SELASA, 20 SEPTEMBER 2016

SOLO --- Tingkat kesadaran masyarakat untuk berwirausaha di Indonesia hingga saat ini masih sangat rendah jika dibanding dengan negara tetangga yang ada di Zona Asia. Hingga September 2016, tingkat kewirausahaan di Indonesia diangka 1,65 persen dari jumlah penduduk.


Hal tersebut diungkapkan Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Santoso dalam Sosialisasi Pemasyarakatan Kewirausahaan, yang digelar di Balai Kota Solo, pada Senin (19/9) kemarin. 

Menurut Santoso, tingkat kewirausahaan Indonesia jauh di bawah dengan negara –negara tetangga.

“Seperti Malaysia sudah 3 persen, Singapura sudah 7 persen dan Japan sudah mencapai 11 persen. Kita memang sangat jauh tertinggal di level mereka,” ungkapnya kepada Cendana News, disela-sela sosialisasi tersebut.

Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, kata Santoso, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), tingkat kewirausahaan nasional mulai dari 2015 – 2019 ditarget mencapai 2 persen. Kenaikan 0,35 persen ini akan terus dikejar selama 3 tahun ke depan. 

 “Ini karena memang tingkat kesadaran masyarakat yang sangat rendah akan kewirausahaan. Oleh karena itu kita terus gelar sosialisasi kewirausahaan kemasyarakatan ini salah satunya untuk menunjang hal itu,” terangnya.

Yang menjadi kendala, untuk meningkatkan kesadaran berwirausaha hingga hari  ini adalah mindset masyarakat Indonesia yang mengeyam dunia pendidikan lebih menekankan akan pentingnya mencari nilai dan ijazah. Setelah mendapatkan ijazah, masyarakat lebih suka mencari pekerjaan dibanding menciptakan lapangan pekerjaan sendiri dengan berwirausaha.

“Yang lebih ironis, orang memandang usaha hanya dipahami sekedar berdagang atau bisnis semata. Padahal di dalam penuh dengan orang-orang kreatif, inovatif dengan daya saing tinggi. Ini yang selama ini masyarakat kita belum sadar,” urainya.

Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) serta peningkatan managemen kewirausahaan yang dilakukan masyarakat  selama ini juga harus ditingkatkan.  Sebab, secara realitas managemen usaha dan kewirausahaan yang ada sering kali dicampur adukkan dengan managemen pribadi atau rumah tangga. 

“Mulai dari perencanaa, pengawasan, dan semua fungsi manageman kewirausahaan harus benar-benar dijalankan,” imbuhnya.

Saat ini banyak diantara masyarakat yang membuka usaha namun belum menemukan subjek yang menjadi pascapasarnya. 

“Kemana produknya akan dipasarkan, seharusnya sudah jelas, siapa sasaran kita dan mekanisme pasarnya. Selain itu, pengolohan adminitrasi keuangan juga masih rendah dan masih dicampurkan dengan pribadi,” tegasnya.

Pihaknya mengimbau, bisnis online yang saat ini marak harus dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin. Sebab mampu menarik pelanggan dari mana saja tanpa harus dibatasi oleh jarak maupun waktu. 

“Di sini peran pemerintah juga sangat penting. Yakni bagaimana bisa melindungi wirausahaan Indonesia dengan luar negeri. Termasuk ketersediaan permodalan juga harus ditingkatkan,” pungkasnya. 
[Harun Alrosid]

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: