MINGGU, 11 SEPTEMBER 2016

ENDE --- Jumlah wisatawan yang bertandang ke danau Kelimutu mengalami peningkatan drastis di tahun 2015 mencapai 62.957 orang dan hingga bulan Mei 2016, jumlah wisatawan mencapai 24.339. Dari jumlah tersebut wisatawan nusantara mencapai 20.785 orang dan wisatawan mancanegara mencapai 3.554 orang. Pada bulan Agustus wisatawan asing yang datang mencapai jumlah tertinggi selama ini yakni 3.184 orang.

Bunga Kecubung (Daura Metel) yang berderet di pintu masuk Taman Nasional Kelimutu
Saat mengunjungi Kelimutu Minggu (11/9/2016) Cendana News menemukan, hampir di setiap jenis pohon dan tanaman yang ada di dalam kawasan Taman Nasional Kelimutu diberi label nama pohon dalam bahasa daerah dan latin.

Daerah di sekitar Gunung Kelimutu dimana terdapat Danau Tiga Warna, banyak tumbuh pohon cemara gunung. Pohon ini banyak dijumpai sejak kita memasuki kawasan hutan di lereng Gunung Kelimutu hingga ke puncak danau.

“Puncak Danau Tiwu Ata Mbupu di sekitarnya di penuhi pohon cemara gunung yang dalam bahasa Lio disebut Bu yang banyak tumbuh di lereng-lereng bukit di sekitar danau,” ujar Ferdinandus Watu teman LSM yang menemani.

Tanaman Langka

Saat hendak memasuki pintu masuk TNK di pos penjagaan terdapat beberapa bunga terompet atau Kecubung yang sedang mekar. Petugas di pos penjagaan mengatakan bunga tersebut dalam bahasa daerah dinamakan Mbunge.

Papan petunjuk Arboretum di Taman Nasional Kelimutu
Dalam buku koleksi tanaman obat yang dikeluarkan Taman Nasional Kelimutu yang ditandatangani kepala Balai Taman nasional Kelimutu Ir. Sri Mulyani ,Msi disebutkan Kecubung (Daura Metel) merupakan tanaman obat dengan khasiat menginduksi mydriasis (dilatasi pupil) dan cycloplegia (kelumpuhan otot mata fokus).

Kecubung memiliki kandungan Alkaloid (85 % skopolamin dan 15 % hyoscyamine) hycoscin dan antropin. Perdu tidak berduri ini memiliki tinggi 2 sampai 4 meter.Daunnya tersebar berbentuk lonjong atau bundar telur lonjong.

Hasil inventarisasi flora oleh TNK dan LIPI (2007) diketahui,terdapat 78 jenis pohon yang terkelompok dalam 36 suku. Suku yang memiliki jenis terbanyak adalah Euphorbiaceae sebanyak 10 jenis serta Lauraceae sebanyak 7 jenis dan  Fabaceae sejumlah 6 jenis.

Selain itu terdapat Moraceae dengan 5 jenis,Myrtaceae dan Arecaceae masing-masing 4 jenis juga Actinidiaceae, Ulmaceae dan Meliaceae masing-masing berjumlah 3 jenis. Juga ada Melastomataceae, Ericaceae, Rubiaceae, Theaceae, Apocynaceae dan Elaeocarpaceae masing-masing berjumlah 2 jenis.

Ada juga 21 suku yang lain dimana masing-masingnya memiliki satu jenis.Balain TNK dan LIPI juga menemukan 2 jenis tumbuhan sebagai flora endemik Kelimutu yakni Uta Onga (Begonia Kelimutuensis) dan Turuwara (Rhododendron Renschianum).

Bunga Turuwawa (Rhododendron Renschianum).yang banyak tumbuh di sekitar danau Kelimutu
Ada pula satu ekosistem spesifik Kelimutu yaitu Ekosostem Vaccinium dan Rhododendron.

“Tanaman yang ada ini banyak yang dapat dipergunakan sebagai tanaman obat,” jelas  Ridwan Fauzi petugas TNK.

Dua jenis flora perlu diwaspadai kelangkaannya yaitu Jita atau Pulai (Alstnia Scholaris) dan Upe atau ketimun (Timonius Timon).Pohon Bu atau cemara gunung walaupun tersebar pada 3 zona namun tetap berada di daerah pegunungan karena tumbuhan ini adalah pioner yang mamputumbuh pada tanah bekas lava dan timbunan abu vulkanik.

“Sebagai kawasan konservasi,yang perlu diwaspadai dalam pelestarian flora adalah jenis-jenis yang jumlahnya terbatas dan persebarannya hanya pada satu zona saja,’ terangnya.

Sarana Pendidikan

Taman Nasional beber Ridwan memiliki tiga fungsi utama yang diemban, yaitu fungsi perlindungan, fungsi pemanfaatan dan fungsi pengawetan merupakan benteng terakhir kawasan konservasi yang mutlak untuk dipertahankan kelestariannya.

Cemara gunung atau Bu (Casuarina Junghuniana) yang banyak tumbuh di gunung kelimutu dan di lereng bukit dekat dana Tiwu Ata Mbupu
Taman Nasional Kelimutu (TNK) sebagai salah satu taman nasional di Indonesia berupaya memberikan manfaat maksimal kepada masyarakat sekitarnya melalui pendidikan. Sarana pendidikan mengenai keanekaragaman hayati flora di daratan Flores adalah Arboretum.

“Arboretum sebagai sarana pendidikan dan penelitian tentang jenis-jenis flora asli yang berada di Kawasan Taman Nasional Kelimutu,” paparnya.

Lanjut Ridwan, Arboretum ini memiliki luas 4,5 hektar dan memiliki 79 jenis pohon dimana terdapat 15 jenis tanaman bawah, 250 tanaman serta 3 tanaman endemik. Arboretum papar ridwan memiliki jalur tracking, tempat duduk dan shelter. Pengunjung pun bisa duduk sambil mendengar kicauan burung.

Minat wisatawan berkunjung ke Arboretum sebut Ridwan, masih rendah karena sebagian besar wisatawan umumnya datang hanya untuk melihat Danau Kelimutu. Disamping itu, pengunjung Arboretum adalah wisatawan dengan tujuan tertentu (penelitian maupun pendidikan).

“Selain itu pula, terdapat kendala yaitu fasilitas yang masih belum bisa dioptimalkan karena keterbatasan SDM dan biaya,” paparnya.

Untuk menjaga agar taman Arboretum tetap terjaga dengan baik, TNK melakukan berbagai langkah papar Ridwan yakni pemeliharaan jalur tracking, perbaikan papan nama jenis tumbuhan, penambahan koleksi tumbuhan dan melakukan perbaikan tumbuhan yang rusak.

“Kami selalu ingatkan pengunjung agar jangan merusaki tanaman yang ada dan mengambilnya karena banyak tanaman langka yang hanya ditemukan di puncak gunung Kelimutu,” pesannya.
(Ebed de Rosary)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: