SABTU, 3 SEPTEMBER 2016

SUMENEP --- Serapan garam rakyat di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur dinilai belum maksimal. Sampai sekarang masih banyak garam rakyat yang tidak terjual akibat banyaknya perusahaan enggan membeli dari petani. Sehingga memasuki masa garap produksi garam mereka merasa khawatir nantinya saat panen garam yang telah diproduksi tidak ada yang membelinya.


Pada musim kali ini penderitaan petani garam kian lengkap, selain kondisi cuaca yang tidak mendukung, pemasaran garam mulai tersendat, karena perusahaan swasta masih enggan membeli garam baru. Sehingga penyerapan garam tidak maksimal, karena perusahaan-perusahaan tersebut membeli garam hasil produksi PT. Garam yang tahun 2015.

"Jadi untuk sementara garam rakyat tidak dibeli, sehingga mereka memasarkan dengan cara eceran. Akibatnya garam yang hasil produksi petani tidak terserap secara keseluruhan," kata Ubaid Amrulloh, Ketua Asosiasi Masyarakat Garam Sumenep, Sabtu (3/9/2016).

Disebutkan, untuk musim kali ini pendapatan petani garam akan semakin sedikit. Kondisi cuaca yang baru stabil sangat berpengaruh terhadap perolehan hasil garam yang digarap. Sehingga dengan kondisi yang seperti ini diharapkan serapan garam rakyat nantinya bisa tinggi, supaya para petani garam tidak kelimpungan untuk memasarkan hasil panen garapannya.

"Kalau untuk garam rakyat yang tahun 2015 masih ada tidak terserap sekitar 30 persen, itupun petani memang sengaja tidak menjual melihat kondisi cuaca yang kurang baik. Tetapi untuk yang baru penyerapan garam dari gudang swasta masih belum ada, itupun produksi di petani juga belum seberapa, paling dalam minggu ini sekitar 10 ton per hektar," jelasnya.


Bahkan sampai sekarang para petani rata-rata masih berjalan dua kali panen, hal itu diakibatkan kondisi cuaca yang tak kunjung membaik, sehingga proses produksi garam di daerah ini terhambat. Sedangkan harga garam rakyat masih belum ada perubahan dari sebelumnya, yaitu untuk KW 1 harganya hanya Rp. 500 per kilogram dan KW 2 harganya sebesar Rp. 450 per kilogram.
[M. Fahrul]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: