SELASA, 27 SEPTEMBER 2016

PONOROGO --- Salah satu rangkaian acara perayaan grebeg suro dan festival nasional reog Ponorogo XXIII yakni pameran pusaka keris. Berada di pendopo, ratusan pusaka dipamerkan. Mulai dari keris, tombak, pedang, wedhung, cemeti dan songsong.


Pameran digelar bukan hanya sebagai pelestarian budaya lokal, juga sebagai wadah penikmat keris untuk mencari koleksi tambahan. Dimana pandangan masyarakat yang dahulu melihat keris sebagai benda pusaka dan senjata kini bergeser menjadi benda seni dan diburu para kolektor.

Pengrajin keris, Gondo Puspito (35 tahun) menjelaskan, keris yang dipamerkan juga bisa dimaharkan (dijual.red) namun menunggu pameran selesai.

"Pameran ini dimulai 26 September hingga 1 Oktober, mulai dari kemarin sudah banyak kolektor yang datang," ujarnya saat ditemui Cendana News di lokasi, Selasa (27/9/2016).

Menurutnya, para kolektor biasanya melihat keris tidak hanya asal dibuatnya namun juga melihat estetika dan kualitas. Sehingga yang bisa melihat harga mahal atau tidaknya keris hanya bisa dilakukan oleh pemilik sendiri.

"Apalagi keris dari warisan para sesepuh harganya hingga ratusan juta," jelasnya.

Keris merupakan benda seni yang rawan karatan memerlukan perawatan lebih. Seperti jamasan dan warangan yang dilakukan tiap bulan Suro.

"Sama diberi minyak setahun maksimal dua kali, minyaknya dari kelapa gading dan gondopuro. Dan juga wewangian dari bunga kanthil, mawar dan cendana supaya keris tidak gampang karatan," imbuhnya.


Meski pameran digelar dari pukul 08.00 - 20.00 WIB banyaknya antusias warga yang ingin melihat terkadang panitia baru menutup pameran pada pukul 22.00 WIB. Pameran keris ini dibuka untuk umum dan gratis. Ratusan keris koleksi dari paguyuban Aji Wengker dan paguyuban Tunggul Nogo dipamerkan.
[Charolin Pebrianti]

Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: