SABTU, 17 SEPTEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Berada di tengah areal persawahan Dusun Nitiprayan, Kasihan, Bantul, Sekolah atau Sanggar Anak Alam (SALAM) sudah mencirikan adanya keunikan. Dan, memang sebagai sebuah sekolah nonformal, SALAM melangsungkan proses belajar mengajarnya dengan membebaskan siswanya untuk berekplorasi dengan alam.

Sanggar Anak Alam berada si tengah persawahan
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Sanggar Anak Alam (PKBM SALAM) tak mewajibkan siswanya untuk mengenakan baju seragam. Kegiatan belajar mengajar bahkan dibebaskan menurut keinginan para siswanya. Sanggar Anak Alam di Bantul yang terdiri dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Bermain, Sekolah Dasar dan Menengah Pertama, sejak berdiri pada tahun 2000 menitik-beratkan kepada kegiatan alam berupa penelitian-penelitian.

Pendiri Sanggar Anak Alam, Sri Wahyaningsih menjelaskan, para siswa mulai Kelas 4 SD hingga SMP dibebaskan untuk memilih sendiri obyek penelitiannya. Sehingga, dari satu kelas yang terdiri dari 15 siswa bisa ada 15 penelitian. Sementara bagi siswa PAUD hingga Kelas 3 SD, penelitian masih didampingi oleh guru.

Belajar mengenal tumbuhan
Penelitian yang dilakukan disesuaikan dengan kemampuan siswa. Misalnya, siswa PAUD diajak meneliti dan mengamati pertumbuhan pohon. Dengan cara itu, siswa langsung belajar dari alam yang sedemikian banyak menyediakan banyak ilmu. Seperti kata Ki Hajar Dewantara, kata Wahya, konsep belajar di Sanggar Anak Alam adalah Niteni, Niroke, Nambahi. Artinya, mengamati, menirukan dan menambahi yang berarti sebuah proses belajar dengan melakukan inovasi dan pengembangan.

"Siswa diajak mengolah tubuh dan panca indra untuk menangkap data atau sesuatu, mencermatinya sungguh-sungguh sehingga tidak hanya menghafal, namun juga mengembangkan. Dengan cara ini anak-anak belajar dari peristiwa, bukan dari hafalan, sehingga mereka benar-benar tahu dan memahami, sehingga mampu menemukan pengetahuannya sendiri" jelasnya.

Sebuah kegiatan di SALAM
Tidak adanya keharusan mengenakan baju seragam, kata Wahya, pun bukan tanpa sebab atau hanya sekedar bebas. Namun dengan cara berpakaian berbeda-berbeda itu para siswa sudah dikenalkan dengan perbedaan. Keharusan mengenakan baju seragam, bagi Sanggar Anak Alam dipandang justru membatasi. Anak menjadi tidak biasa melihat perbedaan, yang sebenarnya perbedaan itu indah.

Dari segi fisik sesederhana itu, jelas Wahya, anak-anak sudah dibiasakan menerima dan menghormati perbedaan. Di dunia ini, kata Wahya, tidak ada yang sama. Bahkan, anak kembar pun berbeda. Dan, Indonesia juga negara yang sangat beragam dan bhineka. Maka, dari cara berpakaian dan cara pandang sehari-hari, anak-anak sudah dibiasakan menghargai perbedaan.

Sri Wahyaningsih
Meski dilakukan dengan cara berbeda, namun proses penilaian siswa tetap mengacu pada indikator kurikulum yang ditetapkan Pemerintah. Namun dalam hal memberi nilai, Sanggar Anak Alam menerapkan penilaian naratif dan tidak mengenal sistem rangking dan nilai angka.

Proses belajar mengajar di Sanggar Anak Alam dimulai pukul 08.00-13.00 WIB. Namun dengan pola pembelajaran berbasis penelitian, jam sekolah bisa bertambah dengan adanya ekstra kurikuler. Semua pembelajaran dilakukan dengan seni yang merupakan sebuah cara olah rasa. Ini pun, kata Wahya, sebagaimana kata Ki Hajar Dewantara. Bahwa belajar itu juga harus berolah rasa yang meliputi tiga hal, yaitu Ngerti, Ngroso, dan Nglakoni. Artinya, belajar itu harus benar-benar mengerti, merasakan dan melakukan. 

"Dengan olah rasa itu, siswa tidak hanya menghafal saja. Melainkan juga merasa dan melakukan atau mengaplikasikan semua yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari" pungkasnya. 
(koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: