JUMAT, 9 SEPTEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Bermula dari pemanfaatan sampah rumah tangga untuk dijadikan pupuk organik, para ibu warga Dusun Kalongan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT), dengan menanam pisang sebagai komoditi pilihannya. Pupuk organik produksi sendiri pun kemudian digunakan untuk menyuburkan pohon-pohon pisang yang ditanam di lahan kas dusun setempat.


Kelompok Wanita Tani (KWT) Kartini Dusun Kalongan, berdiri sejak 2014 dan telah berbadan hukum. Pendirian KWT tersebut tidak lepas dari berdirinya Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Kompak Maju, yaitu kelompok masyarakat yang berinisiatif mengolah sampah untuk dijadikan pupuk organik yang dipelopori oleh Kepala Dusun setempat, Kismiyadi.

Seiring dengan berdirinya KSM Kompak Maju yang berhasil dalam pembuatan pupuk organik baik padat maupun cair, lalu warga ibu-ibu diberdayakan untuk bercocok tanam untuk memanfaatkan pupuk organik yang telah berhasil diproduksi secara rutin tersebut.

Kepala Dusun Kalongan, Kismiyadi, ditemui Jumat (9/9/2016) menjelaskan, para ibu kemudian memilih pisang sebagai tanaman yang dibudidayakan, karena faktor kemudahan dari cara pembudidayaannya dan relatif sedikit gangguan hamanya. Kini, setelah dua tahun dirintis dengan susah payah, KWT Kartini Dusun Kalongan semakin berkembang, dengan adanya rumah produksi bagi pengolahan pisang dan rumah pembibitan pisang yang dinamai Green House atau Rumah Hijau.

Ketua KWT Kartini, Diana Lintanti mengatakan, dengan memiliki badan hukum, KWT yang dipimpinnya semakin mudah mengakses berbagai bantuan sehingga keberadaannya kian berkembang pesat. Sekarang, katanya, KWT Kartini memiliki empat bidang usaha yang meliputi budidaya pisang, simpan pinjam, sarana produksi pertanian (saprotan) dan pengolahan.

Dengan luas lahan pisang 600 meter persegi, KWT Kartini menanam sebanyak 150 pohon pisang. Beberapa jenis pohon pisang yang ditanam antara lain, pisang kandefis, pisang raja, pisang raja nangka dan pisang emas. Dari lima jenis pisang tersebut, pisang jenis kandefis paling banyak dibudi-dayakan karena kualitasnya yang bagus dan harga jualnya relatif lebih tinggi.

Selain mampu menyediakan bibit dan buah, KWT Kartini yang telah memiliki rumah produksi pengolahan pangan juga membuat beragam hasil olahan berbahan pisang. Antara lain, kue brownies, ekroll, dan bahkan kulit pisangnya mampu diolah menjadi es krim.

Namun demikian, kata Diana, saat ini pihaknya belum memperoleh izin PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga) yang diperlukan untuk bisa menjual hasil olahan pangannya kepada masyarakat luas. Karena itu, sementara ini berbagai produk olahan pangannya hanya dikonsumsi untuk warga sendiri.

PIRT, jelas Diana, merupakan lisensi bagi produk industri rumahan yang menyatakan jika suatu produk tersebut telah memenuhi persyaratan keamanan pangan, yang antara lain meliputi higienitas produk dan sarana prasarana termasuk air dan sanitasi yang digunakan dalam proses produksinya. Kendati belum memiliki PIRT, Diana mengaku jika semua proses produksi pangannya telah memenuhi persyaratan.

"Kami sedang mengajukan permohonan izin PIRT itu, dan mungkin tidak lama lagi akan turun," katanya.


KWT Kartini saat ini beranggotakan 30 orang. Namun dalam proses budidaya pisang, hampir setiap warga di Dusun Kalongan menanam pohon pisang di pekarangan rumah. Selama ini pun, KWT Kartini juga mendapatkan berbagai bantuan dan pendampingan atau penyuluhan budidaya pisang dari Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman.

"Selain untuk memberdayakan warga, tujuan didirikannya KWT tersebut juga untuk menambah pendapatan warga melalui sektor pertanian dan olahannya, sehingga diharapkan kesejahteraan warga juga bisa meningkat,"pungkasnya.
[Koko Triarko] 
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: