SELASA, 27 SEPTEMBER 2016

SOLO --- Perkembangan hasil penelitian Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia selama dua tahun terkahir tergolong pesat. Sebab, dari data yang diperoleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) hasil penelitian tercatat naik 200 persen.

Workshop nasional yang digelar Kemenristekdikti
Hal ini diungkapkan Dirjend Penguatan Inovasi Kemenristekdikti Jumain Appe dalam workshop spin off pemasaran produk hasil penelitian dan pemetaan TRL, yang digelar Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), pada Senin kemarin (26/9/2016). 

“Penelitian di perguruan tinggi ini fokus pada tujuh bidang, dan bidang pangan yang paling banyak” ungkap Jumain kepada media Cendana News di Solo.

Dijelaskan Jumain, penelitian Perguruan Tinggi ini seperti yang dilakukan Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Jendral Soedirman (Unsoed) yang berupaya menaikkan produktivitas padi, dengan menggunakan sistem organik dan pengembangan varieties unggulan. Hal serupa juga dilakukan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo yang melakukan inovasi beras organik. 

”Untuk Universitas Gajah Mada (UGM) dan Brawijaya lebih menekankan di bidang kesehatan. Melalui workshop ini, Kemenristekdikti juga mendorong mengenai hilirisasi hasil penelitian” terangnya.

Adanya Undang-Undang yang mengatur hak intelektual properti, menurut Jumain, peneliti tidak perlu khawatir. Sebab, untuk hak paten, desain industri, dan merk sudah dapat terlindungi. Tak hanya itu, bagi peneliti atau penemu juga mendapatkan royalty atau bagi hasil, jika hasil penelitiannya dimanfaatkan untuk komersialsiasi. 

Dirjend Penguatan Inovasi Kemenristekdikti Jumain Appe
“Pembagiannya untuk penemu mendapatkan 40 persen dari royalty, sedangkan 60 persen masuk perguruan tinggi, yang nanti dibagi-bagi menurut sub ataupun kelembagaan yang berkaitan dalam penelitian tersebut” jelasnya.

Pemerintah juga akan memberikan insentif bagi peneliti setelah penelitiannya menghasilkan publikasi ilmiah. Yakni berupa tunjangan senilai Rp 10 juta apabila masuk jurnal nasional, dan Rp 25 juta apabila masuk jurnal internasional. 

“Semakin tinnggi sampai menemukan hak paten maka insentif yang diberikan pemerintah juga akan semakin tinggi” imbuhnya.  

Sementara itu, Kepala Badan Pengelola Usaha (BPU) UNS Solo Eddy Triharyanto menambahkan, dalam kaitannya ikut mendorong perkembangan penelitian di Indonesia, pihaknya juga memiliki peran. Salah satu misinya adalah menumbuhkan layanan hak kekayaan intelektual (HKI). 

”Yang kita lakukan mulai dari sosialisasi, fasilitasi pendaftaran, hingga pendampingan. Kita juga mendorong  hilirisasi hasil penelitian hingga komersialisasi dan inovasi” tandasnya. 
(Harun Alrosid)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: