SABTU, 17 SEPTEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Beragam produk olahan pangan lokal dipamerkan dalam sebuah ajang Pasar Ekspresi Anak Merdeka di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Sanggar Anak Alam (PKBM SALAM), Nitiprayan, Kasihan, Bantul, Sabtu (17/9/2016). Beragam produk pangan lokal dipamerkan sebagai upaya mengenalkan potensi pangan lokal sebagai sumber pangan utama. 

Pasar Ekspresi Anak Merdeka
Berbagai produk pangan lokal dan makanan sehat seperti ceriping berbahan umbi-umbian, makanan kemasan yang sehat dan diproduksi tanpa bahan pengawet atau kimia berbahaya lainnya serta dari hasil bumi yang dibudidayakan secara organik, dipamerkan di halaman PKBM SALAM.

Melibatkan orangtua siswa dan masyarakat sekitar, pameran produk pangan lokal yang dikemas dalam acara Pasar Ekspresi Anak Merdeka merupakan bentuk keprihatinan terhadap banyaknya produk makanan tidak sehat dan bahkan berbahaya, yang masih beredar di lingkungan sekolah.

Pendiri dan Ketua Perkumpulan SALAM, Sri Wahyaningsih, ditemui di sela acara mengatakan, acara tersebut juga digelar sebagai bentuk keprihatinan masyarakat terhadap kondisi bangsa saat ini yang merupakan negara agraris, namun pada kenyataannya tidak mampu swasembada pangan. Hampir 90 Persen produk pangan di Indonesia, menurutnya, masih merupakan produk impor.

Beragam pangan lokal yang dipamerkan
"Karena itu, pameran ekspresi anak merdeka digelar dengan acara utama memamerkan beragam produk olahan pangan yang sehat dan merupakan pangan lokal" jelasnya.

Wahya mengatakan, pameran produk pangan lokal sebagai bentuk kampanye produk pangan lokal diadakan di lingkungan sekolah, karena sebenarnya sekolah justru merupakan ujung tombak dari berkembangnya pangan lokal sebagai sumber pangan utama.

Pasalnya, jelas Wahya, selama ini begitu banyak makanan atau jajanan yang belum tentu sehat beredar di lingkungan sekolah. Bahkan menurut sebuah penelitian, kata Wahya, dari sekian banyak makanan yang beredar selama ini hanya 30 Persen saja yang tergolong sehat. Sementara di lingkungan sekolahnya sendiri, dari sebanyak 15 jenis makanan yang dijajakan para pedagang, ketika diperiksa kelayakannya hanya 4 jenis makanan saja yang dinyatakan sehat.

Melihat kenyataan itu, kata Wahya, maka anak-anak usia sekolah justru yang paling menghadapi masalah berat dalam hal makanan. Karena itu, kampanye makanan sehat sangat penting dilakukan di sekolah-sekolah, dan sudah semestinya sekolah pun menjadi ujung tombak dari kampanye makanan sehat, terutama makanan sehat berbahan lokal sebagai sumber pangan utama.

Sri Wahyaningsih, Pendiri dan Ketua Perkumpulan SALAM
Pameran produk pangan lokal yang dikemas dalam Pasar Ekspresi Anak Merdeka, tak hanya menghadirkan beragam produk pangan. Melainkan juga beragam kreasi anak-anak Sanggar Anak Alam dari usia sekolah usia dini hingga menengah pertama. Beragam kemampuan bermusik, pun dipamerkan oleh anak-anak didik Sanggar Anak Alam. 

Sanggar Anak Alam merupakan sekolah alternatif nonformal berbasis orangtua dan penelitian. Proses belajar mengajar dilakukan dengan memberikan kebebasan kepada para siswa untuk berkreasi melalui sebuah penelitian-penelitian yang bersumber dari alam. 

Wahya menjelaskan, dengan pola pembelajaran yang menitik-beratkan kepada aspek orisinalitas anak, maka anak-anak diberikan kebebasan untuk berekplorasi sesuai bakatnya, sehingga muncul kodrat alamnya sendiri.

"Hal ini dilakukan karena kurikulum sekolah yang berlaku selama ini dinilai sangat padat dan membebani siswa. Bahkan, ada banyak hal yang sebenarnya belum saatnya dipelajari, namun sudah diharuskan dalam kurikulum. Sementara itu, hal-hal esensial dalam kehidupan justru tidak tersentuh. Misalnya, soal pangan, kesehatan dan seni yang merupakan masalah mendasar" ungkapnya. 
(koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: