MINGGU, 4 SEPTEMBER 2016

MAUMERE --- Munculnya berbagai kritikan terkait pembangunan monumen di taman kota yang dinilai sebagai pengrusakan lingkungan dan munculnya mosi tidak percaya dari DPRD setempat ditanggapi santai wakil bupati Sikka,  Paolus Nong Susar. Ia menyebutkan, untuk membenahi tentunya membutuhkan waktu dan perlu ditata kembali.


"Segala sesuatu yang ada di dalamnya akan dibenahi termasuk lingkungannya yang mau ditata.Tapi cara pandang masyarakat terkait pembenahan ini masih terpenggal penggal. Masyarakat melihatnya sebagai pengrusakan lingkungan padahal pemerintah kan sedang membenahi,"sebutnya saat disambangi Cendana News, Minggu (4/9/2016).

“Kalau saya meihatnya ini kan tidak merusak lingkungannya, kami pemimpin kan melihatnya secara holistik,”sambungnya.

Perspektif lingkungan penting  menjadi catatan, tapi bukan berarti dalam pendekatan pembangunan holistik tidak ada sesuatu pun yang disentuh untuk diperbaiki.

Artinya pohon-pohon yang ada di dalamnya ada yang musti ditebang dahulu baru ditanam kembali. Yang menjadi persoalan, pihak kontraktor dan SKPD yang sudah dikeluarkan mosi tidak percaya oleh DPRD Sikka mereka menjadi pelaksana teknis.

“Catatan-catatan hingga menjadi mosi tidak percaya menurut saya itu masih sangat kasusistik. Di Sikka ini kita tidak perlulah menjadi moralis yang pejuang,”tegasnya.


Pointnya jelas Nong Susar, kontrol masyarakat terhadap kebijakan pemintah patut kita aspresiasi karena mereka memberi kontrol terkait seluruh aspek lingkungan yang mana mesti memperhatikan aspek teknis dan prosedur mulai dari perencaanan.

“Kritik itu yang mesti diterima oleh SKPD teknis mulai dari PU, BLH dan SKPD terkait lainnya,” tegasnya.
[Ebed De Rosary]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: