KAMIS, 22 SEPTEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Buah sawo beludru merupakan salah satu jenis buah langka yang kian hari semakin berkurang populasinya. Kemampuannya berbuah yang hanya setahun sekali, semakin menambah kesan buah tersebut amat langka.


Pohon sawo beludru hanya berbuah setahun sekali selepas musim kemarau. Dalam satu kali musim, satu pohon bisa menghasilkan sekitar 2,5 Kwintal. Buah tersebut biasa dijual di pasar-pasar tradisional dengan harga jual Rp. 5.000 - 10.000 per Kilogram.

Salah satu pemilik pohon sawo beludru di Dusun Sidosari, Wonokerto, Turi, Sleman, Tukimin, saat ditemui ketika sedang panen, Kamis (22/9/2016) mengatakan, meski hanya berbuah setahun sekali, hasil panen buah sawo beludru cukup memberinya keuntungan. Pasalnya, pohon sawo beludru tidak menuntut perawatan khusus. Bahkan, selama kebutuhuan air tercukupi, tanpa diberi pupuk pun pohon tersebut tetap bisa hidup dan berbuah manis pada saatnya.

"Buah sawo beludru ini hanya bisa masak di pohonnya. Tidak bisa disimpan setengah matang untuk menunggu masak, karena justru akan menjadi busuk," ujar Tukimin.

Menurut Tukimin, buah sawo beludru ini tergolong unik dan menarik. Daunnya berwarna hijau, namun di sebaliknya berwarna coklat. Sedangkan, kulit buahnya yang berwarna hijau akan tetap hijau ketika sudah masak. Hanya saja ketika sudah masak itu kulit buahnya akan menjadi halus dan kilap seperti bersinar.

"Pohon sawo beludru ini bisa hidup selama puluhan tahun. Tingginya bisa mencapai 15 meter, dan mulai berbuah di usia 6 tahun. Ketika sudah mulai berbuah, pemetikan dilakukan seminggu sekali,"ujar Tukimin, sembari menambahkan, satu-satunya kendala yang dihadapi selama ini hanya kelelawar yang suka memakan buah di malam hari.

Sementara itu, Sriyanti, tetangga Tukimin yang biasa menjual buah beludru itu ke kota mengatakan, sawo beludru banyak disukai karena rasanya yang manis, tanpa rasa asam dan menyegarkan. Daging buahnya berwarna putih dan teksturnya seperti bubur sehingga untuk memakannya harus menggunakan sendok.


Sriyanti mengatakan, meski sudah masak, kulit buah sawo beludru tetap mengandung getah. Kendati tak menyebabkan gatal, namun getah itu bisa membuat lengket. Karenanya, Sriyanti menyarankan agar menggunakan sendok untuk memakannya.

"Karena tekstur buahnya seperti bubur, biasanya penyuka buah sawo beludru dari usia tua. Tapi, banyak juga anak-anak muda yang membeli. Awalnya memang penasaran karena jarang ada di pasar, tapi setelah tahu rasanya jadi ketagihan,"pungkasnya.
[Koko Triarko] 

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: