JUMAT, 2 SEPTEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Sosialisasi Dasar Negara Pancasila di kalangan para pelajar, sangat penting dalam pembentukan moral dan karakter bangsa Indonesia. Apalagi, saat ini pendidikan budi pekerti dan Pendidikan Moral Pancasila (PMP) tak ada lagi dalam kurikulum pendidikan.


Tak hanya itu, Penataran P4 (Pedoman, Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) pun juga telah ditiadakan. Padahal, mempelajari dan mendalami Pancasila sejak usia sekolah merupakan keharusan bagi bangsa ini, agar benar-benar menjadi bangsa yang berkarakter Pancasila. Demikian ditegaskan Anggota DPR/MPR RI, Titiek Hediati Soeharto, dalam paparannya di hadapan 100 siswa-siswi Sekolah Menengah Atas Negeri 7 Yogyakarta, Jumat (2/9/2016).

Titiek Soeharto juga mengatakan, melalui pemahaman dan pendalaman Pancasila, ancaman bangsa berupa munculnya generasi yang terjebak dan dilemahkan melalui serangan narkoba, seks bebas maupun budaya kekerasan horisontal (tawuran antar pelajar) bisa diminimalisir. Selain itu, Pendidikan Pancasila sejak usia dini juga penting dilakukan dalam rangka menyiapkan generasi penerus bangsa yang memahami benar jati diri bangsanya.

Dijelaskan lagi, Pancasila sebagai Dasar Negara harus dijadikan landasan gerak seluruh sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Segala peraturan dan kebijakan harus merupakan penjabaran dari Pancasila, yang juga merupakan ideologi bangsa. Karenanya, setiap warga negara tanpa kecuali harus menjaga, melestarikan dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.


Titiek Soeharto mengingatkan, kemerdekaan RI merupakan hasil perjuangan para pendahulu bangsa yang telah dengan rela mengorbankan jiwa dan raganya. Maka, segenap bangsa ini sudah seyogyanya mempertahankan kemerdekaan tersebut dengan cara mengisinya melalui pembangunan, demi terwujudnya bangsa yang maju, adil dan makmur.

"Bagi para pelajar, tentu sudah seharusnya mengisi masa studinya dengan giat belajar agar kelak bisa mengisi estafet kepemimpinan bangsa yang berdasarkan Pancasila" ujar Titiek.

Sementara itu, perihal tidak adanya lagi mata pelajaran PMP dan P4, Kepala Sekolah SMAN 7 Yogyakarta, Budi Basuki mengatakan, selama ini mata pelajaran PMP memang mengalami beberapa kali perubahan. Dari PMP berganti menjadi PPKN (Pendidikan Pancasila dan Kewarganergaraan), kemudian berganti lagi menjadi PKN (Pendidikan Kewarganegaraan).

Saat ini, kata Budi, pendidikan Pancasila termasuk di dalam mata pelajaran PKN itu. Namun demikian, jelas Budi, muatan pelajaran Pancasila juga ada pada sejumlah mata pelajaran lain seperti Agama, Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Sosial dan sebagainya. 

"Apalagi, visi sekolah kami memang mempersiapkan generasi muda yang unggul, berkarakter dan siap bersaing di era global. Kekuatan anak-anak ada pada karakternya sebagai bangsa Indonesia, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika", pungkasnya. 
(koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: