JUMAT, 30 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- Kondisi cuaca dengan curah hujan cukup tinggi yang melanda seluruh Lampung berakibat pada para pengrajin pembuatan teri dan nelayan di wilayah pesisir Barat Lampung Selatan dan wilayah pantai Timur Lampung. Cuaca yang tak menentu sejak seminggu terakhir bahkan mengakibatkan penurunan produksi pembuatan teri jenis teri hitam yang dilakukan oleh beberapa pekerja milik produsen pengolahan teri di Dusun Muara Piluk Kecamatan Bakauheni.


Andi salah satu nelayan sekaligus pemilik usaha pengolahan teri di Dusun Muara Piluk mengakui faktor cuaca memang sangat berpengaruh terhadap banyaknya tangkapan ikan yang didapat oleh nelayan sehingga berpengaruh pada pasokan ikan teri bagi pengrajin pengolahan teri. Ia mengaku selain pengolahan ikan teri dampak cuaca ekstrim dengan hujan dan angin kencang mengakibatkan kelangkaan ikan di pasaran dan membuat harga mulai mahal. Tidak hanya berdampak mahalnya harga di pasaran, penampung ikan nelayan juga mulai kehabisan stok untuk dijual kembali.

“Dua pekan terakhir ikan untuk dijual atau ikan teri untuk bahan baku pembuatan teri sangat susah dicari dan pada saat diproses kami juga mengalami kendala ketika waktu penjemuran tidak ada panas karena mendung bahkan hujan sepanjang hari” ungkap Andi salah satu nelayan di Dusun Muara Piluk Kecamatan Bakauheni saat ditemui Cendana News, Jumat (30/9/2016)


Selain dirinya mengalami kendala bahan baku untuk pengolahan ikan teri cuaca tak menentu dengan curah hujan tiap hari berakibat penjemuran membutuhkan waktu cukup lama dibandingkan kondisi cuaca normal. Andi bahkan mengaku saat cuaca normal panas terik proses penjemuran ikan teri hanya membutuhkan maksimal waktu dua hari namun kini selama empat hari ratusan para para terbuat dari kayu terpaksa ditutup menggunakan terpal.

Salah satu pekerja bahkan mengaku sebelum cuaca panas terpal penutup belum dibuka meski sudah diletakkan di lokasi penjemuran tersebut selama hampir lima hari. Kondisi tersebut berakibat teri sebagian mengalami pembusukan dan berjamur akibat terkena hujan berhari hari. Pembuatan teri dengan sistem tradisional juga tidak memiliki sistem pengeringan teri menggunakan alat khusus sehingga masih bergantung pada sinar matahari.


Selain berimbas pada proses pengeringan teri kondisi cuaca ekstrem dengan hujan dan angin kencang berimbas pada pedagang ikan teri jenis jengki dan ikan teri tanjan serta teri nasi. Para pedagang tersebut mengungkapkan, semenjak kondisi cuaca tak menentu dirinya juga mengalami kesulitan mendapatkan ikan dari nelayan serta sejumlah pelelangan.

Doni salah satu penjual mengaku biasanya dirinya memperoleh sekitar 10 sampai 15 keranjang, tapi saat kondisi cuaca tak menentu dirinya hanya memperoleh sebanyak 5 keranjang. Ia mengaku sebagian besar  pedagang ikan teri lainnya mengaku, cuaca yang tak menentu sejak seminggu terakhir ini membuat pembelian ikan di pelelangan menurun drastis.

“Nelayan lebih memilih istirahat. Meski berlayar ikan yang didapat hanya sedikit. Otomatis hasil tangkapan yang masuk di TPI Dermaga Bom Kalianda hanya sedikit” ungkap nelayan di dermaga Muara Piluk Bakauheni.


Dia mengaku, saat cuaca normal dirinya bisa mendapatkan ikan sebanyak 20 keranjang dari TPI Muara Piluk dan sebagian didatangkan dari nelayan di Kecamatan Ketapang. Ikan teri yang dibelinya dari nelayan diungkapkannya diketahui perkeranjang seberat 20 kilogram.

Ia mengaku pada hari biasa dirinya bisa memperoleh sebanyak 20 keranjang yang beratnya 400 kilogram. Namun akibat kondisi cuaca tidak menentu selama beberapa pekan terakhir ini dirinya hanya memperoleh sebanyak 2 keranjang hingga 3 keranjang per hari.

Nelayan tangkap berikut penjual ikan dan pengrajin teri berharap cuaca tak menentu akan kembali normal sebab kondisi curah hujan yang terjadi mengakibatkan operasional para nelayan terganggu dan harga ikan menjadi naik. Selain itu proses pengeringan ikan teri terganggu akibat hujan tak kunjung berhenti.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: