RABU, 14 SEPTEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) DI Yogyakarta bekerjasama dengan Kepolisian Daerah dan Kejaksaan Tinggi DI Yogyakarta menyita 77.000 obat impor ilegal senilai Rp. 660 Juta dari sebuah gudang distributor alat kesehatan di Dusun Kutu Tegal, Sinduadi, Mlati, Sleman, Rabu (14/9/2016). 


Sebanyak 77.000 obat dalam kemasan terdiri dari 10 jenis disita BBPOM DIY karena tak memiliki izin edar. Diduga, peredaran obat sejenis anastesi lokal yang termasuk obat keras tersebut telah berlangsung selama satu tahun. Obat tersebut biasa digunakan oleh dokter gigi.

Kepala BBPOM DI Yogyakarta, I Gusti Ayu Adhi Aryapatni, di sela pemeriksaan mengatakan, dari informasi awal diketahui obat tanpa izin edar tersebut dijual secara online. Namun demikian, pihaknya belum bisa memastikan wilayah peredarannya.


Ditegaskan Ayu, sesuai Pasal 109 Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009, semua penyediaan obat-obatan farmasi harus memiliki izin edar dari Pemerintah. Izin edar itu, kata Ayu, merupakan nomor registrasi yang diberikan Pemerintah sebagai jaminan, bahwa obat itu layak, berkhasiat dan bermutu serta aman digunakan masyarakat.

Dalam keterangannya, Ayu yang didampingi Koordinator dan Pengawas Penyidik Pegawai Negeri Sipil Kepolisian Daerah DI Yogyakarta, Tri Wiratmo dan Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Tinggi DI Yogyakarta, Slamet Supriyadi, menjelaskan, keberadaan obat-obatan tersebut juga menyalahi aturan karena disimpan di gudang distributor alat kesehatan, sedangkan distributor itu harus memiliki dan beroperasi sesuai perizinannya, juga wilayah atau jalur peredaran atau distribusinya pun bisa diketahui.


Kendati belum diketahui pemilik ribuan obat ilegal tersebut, Ayu mengatakan jika pemilik tersebut nantinya akan diancam dengan Pasal 197 UU Kesehatan No. 36/2009, dengan sanksi pidana kurungan 15 tahun dan denda sebesar Rp. 1,5 Milyar. 
(koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: