KAMIS, 29 SEPTEMBER 2016

JAKARTA --- Indonesia negara agraris, peningkatan pembangunan sektor pertanian merupakan sebuah kewajiban mutlak. Hal tersebut disampaikan Ir. Rauf Purnama saat bertemu Cendana News pada acara peluncuran buku miliknya berjudul "Pengalaman Mempersiapkan Pembangunan Industri" di Hotel Le Meridien, Jakarta, Rabu (28/09/2016).


Akan tetapi perlu juga dicermati bahwa sektor pertanian bukanlah pokok konsentrasi untuk menambah devisa negara. Indonesia adalah negara dengan kurang lebih 200 juta jiwa penduduk dengan komposisi penyebaran penduduk sebesar 49 persen berada di perkotaan dan 51 persen berada di pedesaan. Dari sisi jumlah penduduk yang sangat besar ini maka otomatis kedaulatan pangan merupakan hal mutlak untuk ditegakkan. Dengan kata lain, dalam hal ini pemerintah harus memastikan sebaik-baiknya bahwa kebutuhan pangan rakyat terpenuhi terlebih dahulu bahkan lebih bagus jika mengalami surplus stok pangan.

Pentingnya mengejar surplus pangan akan berimplikasi pada stabilitas harga pangan itu sendiri selain juga untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyat. Setelah kebutuhan pangan rakyat terpenuhi, harga sembilan bahan pokok bisa berada dalam kategori stabil, barulah pemerintah memikirkan bagaimana melakukan ekspor hasil pertanian. Hal ini sudah dilakukan dalam setiap program Rencana Pembangunan Lima Tahun era pemerintahan Presiden Kedua RI HM. Soeharto.

"Sebelum memikirkan untuk menjadikan sektor pertanian sebuah andalan pemasukan devisa, maka cermati dulu hal apa yang bisa dilakukan sebagai pendorong untuk meningkatkan pembangunan di sektor pertanian," terang Ir. Rauf Purnama melanjutkan pernyataannya kepada Cendana News.

Kembali bagaimana cara menambah devisa negara, maka satu-satunya jalan ke arah tersebut adalah pembangunan sektor industri. Secara sepintas jika ditanya mana yang harus didahulukan apakah infrastruktur atau industri, maka pastinya secara awam muncul infrastruktur jawabannya.

" Negara ini banyak insinyur berbakat dan cerdas, dan seorang insinyur itu saya yakin mempunyai pemikiran kedepan bukannya mundur kebelakang. Oleh karena itu jawaban yang seharusnya adalah pembangunan sektor industri, bukannya infrastruktur. Dan dari keberhasilan pengembangan sektor industri itulah maka dana yang didapat bisa digunakan untuk meningkatkan ketahanan pangan," lanjut Rauf.

"Jadi pembangunan sektor industri merupakan faktor utama pendukung dari pernyataan awal saya diatas bahwa pembangunan sektor pertanian adalah sebuah kewajiban mutlak. Saya rasa semua bisa memahami hal ini ya," terang Rauf lagi.

Tahun 1995 China masih berada di bawah Indonesia dari segi pembangunan sektor industri maupun pangan. Akan tetapi sejak tahun 2000 hingga 2005 China sudah berada dalam level yang sama dengan Indonesia, bahkan sejak 2005 hingga 2016 China sudah jauh meninggalkan Indonesia dalam keberhasilan membangun dua sektor penting dalam suatu negara, yaitu sektor industri dan pangan.

Dengan jumlah penduduk terbesar pertama di dunia, China berhasil memenuhi kebutuhan pangan penduduknya dan menjamin kestabilan harga pangan itu sendiri. Namun hal itu bukan berarti mereka menempatkan sektor pertanian sebagai andalan pemasukan devisa negara, bukti nyata keberhasilan China menjelma menjadi kekuatan ekonomi dunia adalah pembangunan sektor industri yang hingga saat ini sudah mencakup ke seluruh dunia. Kemajuan sektor industri akan membawa devisa negara, dan devisa itu digunakan sepenuh-penuhnya untuk pembangunan dalam negeri terutama penguatan sektor pertanian.

Indonesia bukan harus belajar dari China atau menerima bantuan pula dari China, akan tetapi Indonesia harus kembali pada konteks pemikiran akan mana yang lebih penting dan menguntungkan terlebih dahulu. Penting adalah untuk penguatan kedaulatan pangan, dan menguntungkan adalah dengan penguatan sektor industri. Jika tidak ada hal yang menjadi nilai yang mampu membawa keuntungan, maka pembangunan akan tersendat salah satunya adalah pembangunan sektor pertanian. Bagaimana kedaulatan pangan tercapai jika pembangunan tersendat karena tidak ada devisa masuk, namun bagaimana juga harus menghadapi kenyataan bahwa negara menjual produk pangan namun rakyat tidak tercukupi ditambah harga pangan dalam negeri tidak stabil.

"Jika ingin dikatakan antara industri dan pertanian memiliki keterkaitan, maka dapat dikatakan demikian. Namun keterkaitannya dalam arti, sektor industri adalah penopang untuk mencapai kedaulatan pangan karena kedaulatan pangan itu wajib hukumnya," pungkas Rauf Purnama.

Contoh nyata adalah Pembangunan Pabrik pupuk Phonska di Jawa Timur yang dilakukan PT. Petrokimia Gresik saat Ir. Rauf Purnama menjabat sebagai Direktur utama. Pabrik pupuk Phonska adalah sebuah usaha mengembangkan dunia industri, dan dengan membangun pabrik pupuk Phonska, maka petani bisa menggunakan pupuk hasil produksi dari pabrik tersebut untuk meningkatkan industri pertanian.


Tahun 1999, pada ujicoba penggunaan pupuk majemuk Phonska di musim kemarau bisa menghasilkan 9,3 ton gabah kering panen per hektar dari 81 hektar lahan dengan dikerjakan 150 orang petani. Dan keberhasilan yang dicapai melalui penggunaan pupuk Phonska didapatkan setelah membangun pabrik pupuk tersebut.

"Jadi mana yang harus didahulukan, membangun pabrik pupuk untuk meningkatkan hasil pertanian, atau membeli pupuk dari luar negeri untuk meningkatkan produksi pertanian? saya rasa maksud dan esensi penjelasan saya sudah bisa difahami. Ibarat bahan kimia, sektor industri adalah senyawa dengan sektor pertanian, namun sektor industri merupakan senyawa penentunya," Rauf Purnama mengakhiri percekapan dan kebersamaannya dengan Cendana News.
[Miechell Koagouw]

Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: