SABTU, 24 SEPTEMBER 2016

JAKARTA --- Grup musik tradisional Lingkung Seni Binangkit dan Ligar Kencana dari Cipanas, Cianjur, Jawa Barat merupakan gabungan pengusung kebudayaan tradisional asli khususnya Tari Merak, Sulanjana (Jaipong klasik), dan lakon Lengser.


Tari Merak adalah tari tradisional dengan sinopsis kumpulan burung merak jantan yang pada suatu ketika meliuk-liuk memamerkan keindahan bulu-bulu ekornya yang berwarna-warni untuk memikat merak betina.

Implementasi gerakan merak ini coba di tuangkan oleh seorang koreografer Tanah Sunda bernama Raden Tjetjep Somantri pada pertengahan tahun 1950 yang akhirnya terciptalah maha karya bernama Tari Merak.

"Sebenarnya tari merak ini merupakan sebuah simbol dari bagaimana sebenarnya kebahagiaan kaum pribumi menyambut sesuatu hal yang baik. Jadi pada perkembangannya tarian ini pastinya sering dipentaskan pada perhelatan besar untuk menyambut tamu maupun acara resepsi pernikahan baik tradisional maupun modern," jelas Haseli, ketua rombongan grup kepada Cendana News.

Tari Merak diiringi oleh musik tradisional Sunda atau musik Degung. Khusus bagi grup musik tradisional dari Lingkung seni Binangkit dan Ligar Kencana, mereka biasanya menggunakan 9 (sembilan) pemain musik yang nantinya berkolaborasi dengan masing-masing alat musik seperti : gamelan, kecapi, gendang, gong, seruling, ditambah seorang sinden.

"Penarinya sejak awal tiga orang saja, akan tetapi ada beberapa kreasi yang seringkali menampilkan tari merak dalam formasi beberapa pasang penari yang mengisahkan burung merak jantan dan betina yang sedang bercengkerama. Akan tetapi konsep aslinya sebenarnya hanya tiga penari saja," lanjut Haseli.

Haseli juga menerangkan mengenai kostum yang digunakan dalam Tari Merak terbagi dalam tiga bagian besar yakni kepala, wajah sampai belakang kepala, dan tubuh. Untuk kepala penari mengenakan mahkota (siger) dengan warna menyala (terutama jika terkena lampu). Akan tetapi permainan warna yang digunakan juga harus sesuai dengan properti yang melekat dibagian tubuh penari agar terlihat cocok.

Untuk bagian wajah, maka penari akan dirias atau didandani secantik mungkin lengkap dengan anting atau hiasan telinga (sesuping) berwarna cerah namun sesuai atau cocok dengan mahkota. Sedangkan untuk belakang kepala, penari menggunakan sanggul yang diberi istilah "garuda mungkur". Dan sanggul inilah ciri khas yang menandakan bahwa Tari Merak ini merupakan tarian burung merak jantan.


Berlanjut ke bagian tubuh penari, maka penari akan menggunakan aksesoris yang terbagi menjadi lima bagian, yaitu :

1. Penutup dada : kain yang halus berwarna-warni, melingkar didada penari sampai ke bagian bawah perut penari tersebut (seperti kemben). Agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan maka biasanya penutup dada akan dibuat lengkap dengan tali pengaman agar tidak mudah tanggal kebawah saat melakukan gerakan-gerakan menari diatas panggung. Namun terkadang bagi penari profesional mereka banyak yang sudah bisa mengontrol gerakan sehingga tidak memerlukan tali lagi untuk dibagian ini.

2. Kain panjang melingkar mulai dari leher hingga bagian dada penari. Bagian ini biasa disebut "Apok" (sama seperti yang digunakan dalam tari jaipong tradisional).

3. Penari menggunakan sayap atau sejenis selendang yang fungsinya sama dengan sampur dalam tari jaipong tradisional. Akan tetapi perbedaannya adalah sayap dalam Tari Merak ini dibuat sedemikian rupa menyerupai ekor burung merak yang mengembang indah. Oleh karena itu, agar benar-benar mewakili keindahan burung merak maka sayap dihiasi beragam warna menarik dan menyala-nyala layaknya ekor burung merak.

4. Sabuk pinggang.

5. Sampur (sejenis selendang dileher penari dalam tari jaipong).

Terakhir adalah bagian bawah, yakni rok panjang dan gelang kaki sebgaai penambah keindahan. Properti bagian bawah dari penari juga harus memiliki kesesuaian warna dengan bagian tubuh dan atas dari penari agar serasi.

"Sedangkan untuk kelengkapan lainnya dapat ditambahkan gelang tangan, cincin, dan kilat bahu untuk menambah keindahan paras si penari," tambah Haseli.

Sebagai tarian untuk menyambut tamu, maka seringkali Tari Merak dipasangkan dengan Lengser, yaitu sosok tetua adat yang bertugas menyambut tetamu (para tamu) di muka ruangan. Selain dituakan, sosok Lengser ini merupakan perwujudan seorang tokoh yang arif dan bijaksana di mata masyarakat namun ternyata ada sisi lain dari Lengser yang menjadi daya tarik tersendiri yaitu ia adalah sosok periang yang sering bertingkah lucu juga.

"Jadi dalam penyambutan tamu maupun pembukaan suatu acara, biasanya Lengser akan maju ke depan seperti layaknya berpantomim, barulah diikuti oleh para penari Tari Merak," pungkas Haseli.

Harapan kedepan dari Haseli dan rekan-rekannya di Grup seni tradisional Lingkung seni Binangkit dan Ligar Kencana adalah kedepannya bisa semakin matang lagi dan menemukan kreasi-kreasi baru yang bisa diadaptasikan menjadi sebuah Tari kreasi modern bernafaskan budaya asli Jawa Barat.

Akhirnya, budaya bangsa Indonesia sangat beragam dan mewakili keindahan serta kearifan lokal masing-masing daerahnya. Dan Tari Merak berikut sosok Lengser mewakili bagaimana masyarakat tanah pasundan yang begitu ramah dan bersahaja terlihat begitu menyatu dalam keseimbangan yang dibangun bersama-sama dengan keindahan alam yang ada disekitarnya. Suatu kekayaan budaya yang tak ternilai harganya dan hanya ada di Indonesia.
[Miechell Koagouw]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: