SABTU, 17 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- Masyarakat di sekitar kaki Gunung Rajabasa Kabupaten Lampung Selatan yang berada di wilayah Kawasan Hutan Lindung Gunung Rajabasa memiliki wilayah yang cukup potensial untuk pengembangan lahan pertanian, perkebunan dan perikanan. 


Salah satu potensi yang menjanjikan tersebut diantaranya ketersediaan air yang mengalir sepanjang waktu tanpa mengenal musim akibat pasokan air dari Gunung Rajabasa bisa dinikmati masyarakat saat musim kemarau maupun musim penghujan. Selain itu lokasi yang subur membuat masyarakat di sekitar Gunung Rajabasa berprofesi sebagai petani dan pekebun dengan kondisi tanah yang cukup subur. Beberapa petani di Desa Kerinjing Kecamatan Rajabasa yang berada di kawasan pesisir bahkan memanfaatkan potensi lahan perkebunan, pertanian sebagai tempat budidaya perikanan air tawar.

Salah satu petani di Desa Kerinjing, Sodari (34) mengaku sudah membudidayakan berbagai jenis ikan yang menilai nilai jual tinggi diantaranya ikan patin, ikan lele, ikan gurame serta ikan nila. Sementara beberapa warga lain memelihara ikan jenis belut, ikan sepat, ikan lembat serta beberapa ikan air tawar. Lokasi yang berada di dekat aliran air dimanfaatkan warga dengan membuat saluran saluran air menggunakan bambu, selang plastik dan sebagian menggunakan saluran permanen dengan cara membangun sendiri menggunakan semen dan batu. Sodari mengaku sudah melakukan budidaya ikan gurame sejak beberapa tahun lalu.

"Selain mudah perawatannya dan air yang mengalir cukup lancar dari Gunung Rajabasa nilai jual ikan gurame juga cukup tinggi dengan banyaknya permintaan dari sejumlah rumah makan yang menyajikan menu ikan gurame bakar" ungkap Sodari saat ditemui Cendana News sedang mencari pakan ikan yang dipeliharanya, Sabtu (17/9/2016).


Sodari mengaku memiliki lahan kolam ikan gurame beberapa petak dan ikan jenis lain di lahan seluas setengah hektar. Sementara sisanya digunakan sebagai lahan pertanian sawah untuk bercocok tanam padi. Saat umur padi masih berumur satu hingga dua bulan ia mengaku menggunakan lahan sawahnya untuk mengembangkan ikan jenis nila merah dengan sistem mina padi. Ikan yang ditebar di saluran saluran air di sawah miliknya akan dipertahankan hingga umur tertentu selanjutnya di giring ke kolam setelah tanaman padi tidak memerlukan air cukup banyak. Selain itu di beberapa tanggul (galengan) dimanfaatkan sebagai lahan untuk menanam tanaman jenis lompong, lumbu atau talas yang daunnya bisa dimanfaatkan untuk tambahan pakan ikan gurame.

Pola pemanfaataan lahan pertanian dengan perikanan menurut Sodari memang banyak dikembangkan warga di wilayah tersebut terutama kondisi alam yang cukup mendukung. Lahan pertanian yang cukup subur dan aliran air yang berganti sepanjang waktu membuat lokasi tersebut cocok digunakan sebagai lokasi budidaya ikan. Beberapa rumah makan bahkan menyukai membeli ikan gurame yang dibudidayakan oleh warga karena dibudidayakan di air mengalir Gunung Rajabasa. Ia bahkan menyediakan ikan gurame dengan jumlah sekitar 2 kuintal setiap bulan karena keterbatasan lahan dan beberapa permintaan terpaksa ditolak karena keterbatasan lahan untuk budidaya ikan gurame. Meski demikian ia mengaku kebutuhan untuk ikan lele jenis ikan lele sangkuriang masih bisa dipenuhinya sebanyak 2 ton per bulan.

"Sebagian pembeli merupakan pedagang pecel lele yang secara rutin membeli ikan untuk dijual sebagai menu kuliner ikan bakar dan masih bisa kami penuhi dari kolam yang saya miliki" ungkapnya.

Selain memanfaatkan sumber pakan alami dari daun daun talas, umbi umbian serta beberapa tanaman lain yang dihasilkan dari lahan pertanian miliknya sebagai integrasi lahan pertanian dan perikanan. Sodari mengaku memanfaatkan pakan buatan yang dibelinya dari toko dan terkadang membeli ikan sortiran dari nelayan yang bisa dipergunakan untuk pakan ikan lele. Selain itu ia memanfaatkan sisa sisa makanan dari beberapa restoran yang ada di wilayah tersebut.

Pemanfaatan lahan untuk budidaya ikan air tawar juga dilakukan oleh warga Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan. Salah satunya dilakukan oleh Tukirin yang memelihara ikan jenis gurame dan ikan nila merah. Ia mengaku selain memanfaatkan pakan buatan berupa pelet, pur yang dibeli dari toko dirinya harus berburu mencari tanaman talas untuk diambil batang dan daunnya. Ia bahkan mengaku menggunakan mobil bak terbuka jenis L300 untuk mencari pakan ikan gurame miliknya. Daun daun talas yang sudah dicarinya selanjutnya akan dicacah cacah dan dicampur dengan tanaman lain diantaranya tanaman walur.

"Ikan gurame menyukai daun daunan jenis talas tapi sebagian diselingi dengan memberikan pakan buatan yang dibeli dari toko pertanian" ungkap Tukirin.

Memanfaatkan aliran sungai Way Asahan, Tukirin juga mengaku memanfaatkan lahan pertanian yang ada di wilayah tersebut untuk digunakan sebagai lokasi budidaya ikan. Budidaya ikan terutama dilakukan di dekat sawah yang lokasinya mudah dialiri alir sungai dengan cara menggunakan pompa air. Lahan pertanian yang tersisa sengaja digunakan sebagai lokasi menanam tanaman talas untuk sumber pakan selain daunnya bisa dimanfaatkan sebagai pakan, umbi tanaman talas juga dimanfaatkan sebagai bahan makanan.


Selain memanfaatkan lahan pertanian yang diselingi dengan kolam kolam, keterbatasan lahan di sekitar pekarangan rumah juga tidak menghalangi warga untuk memelihara ikan. Beberapa warga bahkan menggunakan kolam terpal yang dimodifikasi menggunakan batu bata. Kolam kolam terpal tersebut dipergunakan untuk memelihara ikan lele dan ikan gurame dengan sistem pengairan menggunakan selang. Tukirin mengaku saat ini harga ikan sedang menguntungkan pembudidaya ikan diantaranya harga ikan lele bisa mencapai Rp15ribu perkilogram sementara ikan jenis gurame bisa mencapai Rp50ribu perkilogram ditingkat pembudidaya. Hasil yang cukup menjanjikan tersebut diluar hasil pertanian sawah yang mereka miliki.

"Pemanfaatan lahan pertanian terintegrasi dengan budidaya perikanan memang sangat cocok dikembangkan di lokasi ini karena memang alam yang mendukung dan bisa meningkatkan kesejahteraan warga" ungkapnya.

Sebagai langkah pengembangan diantaranya dengan membentuk kelompok budidaya ikan (Pokdakan) yang terdiri dari beberapa warga pembudidaya ikan. Pokdakan Mina Sejahtera diantaranya, menjadi wadah bagi pembudidaya ikan untuk memasok kebutuhan ikan yang akan dikirim ke luar Pulau Sumatera dengan permintaan yang cukup banyak dikisaran 1-2 ton perminggu. Permintaan tersebut dipenuhi dengan mengambil dari beberapa pembudidaya ikan di kaki Gunung Rajabasa yang hasil penjualannya bisa dipergunakan untuk pengembangan usaha selanjutnya. Selain digunakan sebagai pemenuhan kebutuhan untuk beberapa konsumen sebagian warga juga mulai melakukan pengolahan ikan jenis lele untuk abon ikan lele dan menjadi tambahan penghasilan bagi kaum wanita yang tergabung dalam kelompok pengolah dan pemasaran (poklahsar) perikanan.
(Henk Widi)

Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: