SELASA, 6 SEPTEMBER 2016

BATU --- Pertanian organik adalah salah satu sistem budidaya pertanian yang ramah lingkungan karena hanya mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan kimia sintetis, seperti yang sekarang mulai diterapkan oleh sejumlah petani di wilayah kelurahan Temas kota Batu Jawa Timur.


Taslan (49) salah seorang petani organik yang sekaligus menjabat sebagai ketua kelompok tani organik se-kelurahan Temas mengatakan bahwa pertanian organik ini sebenarnya merupakan program dari pemerintah kota Batu yang ia coba terapkan ke dalam sistem pertaniannya.

"Saya dan beberapa orang petani di kelurahan Temas yang dulunya menggunakan sistem pertanian konvensional dengan pemakaian bahan kimia yang cukup banyak, dalam dua tahun belakangan ini kami sudah mulai menerapkan pertanian organik ramah lingkungan yang nyatanya lebih menguntungkan baik dari sisi kesehatan maupun penghasilan, dan sekarang kami sudah memiliki sertifikat organik,"ungkapnya saat berada di kebunnya, Selasa (5/9/2016).

Namun begitu ia juga menyadari bahwa memang tidak mudah merubah kebiasaan masyarakat untuk hidup sehat, termasuk mengajak para petani konvensional untuk beralih ke pertanian oraganik.

"Keinginan kami awalnya hanya ingin membentuk keluarga kecil yang sehat dengan sayuran organik terlebih dulu. Setelah itu baru kita pikirkan bagaimana caranya untuk meningkatkan pendapatan dari masing-masing petani,"paparnya.

Lebih lanjut Taslan mengatakan, untuk menarik petani lainnya agar beralih ke organik ia berani membeli hasil panen dari para petani dengan harga yang lebih tiggi dan tetap, tidak bergantung naik turunnya harga di pasaran. Selain itu ia juga membantu para petani dalam pola tanam, pemupukan dan pembibitan.

Taslan kini juga sudah mulai memasarkan produk sayuran organiknya ke beberapa suplayer di kota Malang bahkan produknya sudah masuk ke supermarket Lay-lay dengan merek dagang 'Be-Life'. Untuk harga jual sayuran organiknya yang berupa daun-daunan seperti bayam, kangkung maupun sawi ia mematok harga rata-rata Rp.20 ribu per kilogram. Sedangkan harga sayuran yang biasa dijadikan dalam menu-menu hotel seperti bit harganya bisa lebih mahal.

"Jadi kalau organik bedanya yang menentukan harganya adalah petani sendiri, sedangkan kalau konvensional yang menentukan harga adalah tengkulak,"ujarnya. 

"Sedangkan untuk komoditas sayuran yang di tanam kita sesuaikan dengan keinginan pasar,"tambahnya.

Menurutnya, untuk perawatan tanaman baik secara konvensional maupun organik sebenarnya sama saja, tetapi jika pertanian organik mulai pupuk, hingga obat untuk hama bisa disediakan sendiri oleh petani sehingga berapapun harga jualnya nanti, petani tidak akan rugi karena semuanya bisa diproduksi sendiri. Petani hanya tinggal fokus ke tenaga kerjanya saja.

"Jadi jika petani tetap bertahan di konvensional maka petani akan merugi karena meskipun mutunya hasil panennya bagus tetapi tetap saja harganya murah. Belum lagi biaya pupuk dan pestisida yang harganya cukup mahal, semua itu harus diperhitungkan,"terangnya.


Ia juga mengatakan, pertanian organik adalah sistem budidaya yang sangat ramah lingkungan. Dengan pertanian organik, kita tidak membunuh hewan tetapi kita menghindarkan tanaman budidaya dari serangan hama. Hama-hama tersebut bisa di siasati dengan memanfaatkan apa yang ada di sekeliling kita seperti daun paitan dan daun mindi sebagai pestisida alami, bunga matahari sebagai perangkap hama, kenikir dan juga serai merah.

"Dari pihak konsumen sendiri sekarang tidak menuntut terlalu banyak, meskipun sayurannya berlubang mereka tidak mempermasalahkannya selama sayuran tersebut merupakan sayuran organik,"ucapnya. 

Untuk prospek ke depan, pertanian organik akan terus berkembang tetapi sayangnya petani kita masih takut tidak memiliki pasar. Jadi khusus untuk petani organik kelurahan Temas kami akan membantu memasarkan produk sayur organik mereka. 

"Namun bagi daerah di luar Temas yang ingin belajar pertanian organik disini kami persilahkan sehingga kita bisa belajar bersama-sama agar tercipta masyarakat yang benar-benar sehat,"pungkasnya.
[Agus Nurchaliq]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: