MINGGU, 25 SEPTEMBER 2016

BATU --- Sebagai bentuk rasa syukur dan terima kasihnya kepada Tuhan karena berbagai seni dan budaya mereka sudah pernah ditampilkan di beberapa negara (Go Internasional), masyarakat Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu mulai hari ini hingga besok 24-25 September 2016 menggelar sebuah acara bertajuk 'Gunung Ukir Art Festival' yang sekaligus merupakan hari raya kebudayaan masyarakat Gunung Ukir.


"Masyarakat yang ada di kawasan Gunung Ukir ini merasa memiliki hutang karena banyak kesenian maupun budaya dari tempat ini yang sudah mampu Go Internasional, tetapi kita belum pernah melakukan selamatan di Gunung Ukir, padahal kita hidup dan tinggal di kaki-kaki Gunung Ukir," ungkap ketua pelaksana, Agus Mardianto kepada Cendana News, Sabtu (24/9/2016). 

Berawal dari situ, kemudian kami rangkul dan ajak masyarakat seni budaya se Desa Torongrejo baik dari seni tradisi, kreasi, kontemporer, modern maupun seni religi untuk berparade seni dan terbentuklah acara Gunung Ukir Art Festival, imbuhnya.


Disebutkan dalam acara festival yang baru pertama kali diadakan ini terdapat banyak pertunjukkan seni yang akan di pertontonkan diantaranya seni Kuda Lumping, Reog, Pencak Silat, Terbang Jidor, teater, sastra puisi, musik dan Tarian Api.

Lebih lanjut Agus menjelaskan, acara Gunung Ukir Art Festival di buka dengan melakukan sedekah kali dan melepaskan dua ribu ikan lele dan seribu ikan patin di sungai berantas di Dusun Klerek, Desa Torongrejo tadi pagi. Kemudian dilanjutkan ritual Suguh Danyang yaitu mendoakan para arwah leluhur Desa Torongrejo yang telah meninggal.


Selanjutnya, pada sore harinya dilanjutkan kirab sesaji sedekah gunung dengan nama kirab munggah gunung.

"Di kirab ini, kita berjalan dari Punden Watu Ganden yang ada di kaki gunung menuju puncak. Sesampai di puncak, kita baru melakukan sedekah gunung dengan melepaskan dua ribu ekor burung di puncak dan di kaki gunung," jelasnya. Namun sebelum melepaskan burung-burung tersebut, sedekah gunung di awali dengan tarian Ukir Sari dan pengukuhan tokoh ritual adat, tandasnya.

Usai sedekah gunung dilakukan, pada malam harinya 19.00-23.00 WIB ada parade terbang jidor, parade seni pencak silat di kaki gunung. Sedangkan di puncak akan ada parade seni budaya.


"Kami menyiapkan dua tempat tontonan, yaitu di kaki dan puncak gunung Ukir,"ujarnya.

Sedangkan pada tanggal 25 September, sekitar pukul 13.00-17.00 WIB akan ada parade seni reog dan parade Bantengan, serta dilanjutkan  'Ndigar Bareng' pada malam harinya.

"Besok di dalam Ndigar bareng akan ada kolaborasi antara kuda lumping, pencak silat, tari dan musik yang akan ditampilkan oleh sekitar dua ratus penari," terangnya.


Sementara itu ia juga mengatakan, tujuan diadakannya Gunung Ukir Art Festival adalah untum menunjukkan kepada masyarakat umum bahwa sebuah kampung atau desa bukan hanya sebuah tempat yang dihuni oleh orang kampungan, tetapi dengan seni dan budaya kita dapat go international.

"Semoga kedepannya acara festival ini bisa rutin diselenggarakan setiap tahun,"pungkasnya.
(Agus Nurchaliq)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: