SENIN, 26 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- Petugas Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas I Bandar Lampung wilayah kerja Pelabuhan Bakauheni kembali “digoda” untuk meloloskan pengiriman satwa liar tak dilindungi jenis burung yang akan dilalulintaskan dari Pulau Sumatera menuju Pulau Jawa. Petugas bahkan diiming-imingi uang ratusan ribu untuk meloloskan ratusan ekor burung yang dikirim menggunakan bus antar kota antar provinsi (AKAP) asal Provinsi Riau yang akan menuju ke DI Yogyakarta tersebut. Meski demikian petugas tidak bergeming dan tetap melakukan tugas mengamankan ratusan ekor burung tanpa dokumen tersebut.


Menurut penanggungjawab kepala kantor BKP Wilker Bakauheni, Drh. Azhar, upaya menyelundupkan ratusan ekor burung tersebut terjadi pada Senin dini hari (26/9/2016) jam 00.05 WIB saat petugas karantina melakukan razia rutin di depan pintu masuk Pelabuhan Bakauheni. Bus AKAP Prayogo AB 7044 JN yang dikemudikan oleh SI tersebut bahkan memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi untuk menghindari pemeriksaan petugas dan nyaris menabrak petugas yang berjaga di pintu toll gate pembelian tiket.

“Modus sopir merupakan modus kedua kalinya menggunakan Bus Prayogo setelah sebelumnya juga menyelundupkan ratusan burung bahkan nyaris menabrak petugas dan langsung kita periksa ternyata di dalamnya berisi ratusan ekor burung tanpa dokumen” ungkap penanggungjawab kepala kantor BKP Wilker Pelabuhan Bakauheni Drh. Azhar saat dikonfirmasi media Cendana News Senin pagi (26/9/2016)

Saat petugas akan melakukan pemeriksaan dan menemukan beberapa keranjang buah berisi ratusan ekor burung, ungkap Drh. Azhar, sopir Bus Prayogo sempat mengeluarkan uang ratusan ribu untuk menyogok petugas dengan maksud supaya meloloskan pengiriman burung tersebut. Namun petugas karantina pertanian menahan burung liar asal Riau dengan menggunakan Bus Prayogo AB 7044 JN tersebut.

Petugas yang sempat dihalangi untuk masuk ke dalam bus tersebut tak kehilangan akal dan akhirnya memeriksa bangku belakang dan pintu belakang yang akhirnya didapati sejumlah satwa jenis burung dalam jumlah banyak terdiri dari pleci, betet, gelatik, teledekan berkisar kurang lebih 500 ekor burung.


Saat petugas menanyakan kepada sopir ternyata ratusan ekor  burung tersebut tidak disertai dokumen apapun dari daerah asalnya, kemudian burung tersebut disita oleh petugas karantina. Akhirnya petugas membawa burung burung tersebut ke kantor karantina pertanian Bakauheni untuk diamankan.

Sekira jam 01.30 WIB datang petugas kepolisian dari Polres lampung selatan dengan inisal D bersama dengan 2 anggota lainnya yg datang ke kantor karantina pertanian dengan membawa surat Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari Lampung selatan untuk membuat sertifikat karantina.

Setelah kedatangan petugas polisi tersebut kemudan petugas PPNS dari kantor  Karantina Wilker Bakauheni menanyakan milik siapa burung tersebut dan menggunakan sarana alat angkut apa, dan keberadaan kendaraan tersebut. Kemudian anggota Polres tersebut mengaku bahwa dirinya pemilik ratusan ekor burung tersebut.

Setelah dilakukan penyelidikan terkait pengiriman ratusan ekor burung dengan menggunakan bus Prayogo yang ada di pos Pelabuhan tersebut petugas PPNS langsung  memberitahukan kejadian tersebut kepada penanggungjawab wilker Bakauheni. Ternyata setelah diselidiki bahwa burung yang tertangkap di dalam pelabuhan tanpa ada dokumen dan ada dugaan ada oknum yang sengaja melindungi pengiriman ratusan ekor burung tanpa dokumen tersebut.

“Dugaan kami dan berdasarkan pengakuan sopir burung tersebut bisa lolos karena sudah ada jaminan dari oknum yang menjamin bus tidak diperiksa dan pasti lolos” terang Drh.Azhar.

Lolosnya pengiriman ratusan ekor burung dari berbagai moda transportasi bus AKAP dengan modus menyuap petugas diduga selama ini burung burung yang tidak ada dokumen dari daerah asal dan tidak dilaporkannya kepada petugas di becking oleh oknum tersebut guna mempelancar. Burung milik Saidina Ali asal Riau dan tidak bisa dibuatkan surat sertifikat karantina tersebut akhirnya diserahkan ke Balai Karantina Pertanian di Panjang Bandar Lampung untuk kemudian diserahkan ke Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu wilayah Lampung.

Sebelumnya dalam upaya mengawasi pelalulintasan media pembawa hewan karantina BKP juga berhasil mengamankan ratusan ekor unggas liar jenis burung pleci dengan jumlah total sekitar 750 ekor. Ratusan ekor burung tersebut sebagian mati dalam perjalanan dan hanya bisa diselamatkan sebanyak 690 ekor burung hidup sehingga akhirnya jenis pleci tersebut secepatnya terpaksa dilepasliarkan oleh petugas karantina di area kantor BKP Bakauheni untuk menghindari kematian jenis burung berkicau itu lebih banyak. Sebagian burung yang sudah mati dimusnahkan dengan cara dibakar untuk menghindari penyakit dari media pembawa hama penyakit hewan karantina (HPHK).

Ratusan ekor burung tersebut dibawa dalam sebanyak 16 keranjang buah yang diletakkan dalam bagasi kendaraan bus. Namun saat bus penumpang tersebut akan membeli tiket di pelabuhan Bakauheni petugas polisi di Seaport Interdiction Bakauheni mengamankan puluhan keranjang buah berisi ratusan ekor burung pleci tersebut.


Ratusan ekor burung tersebut menurut ditemukan dalam bagasi penumpang berikut barang-barang bawaan penumpang pada bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) Nomor Polisi BH 7794 FU dikendarai oleh Heri yang akan menuju ke Jakarta.

Berdasarkan keterangan sopir ratusan ekor burung tersebut dibawa dari Solok Provinsi Sumatera Barat dan rencananya akan dikirim ke Pasar Rawangun Jakarta Timur untuk dijual ke sejumlah pasar burung.

Pelalulintasan satwa unggas liar jenis burung pleci tersebut menurut petugas melanggar Undang Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 1992 tentang karantina hewan ikan dan tumbuhan. Pelanggaran yang dilakukan diantaranya karena hewan tersebut tidak dilengkapi dokumen yang dipersyaratkan oleh karantina pertanian yaitu surat keterangan kesehatan hewan dari daerah asal, tidak dilaporkan kepada petugas karantina di tempat pengeluaran serta tidak memiliki dokumen apapun dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: