JUMAT, 9 SEPTEMBER 2016

ENDE --- Masyarakat Adat Wolotopo, Kecamatan Ndona Kabupaten Ende Kamis (8/9/2016) siang mendatangi kantor bupati. Kedatangan utusan masyarakat adat tersebut guna meminta Bupati Ende, Ir.Marselinus Y.W. Petu segera menyelesaikan konflik tapal batas.


Kepada wartawan di kantor Bupati Ende, para sesepuh adat tersebut mengatakan sengketa tapal batas tanah ulayat antara masyarakat agat Wolotopo dengan masyarakat adat Nua Kota Manu Londo yang masih berada dalam kecamatan Ndona masih terjadi.

Dalam pertemuan dengan masyarakat adat Bupati Ende meminta kepada para Mosalaki atau kepala komunitas adat dan tokoh masyarakat adat agar melakukan komunikasi dengan para Mosalaki dan tokoh masyarakat adat Nua Kota untuk menyelesaikan persoalan itu dengan baik agar tidak terjadi konflik berkepanjangan yang merugikan kedua pihak.

“Pemerintah hanya memediasi untuk menyelesaikan persoalan ini jika kedua masyarakat adat itu membuka diri dan mau menyelesaikannya,” kata Bupati Marsel.

Marsel menambahkan bahwa masyarakat Wolotopo dan masyarakat Nua Kota masih ada hubungan darah dan kekerabatan sehingga tidak perlu diperpanjang persoalan ini namun dilakukan pendekatan secara kekeluargaan untuk menyelesaikan konflik tersebut. 


Hironimus Nori, juru bicara mosalaki Wolotopo menyampaikan bahwa konflik kembali terjadi karena pada tanggal 18 Agustus 2016 lalu masyarakat adat Nua Kota diketahui melakukan seremonial adat dalam wilayah tanah ulayat Wolotopo.

Perbuatan ini sebutnya memicu konflik dan hanya mencari persoalan lagi karena sejak 2014 tapal batas kedua masyarakat adat itu belum jelas dan sering diributkan. Ketika mosalaki Dedi mengetahui adanya ritual adat tersebut maka dirinya berusaha untuk menegur.

“Teguran Dedi tidak digubris oleh masyarakat Nua Kota bahkan Mosalaki itu diancam. ini kan hanya mencari persoalan saja” tuturnya.

Oleh karena itu, lanjut Nori pihaknya mendatangi  menyampaikan persoalan ini kepada Bupati Ende sebagai pimpinan pemerintahan tertinggi di Kabupaten Ende agar bisa menyelesaikan persoalan ini.

“Kami ingin persoalan ini segera diselesaikan sehingga kedepannya tidak terjadi konflik susulan antara kedua masyarakat adat ini,” pungkasnya.
(Ebed de Rosary)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: