RABU, 21 SEPTEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Demi melihat kekayaan sumber daya alam di Kebun Pisang Plasma Nutfah, Giwangan, Umbulharjo, Titiek Hediati Soeharto mengingatkan agar Pemerintah lebih serius memberikan perhatian dan dukungan, agar setiap sumber daya alam mampu dikelola maksimal untuk kesejahteraan rakyat.

Bibit pisang di polybag
Hanya dari satu jenis pohon pisang saja, kata Titiek, terdapat ratusan kultivar pohon pisang yang bisa dikembangkan sebagai komoditas pangan bernilai ekonomi tinggi. Selain dijadikan pangan olahan mulai dari batang pohonnya, bonggol serta kulitnya, pisang juga bisa menjadi sumber penghasilan dari penjualan bibit dan buahnya. Sementara itu di Kebun Pisang Plasma Nutfah, telah ada 346 varian pisang yang dikembangkan.   

“Ini harus dilestarikan dan pemerintah daerah setempat seharusnya bisa lebih memberikan perhatian. Apalagi, kebun plasma nutfah selama ini menjadi salah satu penyuplai bibit pohon pisang dengan harga murah, dan wahana edukasi bagi anak-anak, masyarakat dan wahana riset penelitian dari perguruan tinggi. Bahkan, kebun pisang ini juga merupakan kebun pisang dengan koleksi terlengkap di Asia Tenggara” ujar Titiek Soeharto, saat mengunjungi Kebun Pisang Plasma Nutfah di Giwangan, Umbulharjo, Rabu (21/9/2016).

Didampingi Eny Sulistyowati meninjau kebun pisang plasma nutfah
Didampingi Kepala Unit Pelaksana Teknis Pelayanan Pertanian Perikanan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperdindagkop) Kota Yogyakarta, Eny Sulistyowati, Titiek Soeharto meninjau kebun pisang seluas hampir 2 Hektar dengan 346 jenis varian pisang dari berbagai daerah tersebut. Tidak hanya dari Indonesia, pisang dari negara lain seperti Afrika, Australia dan Amerika serta sejumlah negara lain pun ada di kebun tersebut.

Namun di antara ratusan jenis pisang yang ada di kebun itu, terdapat satu jenis pohon pisang yang langka dan unik yang disebut Pisang Sewu atau Pisang Seribu. Disebut pisang seribu, karena buahnya bisa tumbuh bertumpuk-tumpuk dalam satu tandan dan menjuntai hampir menyentuh tanah. Pohon Pisang Sewu yang pernah membuat kagum peserta pameran dari Korea pada lima tahun lalu di Jakarta itu, ternyata merupakan bibit yang pertamakali ditanam saat diresmikannya Kebun Pisang Plasma Nutfah itu oleh Ibu Tien Soeharto.

“Bibit pohon pisang sewu ini berasal dari Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, yang diberikan langsung oleh Ibu Tien Soeharto saat peresmian kebun ini” ujar Eny, saat menjelaskan keberadaan pisang-pisang di kebunnya kepada Titiek Soeharto.

Menanam bibit pisang di polybag
Titiek Soeharto pun lalu menjelaskan, sang ibunda Tien Soeharto semasa hidupnya memang menyukai pohon pisang sewu tersebut. Selain unik karena buahnya yang bisa tumbuh banyak dan menjuntai hingga nyaris menyentuh tanah, pohon pisang sewu itu katanya merupakan simbol rejeki.

“Waktu kecil dulu, saya selalu tanya kenapa Ibu (Tien Soeahrto –red) suka sekali menanam pohon pisang sewu itu. Tidak hanya di Solo, tapi juga di Jakarta. Waktu itu, Ibu bilang itu pohon rejeki”, ungkap Titiek, sembari tersenyum mengenang sang ibunda yang begitu mencintai tanaman.

Kebun Pisang Plasma Nutfah dengan 346 kultivar, saat ini menjadi kebun pisang terlengkap di Asia Tenggara. Pembangunannya pertama kali pada tahun 1988 digagas oleh Ibu Tien Soeharto yang saat itu menjabat Ketua Yayasan Purna Bhakti Pertiwi. Kebun Pisang Plasma Nutfah sejak awal dibangunnya ditujukan sebagai wahana edukasi dan pariwisata. 
(koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: