SENIN, 26 SEPTEMBER 2016

SOLO --- Pemerintah melalui Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) tengah berupaya menekan ketergantungan impor gula pasir dari luar negeri. Salah satunya dengan pengembangan gula merah kristal, inovasi dari Universitas Jendral Soedirman (Unsoed). 


“Kita saat ini tengah konsentrasi pengembangan sekaligus membuat kemasan yang baik untuk gula merah kristal yang berasal dari pengembangan Unsoed Poerwokerta. Gula merah kristal ini sudah banyak dimanfaatkan masyarakat di Bayumas,” demikian papar Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristek Dikti, Jumain Appe, seusai workshop spin off pemasaran produk hasil penelitian dan pemetaan TRL, yang digelar Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Senin siang (26/9/16). 

Dijelaskan, di Kemenristek Dikti saat ini ada 7 pengembangan inovasi bahan pangan untuk mendorong terwujudnya Swasembada Pangan Nasional. Salah satunya adalah pengembangan gula merah kristal yang sudah dipelopori di Poerwokerta. Potensi kelapa (aren) di Indonesia yang kaya menjadi sumber daya alam guna menekan kebutuhan gula pasir selama.  Diakui Jumian, selama ini ketergantungan impor gula pasir dari luar negeri cukup besar. “Oleh karena itu, kita tekan dengan menggunakan gula merah kristal,” tekannya.

Keberadaan gula merah kristal ini rupanya sudah di ekspor ke luar negeri. Meskipun kata Dirjen Penguatan Inovasi, ekspor gula merah kristal ke Jerman melalui Malaysia. 

“Jadi selama ini Malaysia yang sudah mengekspor gula merah kristal kita ke Jerman. Dia (Malaysia) yang mengemas gula merah kristal dan mengekspornya. Kita harus kembangkan juga tapi dengan merek Indonesia,” jelasnya. 

Kemenristek Dikti bersama dengan Perguruan Tinggi di Indonesia selama dua tahun terakhir sudah banyak meluncurkan hasil inovasi terhadap pangan maupun kesehatan. Lebih dari 200 inovasi ini yang diluncurkan Perguruan Tinggi guna mendukung pengembangan pangan nasional.  Salah satunya adalah hasil inovasi varietes padi dari Institut Pertanian Bandung (IPB), yang telah sukses meluncurkan varietes PIB 3S. 

“Varietes jenis padi ini sudah memecahkan rekor Muri dengan hasil panen terbanyak. Dari rata-rata per hektarnya bisa menghasilkan 5-6 ton, namun dengan varietes ini mampu mencapai 8,5 ton padi per hekatarnya,” terangnya. 


Melalui inovasi ini, Kemesristek Dikti terus mendorong Perguruan Tinggi untuk terus berinonasi agar menghasilkan panen yang jauh lebih banyak. Disamping menggunakan varietes unggulan, pemerintah saat ini juga tengan konsentrasi penggunaan sistem organik pada tanaman pangan. Penggunaan sistem organis dipercaya mampu meningkatkan hasil pertanian dengan jumlah yang signifikan. 

“Kita coba tingkatkan per hektarnya menjadi 10-12 ton beras.  Sedangkan untuk lahan Marginal, kita gunakan varietes pengembangan dari Unsoed yang semula 3 ton kita tingkatkan menjadi 6 ton,” pungkasnya. 
[Harun Alrosid]

Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: