KAMIS, 29 SEPTEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Dalam sejarah Keraton Mataram, di Yogyakarta, ada seorang bangsawan unik yang menanggalkan gelar kebangsawanannya karena merasa tak pernah mendapatkan kepuasan dan kebahagiaan. Bangsawan itu adalah Ki Ageng Suryomentaram, putra Sultan Hamengku Buwono VII yang rela meninggalkan keraton dan memilih menjadi orang biasa.

Fransisca Anggraeni dan Aning Azzahra
Ki Ageng Suryomentaram hingga kini masih dikenal karena ajarannya yang disebut Kawruh Pengawikan Pribadi atau yang kemudian disebut Kawruh Jiwa atau Ilmu Pengetahuan Jiwa. Selama puluhan tahun, Kawruh Jiwa hanya dipelajari oleh sekelompok orang yang peduli terhadap nilai-nilai kehidupan yang diwariskan oleh Ki Ageng Suryomentaram. Namun, sejak empat tahun terkahir ini, ajaran Kawruh Jiwa mulai dikembangkan dan diteliti oleh Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada Yogyakarta, sebagai sebuah ilmu pengetahuan jiwa yang khas dari bangsa ini.

Salah satu penggiat ajaran Kawruh Jiwa yang juga merupakan mahasiswi Fakultas Psikologi UGM, Fransisca Anggraeni, ditemui Kamis (29/9/2016), menjelaskan, Fakultas Psikologi UGM bekerja sama dengan Komunitas Pelajar Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram Yogyakarta selama empat tahun ini menggali nilai-nilai ajaran Kawruh Jiwa yang dikemas dalam kegiatan sekolah.

"Setiap tahun, kami membuka Sekolah Kawruh Jiwa yang diadakan selama tiga hari dengan kegiatan seminar membedah pemikiran Ki Ageng Suryomentaram, berkunjung ke sebuah desa dan melihat serta mengimplementasikan ajaran itu" jelasnya.

Fransisca didampingi rekannya, Aning Azzahra, menjelaskan lagi, Kawruh Jiwa disadari sebagai ilmu pengetahuan tentang kejiwaan manusia dari perpektif manusia Jawa. Nilai-nilai ajarannya merupakan sumber kearifan lokal dan budaya lokal yang sangat dalam mengajarkan tentang hidup manusia yang tidak pernah merasa puas. 

Karenanya, Fakultas Psikologi UGM ingin menggali ajaran Ki Ageng Suryomentaram itu dan mencoba mensaintifikasikan ajaran Kawruh Jiwa sebagai dasar ilmu psikologi yang khas Indonesia. Seperti diketahui, kata Fransisca, selama ini teori-teori psikologi di Indonesia masih bersumber dari negara-negara barat.

Buku Ajaran Ki Ageng Suryomentaram
Sekolah Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram yang sarat nilai kearifan lokal, menjadi salah satu peserta pameran dalam Pagelaran Sawiji Greget Sengguh Ora Mingkuh yang diadakan Lembaga Penguatan dan Pelestari Warisan Budaya Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta di Pendopo Gedung Jogja National Museum Yogyakarta yang berlangsung dua hari hingga nanti 30 September 2016.

Menurut Fransisca, salah satu ajaran Ki Ageng Suryomentaram yang paling terkenal adalah Ilmu Bahagia. Dalam ilmu bahagia itu ada sebuah konsep sederhana yang disebut mulur mungkret atau melar dan mengkerut. Falsafah sederhana ini, jelas Fransisca, pada intinya hendak menyadarkan manusia, jika kebahagiaan dan kesedihan itu tidak abadi.

"Mulur mungkret mengajarkan manusia agar mampu menghadapi kegagalan sebagai suskses yang tertunda, sehingga tidak perlu membuat kita stres karena gagal, karena kebahagiaan yang diraih karena tercapainya keinginan itu juga tidak akan abadi" pungkasnya. 
(koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: