SABTU, 3 SEPTEMBER 2016

MATARAM --- Akibat kualitas kematangan daun tembakau yang buruk saat dilakukan proses omprongan, karena terlalu banyak mengandung air, tidak banyak pembeli atau pengepul mau membeli tembakau petani karena takut merugi.


Akibatnya, banyak tembakau milik petani menganggur dan menua di pohon, membuat petani resah dan kebingungan mencari pembeli, karena kalau tidak segera dipanen, daun tembakau akan mengering berguguran ke tanah.

"Kita bingung, pembeli tembakau sekarang sepi, sementara daun tembakau sudah banyak yang tua dan mengering di pohon,  mau diapakan daun tembakau sebegitu banyak, kalau kondisinya sudah begini" kata Saleha, petani tembakau Desa Banyu Urip, Kabupaten Lombok Tengah, Sabtu (3/9/2016).

Ia mengaku, dirinya sudah dua mingguan mencari pembeli supaya tembakaunya bisa terjual, karena daun tembakau dimiliki sudah banyak yang menua, mengering dan mengalami kerusakan dipohon, karena tidak pernah dipetik.

Serun, petani lain mengatakan, meski pertumbuhan tembakaunya bagus mencapai 20 puluh lembar lebih dan ada pembeli, tapi dari sisi harga sangat mengecewakan dan belum sesuai dengan kualitas daun tembakau dimiliki.

"Meski ada pembeli, antara harga dan kualitas tembakau saya, yang selain daun besar juga sangat lebat mencapai puluhan lembar" ungkapnya.

Dikatakan Serun, temabakau miliknya perkwintal hanya dihargakan 170 rupiah, mulai dari daun bawah sampai daun atas, tapi harga tersebut tepaksa ia terima daripada tidak ada yang membeli tembakaunya.

Beda lagi dengan Sali, tembakau miliknya hanya dibeli 100 ribu perkwintal meski daun tembakau bagus, itu juga pembayaran tidak diberikan secara langsung, melainkan dihutang, karena alasan kualitas tembakau saat diomprong buruk, karena mengandung kadar air tinggi.
(Turmuzi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: