KAMIS, 29 SEPTEMBER 2016

JAKARTA --- Ketika ingin membeli sesuatu maka seseorang akan memiliki banyak sekali pertimbangan mengenai benda yang akan dibelinya. Mulai dari harga, mutu, kegunaan, seberapa penting benda tersebut, hingga apakah benda tersebut memiliki nilai tambah bagi dirinya untuk dibeli.

Ir.Rauf Purnama
Berbicara mengenai nilai tambah, maka dalam konteks menjual sesuatu, seseorang pastinya akan memiliki banyak pertimbangan, yaitu seberapa besar keuntungan atau laba kotor maupun laba bersih yang bisa didapatkannya. Akan tetapi seorang pedagang cerdas adalah ia yang turut memikirkan nilai tambah apa yang bisa didapatkan jika ia melakukan penjualan sebuah produk.

Saat ini, apa yang terjadi dalam kebijakan perdagangan dalam negeri terutama kebijakan ekspor seringkali belum memiliki dasar kuat untuk dikatakan sebuah keberhasilan kegiatan ekspor. Memang negara mendapat pemasukan uang, akan tetapi apa yang diterima seharusnya bisa lebih dari itu.

Bangsa Indonesia dikaruniai kekayaan alam berlimpah oleh Tuhan Yang Maha Esa, diantaranya minyak bumi, gas, batubara, tembaga, nikel, emas, dan lain sebagainya. Namun sebuah kenyataan pedih adalah hampir 70% sumber daya alam dijual (ekspor) ke luar negeri dalam bentuk bahan mentah atau raw material. Padahal jika dicermati, semua itu bisa ditingkatkan terlebih dahulu nilai tambahnya didalam negeri melalui bidang industri dengan beragam teknologi yang sudah banyak dikuasai oleh para sarjana dalam negeri sendiri.

Sebagai contoh untuk batubara, maka dari kekayaan alam yang satu ini bisa diolah menjadi berbagai bahan kimia yang kemudian dapat menjadi bahan baku untuk membuat berbagai produk-produk hilir untuk diekspor.

"Harus diingat terlebih dahulu, jika sudah diolah menjadi bahan baku maka jangan langsung diekspor bahan bakunya melainkan diolah terlebih dahulu menjadi sesuatu lalu hasil olahannya itulah yang diekspor" tekan Ir.Rauf Purnama dalam peluncuran buku miliknya berjudul "Pengalaman Mempersiapkan Pembangunan Industri" di ballroom Hotel Le Meridien, Jakarta, Rabu 28/09/2016.

Salah satu contoh nyata dari meningkatkan nilai tambah dari kekayaan alam sebelum menjualnya adalah udara, karena udara mengandung unsur Nitrogen dan Oksigen sebesar 79% dan 21%. Selain menjadi sumber kehidupan bagi manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan, maka udara mempunyai nilai tambah yang sangat tinggi jika diproses terlebih dahulu dalam industri.

"Nitrogen dari udara jika direaksikan dengan Hidrogen yang berasal dari gas alam maka menghasilkan Amoniak atau NH3 yang adalah bahan untuk membuat pupuk Urea dan ZA yang selama ini digunakan para petani indonesia," jelas Rauf Purnama.

"Kalau begitu, apakah mengekspor gas alam murni itu merupakan langkah bijak dari pemerintah adalah sebuah hal yang harus dipertimbangkan dalam-dalam oleh semua pihak yang terkait," tambah Rauf lagi.

Oleh karena itulah pembangunan industri di Indonesia harus diperhatikan lebih serius oleh pemerintah. Bukan semata melakukan ekspor saja, terlebih lagi ekspor bahan baku, akan tetapi bagaimana pemerintah bisa mengolah terlebih dahulu bahan-bahan mentah tersebut menjadi satu atau lebih banyak produk-produk unggulan sebelum masuk ke pasar ekspor.

Suasana pembukaan acara Peluncuran Buku Ir.Rauf Purnama berjudul Pengalaman Mempersiapkan Pembangunan Industri di ballroom Hotel Le Meridien Jakarta
Sejak tahun 2000 hingga saat ini pembangunan industri terhenti. Konsentrasi pemerintah untuk pembangunan infrastruktur serta meningkatkan ekspor bahan mentah adalah salah satu penyebabnya. Hal ini harus diperbaiki dan dipertimbangkan lagi langkah-langkah selanjutnya.

"Jadi harus dipertimbangkan lagi misalnya perlukah menjual bahan mentah semisal harga 20.000 dollar lalu membeli bahan jadi seharga 40.000 dollar, itu saja sudah minus, oleh karena itu penting memusatkan perhatian pada pembangunan dunia industri terlebih dahulu" pungkas Rauf Purnama yang adalah seorang kreator dari berdirinya Pabrik pupuk Phonska Jawa timur di era pemerintahan Presiden KH. Abdurrachman Wahid di tahun 2000.

Ir.Rauf Purnama adalah mantan Dirut Litbang PT.Petrokimia Gresik tahun 1990-1995, mantan Dirut PT.Petrokimia Gresik tahun 1995-2001, dan sejak tahun 2002 hingga sekarang ia aktif sebagai Wakil Ketua Lembaga Pupuk Indonesia (LPI).
(Miechell Koagouw)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: