JUMAT, 23 SEPTEMBER 2016

JAKARTA --- Dalam persidangan lanjutan "Kopi Sianida" episode ke 24 dengan terdakwa Jessica Kumala Wongso yang berlangsung di Gedung Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat pada awalnya sempat "memanas" diwarnai dengan perdebatan dan adu argumen sengit antara pihak pengacara Jessica Kumala Wongso dengan pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Kisworo S.H. (tengah) Ketua Majelis Hakim yang memimpin persidangan Kopi Sianida
Permasalahan pemicu "kegaduhan" adalah terkait dengan kehadiran seorang ahli hukum pidana materiil yang bernama Prof. Mascruhin Ruba'i yang dihadirkan oleh pihak kuasa hukum sekaligus pengacara Jessica Kumala Wongso dalam persidangan di PN Jakarta Pusat, Kamis (22/9/2016).

Prof. Masruchin Ruba'i yang belakangan diketahui sebagai ahli hukum pidana materiil tersebut juga tercatat merangkap sebagai dosen tetap yang mengajar mata kuliah hukum pidana materiil di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur.

Kegaduhan terjadi pada saat pihak pengacara Jessica menanyakan pertanyaan tentang permasalahan hukum formal dalam persidangan "Kopi Sianida" kepada ahli Mascruhin Ruba'i terkait dengan tahapan proses otopsi jenazah Wayan Mirna Salihin.

Tak lama kemudian, salah satu pihak JPU langsung bereaksi dan menyampaikan keberatan kepada Majelis Hakim yang memimpin persidangan terkait dengan pertanyaan yang diajukan oleh salah satu anggota tim pengacara hukum Jessica tersebut kepada ahli hukum pidana materiil Masruchin Riba'i.

JPU menganggap pertanyaan yang diajukan salah satu anggota pengacara Jessica tersebut dianggap tidak tepat, karena sebenarnya pertanyaan tersebut bukanlah termasuk hukum pidana materiil, namun masuk dalam ranah pidana hukum formil.

"Mohon maaf Yang Mulia, kami sebagai Jaksa Penuntut Umum (JPU) merasa sangat keberatan dengan pertanyaan tentang seputar pemeriksaan atau otopsi jenazah Wayan Mirna Salihin, karena kami menganggap pertanyaan tersebut bukanlah termasuk bidang hukum materiil namun lebih cenderung masuk hukum pidana formil" kata seorang anggota JPU kepada Majelis Hakim dalam persidangan, Kamis siang (22/9/2016).

"Yang Mulia Majelis Hakim, kami dari tim kuasa hukum sekaligus pengacara terdakwa Jessica Kumala Wongso hanya sekedar bertanya dan ingin mengetahui secara pasti bagaimana sebenarnya prosedur tahapan otopsi atau pemeriksaan jenazah kepada saksi ahli itu saja,  ahli pidana materiil tentu juga mengetahui pidana formil" kata seorang anggota tim kuasa hukum sekaligus pengacara Jessica.

Untuk meredakan perdebatan sengit antara kedua belah pihak di dalam ruangan persidangan, akhirnya Kisworo S.H. sebagai Ketua Majelis Hakim yang memimpin jalannya persidangan memutuskan bahwa saksi ahli boleh menjawab pernyataan tentang hukum pidana formil maupun hukum pidana materiil, namun tentu saja hanya sebatas apa yang diketahui dan dikuasai oleh saksi ahli.
(Eko Sulestyono)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: