JUMAT, 30 SEPTEMBER 2016

TRENGGALEK --- Pemerintahan Kabupaten Trenggalek memberikan tanggapan terkait permasalahan pembangunan Jalur Lintas Selatan (JLS) di Jalan Munjungan Trenggalek antara Forum Komunikasi Munjungan (FKM) dengan kontraktor PT. RBU. 


Sebelumnya ketua FKM, Bukari menyebutkan, dari awal proses pembangunan JLS banyak kesalahan yang dilakukan oleh PT. RBU sebagai kontraktor. Setelah mengumpulkan semua bukti kesalahan yang dilakukan oleh PT. RBU, masyarakat pernah melakukan demo guna memprotes proyek asal-asalan ini.

Menyikapi hal tersebut, Kabag Humas dan Protokol Pemkab Trenggalek, Yuli Priyanto menjelaskan seluruh rangkaian proyek sudah memenuhi standar prosedur.

"Kami memberikan klarifikasi sekaligus bukti-bukti dokumentasi kalau kontraktor sudah bekerja sesuai prosedur," jelasnya saat dihubungi Cendana News, Jumat (30/9/2016).

Menurutnya, campuran untuk pemasangan batu Tembok Penahan Jalan (TPJ) dan Saluran di sepanjang jalur jalan telah sesuai dengan Job Mix Design dan hasil Tes Mortar.

"Bahkan ada Quality Control oleh Tim Eastern Indonesia Nation Road Inprovement Project dari AusAID tanggal 14 Juni 2016 lalu," ujarnya.


Yuli menambahkan pekerjaan pemasangan batu yang mengalami kerusakan yang diakibatkan oleh gerusan air yang diakibatkan oleh curah hujan yang tinggi masih dalam tanggung jawab penyedia jasa sampai dengan masa pemeliharaan.

"Kontraktor pun memperbaiki TPJ dan saluran," imbuhnya.

Pada beberapa lokasi terdapat kerusakan yang diakibatkan oleh banjir, tetapi telah dilakukan perbaikan oleh penyedia jasa, dimana Aggregat Klas A dan B telah sesuai dengan hasil Job Mix Formula (JMF) dan Spesifikasi Teknik sesusai dengan yang disyaratkan.

Terkait permasalahan penggunaan exavator yang digunakan oleh kontraktor yang dikritik oleh masyarakat, Yuli menerangkan pencampuran aggregat menggunakan exavator sedangkan untuk pencampuran Aggregat dengan semen (CTB) tetap menggunakan pencampuran secara mekanis menggunakan Mixer dengan kapasitas 3-4 m3 yang bertujuan agar terjadi pencampuran secara homogen antar material sehingga kendali mutu sesuai yang disyaratkan.

"Sedangkan titik gorong-gorong yang dibongar/perpanjangan sesuai gambar rencana dan hasil kajian teknis lapangan," cakapnya.

Yuli pun menegaskan papan nama yang dipermasalahkan sudah terpasang sejak awal pelaksanaan proyek. "Dan untuk penyedia jasa hanya membeli material dari suplayer setempat," pungkasnya.
[Charolin Pebrianti]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: