RABU, 7 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- PT Penyelamat Alam Nusantara (PAN) selaku perusahaan penggemukan ternak sapi di wilayah Kabupaten Lampung Selatan mulai melakukan aktifitas land clearing (pembersihan lahan) di lahan seluas 15 hektar dari total luas lahan yang akan digunakan sebagai lokasi peternakan sapi seluas 563 hektar dan sudah mendapat izin dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup.


Proses pembersihan lahan menggunakan dua alat berat tersebut diantaranya membangun fasilitas jalan dan jembatan untuk beberapa lokasi peternakan yang berada di kawasan register Way Pisang tersebut. Humas PT PAN,Komarudin, saat ditemui di lokasi pembangunan dan pengembangan peternakan mengaku proses pembangunan lahan peternakan ditargetkan akan selesai untuk proses pembangunan beberapa fasilitas penunjang. Satu fasilitas penunjang yang sudah dibangun diantaranya area perkantoran yang berada tepat di jalan lintas Ketapang dan siap difungsikan.

“Saat ini sudah dilakukan proses pembersihan lahan untuk pembangunan area peternakan yang akan menjadi sentra peternakan sapi di Kecamatan Ketapang dan direncanakan jadi salah satu lumbung ternak,” ungkap Komarudin saat ditemui Cendana News di lokasi pembangunan area peternakan, Rabu (7/9/2016)


Selain area perkantoran untuk pekerja, peternakan PT PAN juga akan dilengkapi dengan Rumah Potong Hewan (RPH) yang akan digunakan sebagai lokasi pemotongan sapi yang selama ini jauh di Sidomulyo, area kandang sapi, lokasi gudang, lokasi pembuatan pakan, embung air, lokasi penanaman rumput gajah dan jagung untuk sumber pakan. Selain itu fasilitas karantina hewan juga akan disediakan untuk proses pengiriman ternak sapi ke wilayah Pulau Jawa.

Peternakan yang berada di Kecamatan Ketapang tersebut menurut Komar direncanakan akan digunakan untuk mengembangkan ternak sapi jenis sapi brahman yang berasal dari Australia. Pengembangan peternakan yang saat ini sedang digarap seluas 15 hektar dan akan berkembang menjadi ratusan hektar dan akan menjadi mata pencaharian bagi ribuan warga di Kecamatan Penengahan, Kecamatan Sragi dan Kecamatan Ketapang.


Lokasi yang berada di dekat persemaian permanen Desa Karangsari tersebut merupakan bentuk integrasi antara lokasi peternakan dan persemaian. Integrasi dua lokasi tersebut diantaranya ribuan bibit tanaman jenis eukaliptus, Gamalina, Akasia yang ditanam di area embung, Daerah Aliran Sungai (DAS) sepanjang 2 kilometer.

“Jadi bibit dari lokasi persemaian akan bisa digunakan untuk proses penanaman di sekitar peternakan dan sekaligus untuk proses penghijauan karena selama ini lahan hanya ditanami jagung” terang Komarudin.

Area peternakan yang akan digunakan sebagai lokasi penggemukan sapi tersebut akan saling berkaitan dengan lokasi persemaian permanen diantaranya kotoran sapi akan digunakan untuk pupuk untuk proses pembibitan dan selanjutnya bibit akan digunakan untuk penghijauan di sekitar kawasan register.


Penanaman tumbuhan di area peternakan yang akan ditanam di area peternakan diantaranya tanaman kayu jenis laban, bendo, pekik yang merupakan tanaman endemik wilayah register I Way Pisang yang kini sudah sukar ditemukan. Selain sudah tak dibudidayakan sebagian tanah register I Way Pisang seluas 35 ribu hektar yang sudah dialihfungsikan menjadi lahan pertanian jagung.

Selain akibat tidak ada pohon pohon endemik berakibat burung-burung endemik di lahan register I Way Pisang kini tak ditemukan lagi. Komar mengungkapkan burung endemik di Register 1 yang pernah ada diantaranya burung gelatik selain itu reptil diantaranya ular kobra.

“Jika integrasi antara tanaman endemik dan peternakan diterapkan maka kawasan ini akan kembali hijau dan mendatangkan hewan hewan yang sudah punah di sekitar sini” ungkap Komar.

Lokasi peternakan untuk penggemukan sapi di Kecamatan Ketapang tersebut selain dijadikan sentra peternakan juga akan menjadi lokasi untuk proses edukasi penggemukan sapi yang selama ini dikembangkan oleh masyarakat. Sebab menurut Komar saat ini masyarakat masih melakukan proses peternakan sapi dengan cara tradisional dengan sistem kandang sapi di sekitar rumah.

Warga yang tinggal di Karangsari, Joni, mengaku mendukung PT PAN yang akan membangun peternakan sapi dengan alasan sebagian besar warga merupakan petani jagung yang bisa digunakan untuk pakan ternak sapi. Sebagian warga yang memiliki lahan pertanian jagung bahkan siap bekerjasama dalam penyediaan pakan sapi dari hasil pertanian jagung.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: