KAMIS, 22 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- Upaya penyerapan gabah dari para petani padi di sejumlah kabupaten di Provinsi Lampung terbilang rendah akibat banyaknya petani yang menjual hasil panen padinya ke luar wilayah Lampung dengan salah satu alasan sudah terikat dengan pemodal, mulai dari biaya operasional hingga berhubungan dengan kebutuhan sehari hari.


Ketua tim serapan gabah (Sergab) Provinsi Lampung dari Mabes Tentara Nasional Indonesia (TNI), Brigjen TNI M. Afifudin yang telah melakukan koordinasi dengan satuan kerja pengadaan gabah/beras Perum Bulog Divre Lampung yang sebelumnya melakukan kunjungan ke Kecamatan Palas Kabupaten Lampung Selatan mengakui hal tersebut sebagai kendala untuk mensukseskan program Sergab. Meski demikian ia meminta sejumlah pihak mencari solusi agar serapan gabah petani bisa dicapai dan program ketahanan pangan berjalan dengan baik.

Berdasarkan data kantor Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Palas, serta data Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas Pertanian Kecamatan Palas, Ujuk Kusnaedi kepada seluruh tim Sergab mengungkapkan, saat ini lahan sawah  di Kecamatan Palas yang memiliki 21 desa memiliki luas lahan 7.200 hektar. Potensi luasan lahan sebanyak tersebut terbagi dalam lahan sawah dan lahan kering dengan hasil panen cukup tinggi dengan rata rata panen padi mencapai 5-6 ton padi dan varietas padi ditanam petani rata rata varietas muncul.

Ia mengungkapkan, salah satu keistimewaan Kecamatan Palas sehingga bisa disebut sebagai lumbung padi adalah karena Palas bisa melakukan masa tanam saat musim gadu dan musim rendengan dengan sistem irigasi cukup bagus baik saluran primer hingga tersier.

Ia mengungkapkan saat ini luasan lahan sawah sebanyak 7.200 hektar sudah dipanen atau 80 persen sehingga masih tersisa sebanyak 1.200 hektar untuk musim rendeng dan berpotensi memenuhi target serapan gabah Provinsi Lampung bersama kabupaten lain.

Meski demikian ia mencatat produksi panen pada masa rendengan terdapat penurunan namun dirata rata tetap 5-6 ton perhektar. Hasil panen gabah sebanyak itu menurutnya masih tetap menjadi kendala untuk program serapan gabah yang sedang digalakkan oleh pemerintah.

“Kendala untuk target serapan gabah masih belum tercapai karena selama ini mitra Bulog tak berani bersaing dengan pedagang di pasaran yang berani membeli dengan harga tinggi dan lebih praktis,”ungkap Ujuk.

Hal lain yang menjadi persoalan tim sergab diantaranya adalah penjualan gabah oleh petani dan pebisnis gabah yang seringkali lolos dari pantauan karena dekat dengan Pulau Jawa sehingga banyak pembeli dari Pulau Jawa membeli langsung kepada petani dan membeli dalam kondisi gabah kering selanjutnya dijual di pulau Jawa dalam bentuk beras.

Berdasarkan catatan tim Sergab Kodim 0421/Lampung Selatan, Kapten Sukirno selaku Pasiter Kodim 0421/LS, yang disiagakan di Pelabuhan Bakauheni bahkan terdata 300 ton gabah dijual ke wilayah Karawang, Cianjur, Cikampek, Jakarta serta wilayah lain di Pulau Jawa.

Selain mendata penjualan gabah ke luar Lampung khusus di wilayah Lampung berdasarkan pantauan di kalangan petani ia mengungkapkan saat ini petani menjual beras setelah panen dengan kisaran harga dasar Rp3.700,-Rp3.800,- sementara proses sergab oleh TNI dan pemerintah untuk capaian serapan gabah khusus wilayah Lampung ditarget  sebanyak 500ribu ton gabah kering giling (gkg).

Serapan tersebut masih belum tercapai akibat pembelian oleh Bulog masih mempergunakan syarat syarat tertentu diantaranya kadar air batas tertentu dan harga lebih murah dibandingkan harga di pasaran.

“Saat ini daya saing yang masih rendah membuat petani justru lebih suka menjual gabah miliknya ke pembeli selain Bulog, sehingga perlu strategi khusus agar petani mau menjual padinya ke Bulog,”ungkap Ujuk.

Target serapan gabah sebanyak 500ribu ton di wilayah Lampung saat ini berdasarkan data tim Sergab Lampung sudah tercapai masih sebanyak 250ribu ton sehingga masih perlu mengejar target sebanyak 250ribu ton hingga akhir Juni. Beberapa wilayah pertanian diharapkan bisa memenuhi target tersebut sehingga tim sergab langsung turun ke lapangan melihat persoalan di lapangan.

Ketua tim serapan gabah (Sergab) dari Mabes Tentara Nasional Indonesia (TNI), Brigjen TNI M.Afifudin menegaskan, upaya serapan gabah petani harus dipahami sebagai upaya pemerintah membantu masyarakat yang ada di Indonesia khususnya di daerah lain.

“Selama ini pemerintah telah membantu petani dalam banyak hal mulai dari bibit, sarana pengairan sehingga pemerintah hanya menginginkan petani menjual padi ke Bulog yang akan dipergunakan untuk banyak keperluan masyarakat diantaranya raskin"ungkap Brigjen TNI M.Afifudin.

Upaya pembelian gabah dari petani juga melibatkan tim pembelian gabah/beras Perum Bulog Kansilog Kalianda. Sesuai komponen kualitas dalam Inpres No.5/2015 harga yang ditentukan diantaranya harga beras medium Rp 7.300 per kg, harga GKP Rp 3.700 per kg, harga GKG Rp 4.600 per kg.

Masa panen yang sudah dilakukan sejumlah petani di Palas dan kecamatan lain juga mulai dilakukan di Kecamatan Penengahan. Salah satu petani di Kecamatan Penengahan yang tengah melakukan panen, Sumilah (40) mengaku saat ini hasil panen padi pada masa tanam semester kedua tahun ini mengalami hasil cukup bagus dari segi tonase padi yang dihasilkan. Selain bobot yang cukup baik ia mengaku harga gabah paska panen cukup menjanjikan dengan harga rata rata mencapai Rp400ribu perkuintalnya dan merupakan harga yang cukup baik pada masa panen tahun ini.

“Meski harganya cukup baik tapi kami tetap harus mengembalikan hutang modal dari bos tempat kami meminjam uang untuk membeli pupuk dan obat obatan sehingga meski harga membaik tapi kami tetap memiliki tanggungan utang,”terang Sumilah.

Ia mengaku beban hutang tersebut yang menjadi salah satu faktor dirinya terikat dengan para tengkulak atau bos padi dan tidak bisa menjual padi hasil panen kepada pihak Bulog atau instansi lain yang mengupayakan penyerapan gabah untuk kebutuhan pangan lokal Lampung. Hasil pertanian seluas 1 hektar dengan rata rata hasil mencapai 6 ton diakui oleh Sumilah sebagian sudah dijual sebanyak 4 ton dengan menyisakan sebanyak 2 ton untuk kebutuhan makan keluarga.

Petani yang menanam padi varietas ciherang tersebut mengungkapkan ia mengetahui adanya program serapan gabah dari Bulog dan instansi terkait namun harganya terbilang lebih rendah akibat standar pembelian yang lebih ketat. Selain itu keterikatan dengan bos dalam hal permodalan mengakibatkan petani seperti dirinya menjual padi hasil panen ke pembeli padi tersebut.

Salah satu pembeli padi skala besar, Indra (50) yang menekuni usaha jual beli gabah dari petani mengaku selain melakukan pembelian gabah dirinya dikenal sebagai pemilik toko penjualan alat pertanian,pupuk dan obat obatan pertanian. Selain lebih mudah mendapatkan pupuk dan obat obatan dengan sistem bayar panen (Yarnen) bos pembeli padi juga tak enggan memberi pinjaman modal berupa uang bagi para petani saat ada kebutuhan mendesak diantaranya hajatan atau keperluan anak sekolah.

“Selama ini kami membeli gabah dari petani lalu dikeringkan dan dijual ke sejumlah kota di Pulau Jawa diantaranya ke Tasikmalaya dan Serang Banten karena mereka berani membeli padi dengan harga tinggi”terang Indra.

Ia mengaku bukan tidak tahu terkait upaya pemerintah melalui Bulog yang akan menampung padi milik petani namun adanya “budaya” meminjam permodalan dari bos penjual padi mengakibatkan petani mau tak mau menjual padi hasil panen kepadanya. Ia juga melihat selain dirinya banyak pemilik usaha jual beli padi justru mendapat modal dari luar daerah untuk membeli gabah hasil petani padi di Lampung atas permintaan perusahaan penggilingan padi dan diolah sedemikian rupa menjadi beras dengan label produksi daerah tertentu untuk meningkakan nilai penjualan.

Ia bahkan mengaku pernah mendapat permintaan dari pemodal di wilayah Karawang yang membeli padi di Lampung dan digiling di Karawang untuk selanjutnya hasil padi yang telah menjadi beras dijual kembali ke wilayah Lampung dengan merk dan pengakuan kualitas padi asal wilayah tertentu.

Khusus untuk penjualan gabah petani berdasarkan data BPS Lampung selama bulan Agustus bahkan Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung melakukan survei harga produsen gabah dengan mencatat sebanyak 43 observasi. Observasi didominasi oleh kelompok gabah kualitas gabah kering panen (GKP) dan tidak dijumpai kelompok gabah kualitas kering giling (GKG). Salah satu indikator penurunan harga gabah tersebut menurut kepala BPS Lampung,Yeane Irmaningrum, dalam keterangan tertulisnya harga gabah kering panen di tingkat petani maupun di lokasi penggilingan padi di Lampung pada Agustus 2016 turun disebabkan masuknya masa panen raya.

Ia mengungkapkan harga gabah tertinggi di tingkat petani saat ini hanya mencapai Rp4.600 perkilogram pada gabah kualitas GKP dengan varietas Ciherang di Kecamatan Punggur Kabupaten Lampung Tengah. Harga gabah terendah mencapai Rp3.800 perkilogram pada kualitas gabah GKP berupa varietas Mayang yang terdapat di Kecamatan Purbolinggo Kabupaten Lampung Timur dan harga tersebut berada di atas harga Pembelian Pemerintah (HPP) yaitu Rp3.700 perkilogram.

Yeane mengungkapkan penurunan rata-rata harga di tingkat petani merupakan faktor permintaan yang cukup banyak dari para pembeli gabah yang akan menjualnya dalam bentuk beras. Beberapa indikator tersebut bahkan telah dilakukan pendataan di lapangan dengan banyaknya petani yang lebih memilih menjual seusai panen dan sudah dibayar oleh para pembeli di pinggir sawah.

“Secara global harga gabah di tingkat petani maupun penggilingan turun selama bulan Agustus dan hingga September masih ada panen raya sehingga penurunan rata rata harga kelompok kualitas GKP di tingkat petani sebesar 3,20 persen dam di penggilingan turun sebesar 3,02 persen,” terang Yeane Irmaningrum.

Ia juga menyebutkan, harga GKP di tingkat petani dari Rp4.279,77 per kg menjadi Rp4.142,86/kg, dan di tingkat penggilingan dengan kelompok kualitas yang sama turun dari Rp4.359,77/kg menjadi Rp4.227,98/kg.

Dari keseluruhan observasi yang dilakukan selama Agustus 2016 pemantauan harga yang terbanyak berasal dari Kabupaten Lampung Timur 22 observasi (51,16%). Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Selatan masing masing masing 9 observasi (20,93 %), dan Kabupaten Pringsewu 3 observasi (6,98 %).


Selain itu BPS juga mencatat rata rata komponen mutu beras yang diperjualbelikan pada bulan Agustus 2016 menunjukkan hasil yang kurang baik dibandingkan bulan sebelumnya dilihat dari rata rata kadar air. Rata rata kadar air tercatat 13,23 persen pada bulan Juli dan 13,37 persen pada bulan Agustus. Selain itu rata rata kadar broken tercatat 15,78 persen pada Juli dan 14,74 persen pada Agustus.

Kondisi mutu beras juga mempengaruhi harga beras di pasaran diantaranya harga beras di tingkat penggilingan kualitas premium turun 3,18 persen dari Rp9.166 perkilogram menjadi Rp8.875 perkilogram. Rata rata harga beras kualitas asalam turun 0,49 persen fari Rp7.712 perkilogram menjadi Rp7.675 perkilogram. Sementara harga beras kualitas medium naik 0,90 persen dari Rp8.068 perkilogram menjadi Rp8.141 perkilogram.
[Henk Widi]
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: