KAMIS, 1 SEPTEMBER 2016

PONOROGO --- Perizinan Sekolah Insklusi Pesantren Anak Sholeh (PAS) Baitul Quran Ponorogo meski sudah tiga tahun mengajukan, hingga saat ini belum keluar ijinnya. Sekolah ini sebelumnya sudah memiliki cikal bakal sebagai sekolah inklusi sejak tahun 2009 dengan animo masyarakat tinggi. Jika tidak segera memiliki ijin secara legal maka kemajuan sekolah ini tergantung.


Terutama kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pendidikan bagi anaknya. Kondisi sekolah inklusi memiliki fasilitas yang cukup dengan guru dan pendamping untuk setiap siswa. Biaya pendidikan mencapai Rp 450 ribu untuk 20 kali pertemuan.

Kepala Sekolah PAS Baitul Quran, Hasan Damanhuri menjelaskan, perizinan yang dilaluinya dimulai sejak tahun 2010 dimana banyak siswa tak hanya autis tapi juga Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) sehingga pihaknya mengajukan izin.

"Namun langsung ditolak karena tidak ada regulasi yang jelas," jelasnya saat ditemui Cendana News di lokasi, Kamis (1/9/2016).

Kemudian pihak Dinas Pendidikan (Dindik) Ponorogo mengatakan, sekolah untuk sekolah Autis tidak ada aturan. Meskipun demikian tetap disuruh merubah menjadi statusnya menjadi sekolah inklusi. Akhirnya di tahun 2013, Hasan kembali mengajukan izin dengan perubahan sesuai yang diinginkan Diknas.

"Tapi Diknas belum juga mengeluarkan izin, padahal sudah sesuai yang diinginkan mereka," ujarnya.

Pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bahkan pernah datang ke sekolah inklusi ini dan memberikan izin. Tak hanya itu Disdik Provinsi Jawa Timur juga memberikan ijin.

"Lagi-lagi mentok di tingkat Kabupaten. Entah apa alasannya, mereka tidak mau mengatakan secara gamblang, saya terkesan dipingpong, Kemendikbud sudah Oke, provinsi juga memperbolehkan tapi Disdik Ponorogo tak kunjung mengeluarkan izin," terangnya.

Dampak yang paling utama adalah tidak adanya bantuan dari pemerintah untuk operasional sekolah tersebut. Sejak didirikan hingga sekarang, sekolah mengandalkan donatur.

Salah satu guru, Barokatin Muziati mengatakan, jumlah ABK yang telah ditangani sekolahnya mampu berbaur dengan siswa reguler lainnya di sekolah umum. Salah seorang anak penderita Attention Deficit Hyperactivity Dissorder (ADHD) kini sekolah dan selalu juara kelas.

Empat anak penderita autis murni kini telah sekolah dan selalu mendapat nilai bagus. "Kami memang terus berhubungan dengan mantan wali murid untuk mengetahui perkembangan anak," tandasnya.

Klaim Kepala sekolah Inklusi Pesanntren Anak Sholeh (PAS) Baitul Quran selama tiga tahun dipingpong Dinas Pendidikan (Dindik) Ponorogo, dibantah. Pihak dindik Ponorogo merasa tidak mempermainkan izin pendirian sekolah tersebut.

"Jadi, lembaga harus mendirikan sekolah reguler terlebih dahulu. Baru inklusi itu merupakan salah satu program dari sekolahnya. Kami tidak pingpong," terang Kabid Dikluspora Dinas Pendidikan Ponorogo, Rudi Hantoro.

Menurut Rudi, terkait pengajuan pendirian Sekolah Inklusi Pesantren Anak Sholeh (PAS) Baitul Quran, Ngabar, Siman, lembaga tersebut memang sudah mengajukan tiga tahun lalu. Hanya, lembaga harus memiliki sekolah reguler terlebih dahulu. Kini, sekolah reguler sudah berdiri.

"Namun masih harus dipastikan dulu dengan cek lokasi. Jika semua persyaratan itu lengkap dan sesuai standar kelayakan, cepat kok terbit izinnya," pungkasnya.
[Charolin Pebrianti]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: