/16).


Pagelaran Jagat Tala yang dipentaskan barisan muda Karang Taruna Desa Pendem itu menceritakan sebuah tatanan masyarakat yang mempunyai peran dan fungsi masing-masing. Sesama warga masyarakat saling bekerjasama untuk membangun sebuah kehidupan yang harmoni yang di dalamnya terdapat sebuah kebersamaan.

”Jagat sendiri berarti dunia, sedangkan Tala adalah rumah tawon (lebah). Melalui pagelaran ini kita ingin membangun sebuah masyarakat seperti halnya membangun sarang lebah, di mana lebah mempunyai peran dan tugas masing-masing. Mereka hidup bekerjasama dalam kebersamaan,” ungkapnya. 


Demikian juga masyarakat, dengan kebersamaan diharapkan dapat membangun tatanan masyarakat yang kokoh dan tidak mudah terpecah belah oleh kepentingan-kepentingan pribadi ataupun kelompok. Pagelaran Jagat Tala sendiri digelar selama 4 hari 3 malam, yang resmi dibuka pada Jumat malam kemarin. Setidaknya terdapat 17 paguyuban Karang Taruna di Desa Pendem yang bakal memeriahkan pagelaran dalam rangka hari tani tersebut. 

“Mereka menampilkan pertunjukan yang sesuai dengan budaya lokal. Seperti geguritan, prolog, teater, dan ada juga monolog” terangnya.


Khusus malam pertama, tema yang ditampilkan dalam Pagelaran Jagat Tala ini adalah memberikan pemahaman akan pentingya mencintai lahan pertanian. Yakni penggambaran terhadap penggunaan pupuk kimia dan pupuk organik terhadap lahan pertanian. 

“Edukasi ini kita tampilkan dalam bentuk seni pertunjukan drama. Diharapkan setelah masyarakat hadir dan menyaksikan langsung, yang semula tontonan menjadi tuntunan dan setelah pulang dapat diambil hikmahnya,” pungkasnya. 
(Harun Alrosid)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: