SABTU, 10 SEPTEMBER 2016

PONOROGO --- Usai diguyur hujan lebat, Jumat (9/9/2016) petang, petani di Desa Kunti Kecamatan Bungkal, Ponorogo mengeluhkan sawah mereka yang tergenang air. Pasalnya para petani ini menanam jagung yang usianya baru 1-2 minggu. Jika terlalu banyak air diawal masa tanam maka bisa dipastikan tanaman jagung tersebut mati.


"Saya kira meskipun hujan lebat, airnya tidak sampai menggenang, ternyata malah kayak banjir," jelas Sri Widodo (55 tahun) saat ditemui Cendana News di lokasi, Sabtu (10/9/2016).

Air yang menggenang tersebut tidak hanya terjadi di sawah Sri Widodo saja, namun juga menyerang sawah lain salah satunya milik Partimah (80 tahun) warga Desa Bancar Kecamatan Bungkal, Ponorogo.

"Padahal baru ditanam, saya kira sudah aman untuk ditanami. Ternyata terkena hujan semalam saja langsung banjir," imbuh ibu dua orang anak ini.

Menurutnya, meski baru memasuki awal musim tanam dirinya sudah rugi. Penyiapan lahan yang dilakukan mulai pengolahan lahan seperti pengairan, traktor dan menyewa pekerja untuk menanam biji jagung.


"Hitungannya sudah rugi, habis ini mati semua jagungku yang baru ditanam kalau kena air terus seperti ini," cakapnya.

Tapi dirinya masih bersyukur karena biji jagung yang ia tanam merupakan hasil hibah dari kelompok tani. Per satu orang petani mendapatkan jatah 5 kg. 

"Untungnya benih jagung tidak beli, jadi ruginya berkurang sedikit," tandasnya.

Meski mengaku pasrah dengan musim yang tak menentu dirinya tetap akan bertani. Usaha yang ia geluti saat ini hanya dengan menanam padi atau jagung. 

"Kalau jagung mati mungkin saya ganti padi saja, kalau padi tidak apa-apa kena genangan air," pungkasnya. 
(Charolin Pebrianti).
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: