JUMAT, 2 SEPTEMBER 2016

LARANTUKA --- Memasuki usia yang ke-68, Polwan Polres Flores Timur diminta bukan hanya bertindak sebagai obyek tapi sebagai aktor penting yang menentukan terwujudnya revolusi mental di internal Polri. Demikain disampaikan Kapolres Flotim, AKBP Yandri Irsan saat peringatan HUT Polwan di aula Senaren hotel Tresna, Jumat (2/9/2016).


Dikatakan Irsan sapaannya, dengan bertambahnya usia Polwan bertambah pula semangat pengabdian dan kontribusi yang diberikan, baik pada institusi Polri maupun pada seluruh masyarakat.

"Eksistensi Polwan sebagai garda terdepan dalam mencegah dan menangani kasus pelecehan seksual, trafficking dan kekerasan dalam rumah tangga sangat diharapkan masyarakat,” ujarnya.

Ditambahkan Irsan, hal tersebut dikarenakan naluri keibuan seorang Polwan dan sikap simpatik terhadap berbagai kasus yang terjadi. Ini harus dikedepankan oleh anggota Polwan yang bertugas pada unit PPA sehingga masyarakat benar-benar merasa terlindungi dan diayomi.

Diakhir amanatnya, Kapolres Flores Timur  meminta agar Polwan bisa menunjukkan kerja nyata dalam tugas seiring dengan bertambahnya usia Polwan.Tingkatkan pembinaan Polwan khususnya terkait penggunaan media dan lakukan pelatihan fisik dan mental sehingga Polwan selalu siap tampil prima dan profesional. 

“Jadilah srikandi-srikandi kebanggaan Polri, pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat yang simpatik dan humanis. Dan jaga nama baik insitusi Polri dengan sikap dan prilaku yang pantas serta terhormat bagi seorang Polwan," pesannya..

Dalam acara syukuran tersebut Bripka Yustina B. Keraf sebagai Polwan tertua di Polres Flores Timur mengambil bagian untuk membacakan sejarah terbentuknya Polwan yang mana saat itu dipelopori oleh enam orang wanita tangguh asal Sumatera Barat yakni Mariana Saanin Mufti, Nelly Pauna Situmorang, Rosmalina Pramono, Dahniar Sukotjo, Djasmainar Husein, dan Rosnalia Taher.

Keenam perempuan itu mulai mengikuti Pendidikan Inspektur Polisi di Sekolah Polisi Negara Bukittinggi pada 1 September 1948. Tanggal itulah yang kemudian dijadikan sebagai hari lahirnya Polisi Wanita.


Saat itu, kata Yustina, pemerintah darurat Republik Indonesia yang berada di Kota Bukittinggi harus menangani arus pengungsian besar-besaran akibat agresi militer Belanda. Pengungsian besar-besaran itu berpotensi menimbulkan masalah jika ada penyusup di antara pengungsi yang masuk ke wilayah-wilayah yang dikuasai republik.

“Para pengungsi perempuan menolak digeledah oleh polisi pria sehingga direkrutlah para perempuan untuk dididik menjadi Polwan,”terangnya.

Acara syukuran tersebut dihadiri oleh Dandim 1624 Flotim Letkol Inf. Dadi Rusyadi beserta istri, perwira Kodim 1624 Flotim, perwira Polres Flores Timur, ibu–Ibu Persit Kartika Candra Kirana, ibu–Ibu Bhayangkari, ketua pengadilan negeri Larantuka dan Sekda Flores Timur.
[Ebed De Rosary]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: