KAMIS, 29 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- Pangsa buah lokal terhadap total buah yang dikonsumsi masyarakat masih besar dan masih banyak petani yang belum membudidayakan buah lokal. Impor buah dari luar negeri bahkan menjadi kebutuhan dan membanjir pasar pasar buah. Kondisi tersebut membuat Idi Bantara prihatin dan berusaha mencari cara untuk mengembangkan buah lokal.


Lebih dari 80 persen, ungkap Idi Bantara disebutkan oleh Kementerian Perdagangan kebutuhan masyarakat akan buah meski pertumbuhan buah impor sudah lebih besar dibanding pertumbuhan produksi lokal, rata-rata pertumbuhan buah impor mencapai 14 persen. Ini yang perlu menjadi catatan petani buah nusantara untuk mencari solusi terbaik agar bisa mengembangkan potensi buah lokal.

Idi mengakui kondisi seperti tersebut, sudah saatnya masyarakat bangga dan menjadikan buah lokal dapat sebagai salah satu usaha yang bisa dikembangkan oleh para petani. Ia bahkan mencontohkan pengembangan buah lokal layak dicontoh seperti yang dilakukan oleh Istok Suwarno pengembang klengkeng itoh di Prambanan Jawa Tengah.


Dengan cara demikian nantinya masyarakat lokal bisa mengembangkan buah lokal yang dapat menjadi produk nasional yang buahnya dicintai dan ada di setiap wilayah dan dikonsumsi masyarakat Indonesia kemudian secara perlahan bisa bersaing dengan produk impor bahkan dapat mengekspor buah tropis Indonesia.

“Sebagai usaha pengembangan memang membutuhkan proses dan niat dari para ahli pertanian untuk bisa mengembangkan varietas varietas unggulan lokal seperti yang dilakukan di Lampung dengan mengembangkan durian khas Lampung” terang Idi Bantara saat berbincang dengan Cendana News, Kamis (29/9/2016)

Ia mengungkapkan pendekatan sederhana ini dapat dilakukan oleh penyuluh pertanian, kehutanan kepada petani, selain itu upaya pengembangan buah lokal dilakukan sebagai upaya warga Indonesia mencintai produknya sendiri, produk dalam negeri. Untuk itu kita sudah saatnya melakukan penanaman dan pemeliharaan  tanaman secara intensif dalam pengembangan buah lokal. Meski ia tidak menampik di kalangan petani lokal nama nama buah berbau luar negeri lebih mentereng diantaranya jambu Bangkok, durian montong Thailand, Pepaya California yang sebetulnya di Indonesia juga memiliki buah serupa.


Idi Bantara yang gencar mendampingi petani di Kabupaten Pesawaran dalam pengembangan buah pala, di Kabupaten Pringsewu dalam pengembangan buah mangga, Kabupaten Tanggamus dalam pengembangan buah Alpukat dan beberapa kabupaten lain di Lampung mengaku masih melihat potensi yang besar dalam pengembangan buah lokal. Ia yakin meskipun Indonesia di kepung buah-buahan impor, namun  Indonesia memiliki potensi lahan yang subur dan luas mampu memproduksi buah tropis sangat besar.

Salah satu cara agar jadi penghasil buah tropis adalah dengan menanam bibit buah tropis yang berkualitas seperti klengkeng, durian, manggis dan pisang, alpukat, mangga, matoa, cempedak, nempelam, belimbing serta berbagai jenis tanaman buah lokal pada lahan petani kita. Ia bahkan melakukan pendampingan kepada petani cara pengolahan dan penyiapan bibit di lahan pertanian yang bisa diterapkan dengan sistem tumpang sari.

“Di beberapa wilayah lahan pertanian sawah petani kita beri bibit buah yang ditanam tidak mengganggu tanaman utama seperti padi sehingga petani bisa menghasilkan buah diantaranya alpukat dan mangga” ungkap Idi.

Selain melakukan pendampingan petani ia juga fokus melakukan pembuatan bibit tanaman buah dengan pola yang intensif. Setelah bibit buah tersebut siap ditanam ia bahkan menggratiskan bibit buah tersebut agar ditanam oleh masyarakat agar penanaman buah lokal semakin banyak dilakukan masyarakat. Pembuatan bibit oleh Idi Bantara,S.Hut.T,M.Sc yang merupakan salah satu orang yang berkomitmen ingin memberdayakan masyarakat dari sektor kehutanan. Laki laki murah senyum asal Solo Jawa Tengah  ini mengaku membuat alat yang diberi nama Media Semai Cetak (MSC) karena tergerak untuk mencari solusi terbaik membuat pembibitan yang efektif dan efesien.


Karenanya saat ditugaskan di Kementerian Kehutanan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Way Seputih Way Sekampung (BPDAS-WSS) ia menciptakan alat yang diberi nama Media Semai Cetak. Pembuatan media tersebut ia praktekkan saat ia ditugaskan di Persemaian Permanen BPDAS-WSS.

Kebutuhan akan bibit berkualitas menurut Idi Bantara dan terutama pencapaian jumlah sesuai waktu kebutuhannya sangatlah diperlukan, maka inovasi untuk mencapai tujuan tersebut sangat diperlukan guna mendukung sistem produksi bibit secara mudah dan efesien.

Salah satunya adalah alat pencetak media semai yang menurut Idi disebut dengan Media Semai cetak atau dipopulerkan dengan nama MSC. MSC merupakan solusi mudah memproduksi bibit masal praktis dan tepat guna dan menghasilkan bibit bermutu.

Beberapa keunggulan alat MSC ciptaan Idi Bantara diantaranya MSC mudah dibawa (portable), praktis dalam pemakaian, mudah dalam mengejar pencapaian target produksi dan efesien biaya penyulaman. Alat ini selain digunakan menyemai tanaman hutan, juga bibit holtikultura, perkebunan, digunakan juga sebagai pencetak pupuk tablet. Pekerja yang terampil menurut Idi dalam satu tim 4 orang/ hari mampu memproduksi 50.000 media cetak.

Penerapan penggunaan MSC diterapkan juga dalam pembuatan bibit buah lokal yang menurut data sudah tersebar di beberapa kabupaten khusus untuk buah buah lokal. Ia berharap masyarakat semakin bisa mencintai buah lokal yang cocok tumbuh dan berkembang di wilayah Indonesia terutama di Lampung.

Berkat usahanya tersebut tak mengherankan sebagian masyarakat di Lampung sudah mulai memetik hasilnya dan sebagian mengaku mendapat bibit dari Idi Bantara. Salah satunya bibit kelengkeng yang dikembangkan oleh Idi Bantara dinikmati masyarakat di Pringsewu dan ditanam di lahan pertanian sekaligus kolam ikan.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: