SENIN, 19 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- Masyarakat petani yang tergabung dalam beberapa kelompok tani (Poktan) dan gabungan kelompok tani (Gapoktan) mulai mendapat perhatian dari pihak terkait dalam upaya menyiapkan modal untuk usaha sektor pertanian. 


Upaya pemberian bantuan bagi kelompok tani yang ada di wilayah Kecamatan Candipuro Kabupaten Lampung Selatan dilakukan oleh perusahaan distribusi dan pengolahan batubara, PT. Bukit Asam (Persero) Tarahan dengan sistem pinjaman dengan bunga rendah. Sebanyak 18 kelompok tani dengan rata-rata anggota sebanyak 10 orang dan tergabung dalam Gapoktan Karya Guna, Desa Karya Mulyasari bahkan menerima kesempatan kredit lunak dari perusahaan yang ada di wilayah Lampung tersebut untuk peningkatan sektor pertanian.

Salah satu anggota kelompok tani, Juhari (34) mengaku bantuan berupa kesempatan mengajukan pinjaman lunak merupakan sebuah kesempatan langka yang diberikan sebuah perusahaan. Karenanya ia mengaku akan menggunakan kesempatan tersebut untuk melakukan peminjaman untuk modal menanam padi pada musim tanam berikutnya. Peminjaman tersebut diharapkan bisa digunakan untuk membeli bibit, biaya operasional serta perawatan untuk pembelian pupuk dan obat obatan. 

"Selama ini kendala yang dihadapi petani adalah terjebak dalam pinjaman dengan bunga tinggi oleh rentenir atau bos pupuk yang mengakibatkan kami merugi apalagi saat hasil pertanian dijual dengan harga rendah, hutang malah menumpuk," ungkap Juhari salah satu anggota kelompok tani di Kecamatan Candipuro, Senin (19/9/2016).


Pola meminjam pada bos atau pemilik modal dengan bunga tinggi untuk melakukan kegiatan pertanian menurut Juhari kerap menjadi kebiasaan petani karena keterbatasan modal. Peminjaman dilakukan biasanya berbentuk uang tunai, modal pupuk dan pestisida yang dihutang sehingga petani kerap tidak merasakan hasil dari usaha pertanian bahkan menguntungkan pihak pemberi modal yang mematok bunga tinggi terutama para rentenir.

Pemberian bantuan berupa pinjaman lunak berkonsep Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan PT. Bukit Asam (Persero) menurut asisten II Bidang ekonomi dan pembangunan setdakab Lampung Selatan, Ir.Erlan Murdiantono merupakan upaya untuk meningkatkan pertanian di Lampung Selatan sehingga bisa dimanfaatkan sebaik baiknya untuk masyarakat petani. Upaya pemberian pinjaman lunak dengan bunga rendah tersebut menurut Erlan Murdiantono merupakan upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan serta mendidik petani dengan disiplin melakukan pembayaran karena bunganya rendah.

Ia berharap petani bisa menjaga kepercayaan yang diberikan oleh perusahaan yang telah memberikan pinjaman lunak dengan cara mengangsur secara rutin dan jangan menunggak. Bunga yang rendah dan segala persyaratan yang mudah diantaranya merupakan anggota kelompok tani aktif merupakan cara perusahaan untuk membantu petani meningkatkan hasil pertanian.

General Manager PT. Bukit Asam (Persero), Wibisono, dalam upaya memberikan bantuan kredit lunak kepada petani tersebut mengungkapkan CSR perusahaan dalam bentuk pemberian pinjaman lunak tersebut disalurkan bagi beberapa kelompok diantaranya sebanyak 8 kelompok menererima penyaluran dana sebesar Rp450 juta untuk pengelolaan usaha tani. Proses pengembalian dengan jangka waktu selama 12 bulan dengan dua kali cicilan tersebut bisa dinikmati petani dengan jumlah besaran pinjaman setiap kelompok berkisar Rp10juta-Rp40juta.


Berdasarkan perhitungan, bunga yang dibebankan kepada para petani peminjam terhitung hanya sebesar 0,5 persen yang tidak terlalu memberatkan petani peminjam modal tersebut. Kemitraan dengan petani oleh PT Bukit Asam menurut Wibisono merupakan upaya mendukung pemerintah Kabupaten Lampung Selatan dalam memperdayakan petani yang berimbas pada peningkatan hasil pertanian. Ia berharap penerima bantuan memanfaatkan bantuan pinjaman lunak tersebut dengan cara melakukan pengolahan lahan pertanian dengan intensif dan mendapat dukungan dari para penyuluh pertanian untuk memperoleh hasil yang lebih baik.

Berdasarkan pengalaman petani di wilayah Kecamatan Candipuro beberapa persoalan yang dihadapi petani di wilayah tersebut adalah hama dan banjir. Akibat serangan hama dan bencana banjir sebagian petani terpaksa harus merugi dan kehilangan modal untuk usaha petani. Selain mendapat bantuan berupa pinjaman lunak beberapa petani meminta agar infrastruktur untuk lahan pertanian berupa tanggul, irigasi lebih diperhatikan oleh pemerintah karena infrastruktur yang baik merupakan modal cukup besar bagi petani selain modal finansial.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: