JUMAT, 2 SEPTEMBER 2016

JAKARTA --- Penumpasan pemberontakan demi pemberontakan didalam negeri sendiri cukup menyita waktu dan tenaga bagi Tentara Nasional Indonesia (TNI) sejak era pemerintahan parlementer/RIS (Republik Indonesia Serikat). Berdasarkan pengalaman perjuangan dan penumpasan pemberontakan dimana semua dilakukan secara bersinergi maka memasuki awal tahun 1959, Presiden Soekarno dalam hal ini sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia mengintegrasikan (menggabungkan) semua unsur kekuatan militer Republik Indonesia dari Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Kepolisian kedalam satu kesatuan dengan nama Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).

Gabungan foto misi operasi penumpasan dalam negeri dan misi perdamaian TNI/ABRI
Bertindak sebagai Panglima Tertinggi adalah Presiden sendiri dibantu Panglima Angkatan yang memegang komando atas angkatan masing-masing. Para Pangloma komando juga diangkat sebagai menteri, seperti Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad), Menteri Panglima Angkatan Laut (Menpangal), Menteri Panglima Angkatan Udara (Menpangau) serta Menteri Panglima Angkatan Kepolisian (Menpangak).

Karena Belanda sudah angkat kaki dari Bumi Pertiwi, maka perjuangan dan tugas ABRI saat itu adalah memulihkan keamanan dalam negeri dari sisa-sisa pemberontakan di era tahun-tahun sebelumnya yakni Pemberontakan DI/TII, PRRI/Permesta, dan RMS (Republik Maluku Selatan), Namun sebagai sebuah negara baru yang masih dalam proses penyatuan seluruh nusantara, maka timbul lagi konflik-konflik dimana masing-masing konflik berkaitan erat dengan penyatuan nusantara, penyamaan persepsi ideologi, ditambah konflik regional dengan negara tetangga yakni Malaysia.


Operasi Tri Komando Rakyat (TRIKORA) Pembebasan Irian Barat (1962)

Dilatarbelakangi keinginan Belanda mencaplok Irian barat, maka Presiden Soekarno menyerukan Trikora dan menunjuk Mayor Jenderal Soeharto sebagai Komandan dalam operasi pembebasan Irian barat bersandi " Operasi Mandala ". Perintah langsung dari Presiden adalah tanggal 17 Agustus 1962, tepat di HUT Kemerdekaan RI ke-17 maka Bendera Merah Putih harus sudah berkibar di Irian barat.

MayJend Soeharto menyusun strategi penyerbuan dengan menggunakan seluruh kekuatan ABRI yang ada. Dari infiltrasi pasca penyerbuan dari TNI Angkatan Darat dan Resimen Pelopor Brimob (pasukan elite Kepolisian RI), penghancuran fasilitas-fasilitas penting pasukan Belanda di Irian barat oleh pasukan-pasukan kecil TNI Angkatan Darat, penerjunan Resimen Para Komando, pemantauan sekaligus mobilisasi pasukan melalui Kapal selam, dan berbagai misi rahasia dari ABRI dengan tujuan melemahkan posisi musuh dan meningkatkan posisi tawar pasukan TNI sebelum penyerbuan besar dilakukan. Kontak-kontak senjata dengan pasukan Belanda tidak dapat dihindari dari sekian banyak misi rahasia tersebut dan hal itu ternyata membuat pasukan Belanda semakin berfikir apa manfaat kedepannya untuk tetap tinggal di Irian barat kalau hanya untuk bersiap-siap diserbu oleh sebuah kekuatan besar yang terencana rapih. 

Dalam operasi inilah muncul sebuah pertempuran heroik ditengah laut Arafura pada 15 Januari 1962. Tiga Kapal perang Angkatan Laut ABRI melakukan operasi penyusupan atau infiltrasi demi pemantauan untuk pergerakan infiltrasi pasukan selanjutnya. Operasi dipimpin KRI Macan Tutul yang ditumpangi Komodor Yos Sudarso, didukung KRI Macan Kumbang, dan KRI Harimau yang ditumpangi Kolonel Sudomo, Kolonel Mursyid, dan Kapten Tondomulyo.

Sesuai strategi sebelum keberangkatan maka iring-iringan senyap tersebut dipimpin KRI Harimau, diikuti KRI Macan Tutul, lalu diikuti KRI Macan Kumbang. Sampai di tengah laut Arafura, gerakan ketiganya ternyata sudah terendus Angkatan laut dan Angkatan udara Belanda. Tiba-tiba jatuh flare dari udara sehingga posisi ketiga Kapal perang RI tersebut terang benderang, diikuti dengungan suara pesawat tempur Belanda. Didepan mereka juga ternyata telah menunggu kapal perang Belanda Ms.Evertsen jenis fregat. Hujan bom dari udara dan tembakan roket dari kapal perang Belanda menghujani ketiganya. Pertempuran terbuka di tengah gelapnya laut Arafuru tidak dapat terelakkan. Namun karena ini adalah infiltrasi, sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan maka Laksamana Yos Sudarso memerintahkan semua kapal untuk memutar haluan mundur teratur. KRI Harimau dan KRI Macan Kumbang sudah berhasil keluar dari lokasi pengeboman dari udara dan tembakan dari kapal fregat Evertsen, namun naas bagi KRI Macan Tutul yang tidak sempat berputar lebih jauh.

Kepalang tanggung, musuh sudah didepan mata, maka KRI Macan Tutul meladeni kapal perang Evertsen dan satu pesawat pembom Belanda tersebut sendirian sampai akhirnya KRI Macan Tutul beserta seluruh awak : Laksamana Yos Sudarso, Kapten Wiratno, Kapten Memet Sastrawiria, Kapten Tjiptadi, ditambah 21 awak kapal lainnya gugur tenggelam bersama KRI Macan Tutul di laut Arafura..


Operasi Dwikora (1962-1966)

Malaysia bermaksud membentuk pemerintahan federasi namun dalam penentuan wilayahnya memasukkan ujung utara pulau Kalimantan. Hal ini tidak bisa diterima oleh Presiden Soekarno. Puncaknya adalah terjadi huru-hara anti-Indonesia di Malaysia yang berujung penyerbuan warga Malaysia kepada KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di sana, merobek-robek foto Presiden Soekarno, menurunkan Lambang Negara Garuda Pancasila dan membawanya ke hadapan Perdana Menteri Malaysia kala itu untuk diinjak-injak. Amarah Presiden Soekarno akhirnya meledak dan menyerukan Operasi Dwikora kepada ABRI/TNI.

Dokumentasi TNI/ABRI untuk Kontingen Garuda di tempat penugasan
Melihat keadaan sudah memburuk, pihak Singapura dan Filipina yang juga memiliki kepentingan dan merasa dirugikan jika wilayah Federasi Malaysia terbentuk akhirnya menarik diri untuk menghindari meluasnya konflik. Namun begitu Filipina memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia. Akhirnya tinggal Indonesia dan Malaysia saja saat itu.

Operasi Dwikora kemudian berubah menjadi Operasi Kolaga (Komando Mandala Siaga) yang Pangkolaga (Panglima Komando Kolaga) Laksamana Madya Laut Oemar Dhani dengan sasaran operasi adalah Semenanjung Malaya. Belajar dari Strategi MayJend Soeharto saat Operasi Trikora, maka Oemar Dhani turut membagi pasukan serta penyerbuan dalam skala-skala kecil dan infiltrasi terlebih dahulu demi mempersiapkan sebuah serbuan besar.

Namun tanpa diketahui Indonesia, ternyata Malaysia sudah meminta dukungan dari Kerajaan Inggris, Australia, dan Selandia baru, sehingga terlibat pula pasukan khusus Inggris (SAS) yang juga turut melakukan infiltrasi ke wilayah Indonesia. Pertemuan antara unit-unit kecil pasukan ABRI/TNI dengan pasukan SAS tidak dapat dihindari di lebatnya hutan Kalimantan yang buas.

Pada 2 September 1964 pasukan terjun payung ABRI/TNI mendarat di Labis, Johor. Diikuti dengan mendaratnya 50 Tentara di perbatasan Johor-Malaka. Disana mereka berhadapan langsung dengan pasukan dari Resimen Laskar Melayu DiRaja dan Tentara Selandia baru. Pasukan Indonesia membunuh seluruh pasukan Tentara Diraja kemudian bergerak ke Muar, Johor untuk menumpas pasukan Gerak Umum Kepolisian Kerajaan Malaysia.

Pada 1965, Australia dan Inggris menyetujui permintaan tolong Malaysia untuk mengirimkan tambahan pasukan ke daerah konflik dengan Indonesia. Ditengarai sekitar 14.000 pasukan Inggris dan Australia persemakmuran yang mendarat untuk memberi dukungan militer kepada Malaysia.

Pertengahan tahun 1965, Indonesia mulai menggunakan pasukan infanteri penyerbuan besar menyeberangi perbatasan masuk ke sisi timur pulau Sebatik, Tawau, Sabah dan berhadapan dengan Resimen Laskar Melayu DiRaja serta Kepolisian North Borneo Armed Constabulary. Kemudian pada 1 Juli 1965, militer Indonesia yang berkekuatan kurang lebih 5000 orang melabrak pangkalan Angkatan Laut Malaysia di Semporna. Serangan dan pengepungan terus dilakukan selama 3 (tiga) bulan dan peristiwa ini oleh warga Malaysia diperingati dengan nama " peristiwa Pengepungan 68 Hari " hingga sekarang.

Setelah mengalami konflik bersenjata cukup memalukan bagi Malaysia, akhirnya atas desakan berbagai pihak maka Indonesia mau duduk bersama dengan Malaysia untuk menandatangani perjanjian damai pada 19 Agustus 1966 dengan disaksikan langsung Jenderal TNI Soeharto. Dalam konflik Indonesia - Malaysia ini ditengarai 2000 personel ABRI gugur dan 200 orang pasukan Inggris/Australia/Persemakmuran tewas. Sedangkan dari pihak Malaysia tidak mau membuka data asli korban sampai hari ini.

Dalam Operasi Dwikora terkuak pula kisah penyusupan dua Prajurit KKO (Marinir) dan Kopaska (Pasukan Katak) Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) Angkatan laut untuk meledakkan gedung MacDonald House di pusat kota Singapura. Tujuan misi ini adalah Intelijen, provokasi, dan sabotase. Nama keduanya adalah Sersan Dua KKO Djanatin dan Kopral Satu KKO Tohir. Mereka menggunakan nama samaran Usman dan Harun. Misi berhasil dengan sempurna, kedua infiltrant berhasil meloloskan diri dari tengah kota untuk pulang ke pangkalan militer dengan perahu, namun ditengah laut perahu mereka mengalami mati mesin sehingga mereka berdua akhirnya tertangkap oleh aparat keamanan Singapura. Keduanya dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi tepat pukul 06.00 pagi tanggal 17 Oktober 1965. Bagi seluruh rakyat Singapura keduanya dianggap sebagai Teroris sepanjang masa, namun nama keduanya diabadikan TNI saat ini sebagai nama sebuah kapal perang patroli lepas pantai jenis korvet, yakni KRI Usman Harun. Kapal perang ini sempat mendapatkan kritikan pedas dari Singapura karena dengan adanya kapal perang ini maka ingatan mereka akan peledakan MacDonald House kembali terusik.


Peristiwa G30S/PKI (Pemberontakan PKI/Komunis 1965)

Dini hari tanggal 1 Oktober 1965, aksi PKI dimalam 30 September 1965 dalam menculik sekaligus membunuh secara sadis 6 orang Jenderal TNI dan 1 orang Perwira berhasil tercium oleh Pangkostrad MayJend TNI Soeharto. Pangkostrad pun akhirnya mengetahui bahwa PKI juga berhasil menguasai Stasiun pusat radio nusantara RRI (Radio Republik Indonesia) dan Gedung Pusat Telekomunikasi.

Ibu Johana Sunarti Nasution dan Ibu Tien Soeharto menyambut kedatangan sukarelawan Irian barat di Pelabuhan Tanjung priok
Dibawah todongan pistol, seorang penyiar RRI dipaksa menyiarkan pengumuman yang menyatakan bahwa G30S/PKI telah menyelamatkan negara dari rencana kup yang akan dilakukan oleh "Dewan Jenderal". Saat tengah hari mereka mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam negara sekaligus pendemisioneran kabinet RI. 

Untuk menghentikan pengumuman-pengumuman yang menyesatkan rakyat itu, maka MayJend Soeharto sebagai Panglima Komando Tjadangan Strategi Angkatan Darat (PangKostrad) yang sebelumnya sudah mendapatkan mandat mengambil alih sementara pimpinan Angkatan Bersenjata RI segera memerintahkan Pasukan Khusus Resimen Para Komando Angkatan Darat (RP-KAD) untuk operasi pembebasan Gedung RRI pusat serta Gedung Telekomunikasi dari penguasaan PKI. 

Operasi yang dimulai pada pukul 18.30 WIB tersebut berhasil dituntaskan oleh RP-KAD dalam waktu 20 Menit. Kemudian Pukul 20.00 WIB tanggal 1 Oktober 1965 Pangkostrad MayJend TNI Soeharto menyiarkan pidato radio lewat RRI kepada seluruh rakyat Indonesia yang menjelaskan bahwa telah terjadi usaha Kudeta terhadap pemerintahan Presiden/Pimpinan Besar Revolusi Soekarno oleh PKI (Partai Komunis Indonesia) melalui Gerakan 30 September atau dikenal dengan G30S/PKI.

Disamping itu, MayJend Soeharto juga sudah memberikan perintah kepada pasukan RP-KAD yang pimpinan Kolonel Sarwo Edhie Wibowo untuk segera melakukan pengejaran, penyisiran, sekaligus penumpasan terhadap sisa-sisa pasukan PKI yang masih berdiam di Lubang Buaya Jakarta timur.

Para Perwira Pimpinan Angkatan Darat yang menjadi korban penculikan serta pembunuhan PKI dan dikukuhkan negara sebagai Tujuh Pahlawan Revolusi tersebut adalah : Jenderal Ahmad Yani, Letnan Jenderal R.Soeprapto, Letnan Jenderal MT.Haryono, Letnan Jenderal S.Parman, Mayor Jenderal DI.Pandjaitan, Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, Kapten Pierre Tendean.


Dari rentetan peristiwa konflik maupun penumpasan pemberontakan ini, ABRI/TNI juga masih sempat mengirim misi perdamaian PBB dengan nama Pasukan Garuda atau Kontingan Garuda (Konga) II ke wilayah Kongo pada tahun 1960 hingga 1961. Pasukan Konga II yang berada dibawah misi UNOC ini berjumlah 1.074 personel. Kemudian dilanjutkan dengan Pasukan Konga III masih bertugas di Kongo pada tahun 1962 hingga 1963 dengan kekuatan 3.457 personel.

Pada periode 1966 hingga 1998, perkembangan organisasi dan doktrin dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) semakin menguat. Namun pada masa ini ABRI mengalami beberapa kali reorganisasi sejalan dengan rencana strategi pembangunan lima tahun serta upaya memantapkan integrasi ABRI.

Program pembenahan kedalam terutama dalam penyamaan visi dan misi menjadi prioritas dalam menghadapi tantangan perkembangan jaman pada masa itu. Oleh karenanya, pada tahun 1966 Doktrin Tri Ubaya Sakti yang terdiri dari tiga butir doktrin didalamnya yakni : Pertahanan Darat Nasional (Hanratnas), Kekaryaan, dan Pembinaan diubah menjadi Catur Darma Eka Karma (Cadek) dimana dalam Doktrin pertahanan keamanan yang baru ini mengatur bahwa dasar pertahanan dan keamanan negara adalah Sistim Pertahanan dan Keamanan Perang Rakyat Semesta.

Untuk Operasi Keamanan Dalam Negeri, ABRI melaksanakan tugas operasi antara lain :

Tahun 1966, Operasi pengamanan sidang umum IV MPRS

Tahun 1967, Operasi penumpasan PGRS/Paraku (Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak/Pasukan Rakyat Kalimantan Utara) di Kalimantan barat (GOM VII) yang berhaluan kiri/Komunis dimana mereka adalah sisa-sisa gerilyawan bentukan Presiden Soekarno untuk mendukung aksi "Ganyang Malaysia" dalam konfrontasi Indonesia-Malaysia 1962-1966. ABRI bersama Suku Dayak Kalimantan barat bahu membahu menumpas gerakan separatis komunis ini sampai keakar-akarnya.

Tahun 1967, Operasi pengamanan Sidang Istimewa MPRS

Tahun 1968, Operasi Trisula di Blitar selatan untuk menumpas sisa-sisa gerakan G30S/PKI di Jakarta. Setelah PKI dibubarkan, sisa-sisa pimpinan PKI berusaha membangun kembali partai dengan cara membentuk basis-basis gerilya yang disebut Comite Proyek (Compro). Melalui Compro Blitar selatan, PKI membentuk Central Comite (CC), dan Comite Daerah Besar (CDB) Jawa timur.  Sebagai persiapan gerilya, mereka menyusun kekuatan bersenjata, mengintensifkan latihan kemiliteran, dan membangun kubu pertahanan berupa ruangan bawah tanah (ruba) memanfaatkan gua-gua alam sebagai tempat persembunyian dan kubu pertahanan. Selain itu mereka melakukan kegiatan agitasi dan propaganda untuk mempengaruhi rakyat secara ilegal.

Replika Kapal Perang KRI Matjan Tutul di halaman muka Museum Satria Mandala Jakarta, 
Dengan diketahuinya kegiatan mereka, TNI-AD Kodam VIII/Brawijaya segera membentuk Komando Satuan Tugas Trisula yang turut diperkuat oleh kesatuan TNI-AU, Polri, dan Hansip/Wanra serta aparatur yang terkait dengan tugas melaksanakan operasi militer untuk menumpas gerakan bawah tanah PKI tersebut. Pada tanggal 20 Juli 1968 salah satu pasukan dari operasi Trisula dibantu Hansip/Wanra setempat melakukan operasi pembersihan di desa Sumber Jati, kecamatan Lodoyo, Blitar selatan. Sasaran operasi adalah gua-gua alam yang tersebar di daerah tersebut. Dalam operasi ini berhasil ditangkap 11 orang kader PKI yang bersembunyi di dalam gua, diantaranya adalah bernama Rewang, anggota CC PKI gaya baru.

Tahun 1969, dimulainya Operasi Sadar penumpasan OPM (Organisasi Papua Merdeka) di Irian jaya barat (GOM IX)

Dalam kurun waktu ini dilaksanakan pula Operasi Keamanan Dalam Negeri (OPSKAMDAGRI) yakni penumpasan GAM (Gerakan Aceh Merdeka), GPK (Gerakan Pengacau Keamanan) Lampung, dan GPK (Gerakan Pengacau Keamanan) Irian Jaya.

Sebuah catatan lain yang harus digarisbawahi dari ABRI adalah dilaksanakannya Operasi Bhakti dengan nama ABRI Masuk Desa (AMD). Operasi ini adalah operasi simpatik ABRI kepada rakyat dengan masuk sampai ke desa-desa pelosok paling dalam di seluruh nusantara untuk melakukan pembangunan-pembangunan rumah tinggal, rumah peribadatan, sekolah, jalan umum, pembukaan lahan sekaligus penggarapannya bagi petani, dan masih banyak lagi kegiatan ABRI lainnya yang benar-benar mendapat simpati serta sambutan hangat dari seluruh rakyat Indonesia.

Selain pemusatan operasi pemulihan keamanan dalam negeri, perjuangan dan pertumbuhan ABRI/TNI juga terus melaju pesat dengan semakin eksis dalam tugas-tugas Internasional khususnya misi-misi perdamaian untuk daerah-daerah konflik di dunia. Tercatat program Pasukan Konga (Kontingen Garuda) yang berjalan terus saat itu adalah :

Tahun 1973, Konga IV dan V ke Vietnam
Tahun 1973, Konga VI ke Timur tengah
Tahun 1974, Konga VII ke Vietnam
Tahun 1974, Konga VIII ke Timur tengah
Tahun 1988-1989, Konga IX ke Iran-Irak
Tahun 1989, Konga X ke Namibia
Tahun 1992, Konga XI ke Irak-Kuwait
Tahun 1992, Konga XII ke Kamboja
Tahun 1992, Konga XIII ke Somalia
Tahun 1994, Konga XIV ke Bosnia Herzegovina
Tahun 1994, Konga XV ke Gorgia
Tahun 1994, Konga XVI ke Mozambik
Tahun 1994, Konga XVII ke Filipina
Tahun 1997, Konga XVIII ke Tajikistan

Perkembangan ABRI/TNI dalam persenjataan di era 1980/1990-an mengalami peningkatan cukup signifikan dibanding era-era sebelumnya. Yang paling mencolok disini adalah kepemilikan Skuadron pesawat tempur F-16 Fighting Falcon yang kala itu didatangkan Presiden Soeharto demi membungkam pemerintah Australia dalam konflik perbatasan dan Timor Timur. Dan di era ini berhasil pula dilakukan pengembangan pembuatan Alutsista/persenjataan secara mandiri berupa Roket, Mortir, Granat, dan Senjata personel buatan PT.Pindad dan Pesawat angkut jenis CN-235 buatan IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara) garapan Menristek BJ.Habibie.

Disamping persenjataan modern, ada satu keunikan ABRI/TNI yang sudah ada sejak tahun 1953 yaitu KRI Dewa Ruci, dimana KRI Dewaruci adalah kapal latih bagi taruna/kadet Akademi Angkatan Laut yang berbasis di Surabaya dan merupakan kapal layar terbesar yang dimiliki TNI Angkatan Laut. Nama kapal ini diambil dari nama seorang dewa dalam kisah pewayangan Jawa, yaitu Dewa Ruci. Selain sebagai kapal latih bagi kadet-kadet muda, KRI Dewa Ruci juga merupakan kapal layar Angkatan laut RI yang sudah mengelilingi dunia selama dua kali dimana kehadirannya selalu ditunggu oleh seluruh insan dunia Internasional dimanapun berada.

Akhirnya, sejarah perjalanan ABRI mengerucut pada tahun 1998 dimana terjadi perubahan situasi politik di Indonesia. Perubahan tersebut berpengaruh juga terhadap keberadaan ABRI yang adalah penyatuan angkatan bersenjata indonesia oleh Presiden Soekarno di era kepemimpinan beliau lalu terus berlanjut sampai era kepemimpinan Presiden kedua Republik Indonesia HM.Soeharto. 

Pada tanggal 1 April 1999 TNI dan Polri secara resmi dipisah menjadi institusi yang berdiri sendiri. Sebutan ABRI sebagai nama kesatuan angkatan perang di Indonesia dikembalikan menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia) sehingga otomatis Panglima ABRI berubah menjadi Panglima TNI dan Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) memiliki pemimpin baru bernama Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri).

Didalam Museum Pusat Sejarah TNI Satria Mandala Jakarta, seluruh generasi penerus bangsa Indonesia dapat melihat dari dekat bagaimana sejarah perjalanan, perjuangan, serta pembangunan Angkatan bersenjata Negara Republik Indonesia. Dari halaman muka hingga masuk kedalam gedung sampai keluar ke halaman belakang, pengunjung dipastikan tidak dapat berkedip karena disanalah terpampang semua sejarah dan berbagai hal yang mungkin sebelumnya tidak diketahui khalayak umum.

Akhirnya, dari apa yang ada didalam museum berupa sejarah perjalanan TNI sejak awal masa Revolusi, masa Parlementer, Orde lama, hingga Orde baru (1945-1998) sampai berakhirnya era tersebut meninggalkan catatan-catatan penting bagi seluruh rakyat Indonesia. Bahwa : 

1. TNI merupakan institusi yang terus bergerak maju mengikuti perkembangan jaman dalam segala hal

2. TNI merupakan kumpulan prajurit-prajurit terlatih dengan semangat militan tinggi untuk melindungi harkat serta martabat bangsa dan rakyat Indonesia

3. TNI merupakan bagian besar dari pasukan keamanan dunia untuk menghapuskan penjajahan dari muka bumi (sesuai UUD 1945)

4. TNI merupakan alat negara untuk melindungi harkat dan martabat rakyatnya

Dan catatan tersebut diatas adalah abadi hingga era TNI saat ini dimana perkembangannya sudah semakin profesional untuk menjawab setiap tantangan jaman yang terus bergulir.
(Miechell Koagouw)
Sumber : Pusat Sejarah TNI Museum Satria Mandala Jakarta
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: