KAMIS, 15 SEPTEMBER 2016 

LAMPUNG --- Kesal proses ganti rugi mega proyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) belum kunjung bisa dicairkan oleh warga Desa Bakauheni dan Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni,ahli waris tanah terdampak tol trans Sumatera melakukan aksi lanjutan dengan mendirikan gardu dan melakukan aksi menanam pohon pisang dan singkong atau ubi kayu. Proses penanaman ubi kayu dan pisang dilakukan oleh warga bernama Triono (50) yang merupakan ahli waris dari pemilik tanah Kadian yang sebagian besar tanahnya sudah digusur untuk pembangunan proyek Tol Trans Sumatera.


Menurut Triono, dua hari sebelumnya aksi diawali dengan hanya melakukan pemasangan patok dan pemagaran serta pemasangan tali. Namun belum adanya titik cerah dari pihak-pihak yang berkaitan langsung dengan pencairan uang ganti rugi tol mengakibatkan Triono dan beberapa keluarga yang terdampak tol dan belum mendapat uang ganti rugi melanjutkan dengan menanam pohon pisang dan ubi kayu.

“Kami awalnya melakukan aksi blokir jalan dan ada pihak yang meminta kami berhenti tapi belum bisa memberikan kejelasan terkait nasib kami yang belum memperoleh ganti rugi sehingga akhirnya kami dirikan gardu dan tanam pohon” ungkap Triono saat dikonfirmasi di gardu yang ada di lokasi tol trans Sumatera, Kamis (15/9/2016)


Ratusan batang singkong atau ubi kayu yang ditanam oleh Triono merupakan bentuk kekecewaannya terkait belum dibayarkannya uang ganti rugi berupa tanam tumbuh dan juga lahan. Sebagai ahli waris,Triono bersama keluarga Sohandi menuntut penyelesaian ganti rugi lahan termasuk tanam tumbuh di lahan yang dimiliki oleh keluarga tersebut.

Berdasarkan surat kepemilikan tanah luas lahan terdampak tol Sumatera keluarga Triono mencapai luas 7.000 meter persegi dan luas lahan Sohandi seluas 5.000 meter persegi. Proses dibekukannya rekening uang ganti rugi lahan tol tersebut diduga akibat klaim seseorang bernama Joko Asmoro yang merasa berhak atas tanah tersebut.

“Kami memiliki tanah tersebut sejak tahun 1979 lengkap dengan bukti pembayaran pajak PBB tapi kenapa tiba tiba ada pihak lain yang mengklaim saat akan ada proyek tol” ungkap Triono.


Upaya dengan menempuh jalur hukum juga telah diusahakan oleh keluarga Triono dan hingga kini masih dalam proses. Meski demikian ia mengaku akan tetap bertahan di lokasi tol dengan mendirikan gardu dari kayu dan terpal sekaligus menanami lahan milik keluarganya hingga ganti rugi dibayarkan.

Senasib dengan ahli waris tanah Kadian, Triono dan Sohandi puluhan warga Dusun Cilamaya hingga kini masih bertahan dengan mendirikan posko dan memblokir lokasi tol Trans Sumatera. Aksi dilakukan paska belum dibayarkannya uang ganti rugi meski sudah masuk di dalam rekening. Rekening yang diblokir atas nama Marjaya dan Mukhlas dilakukan pasca ada dua pihak yang mengklaim status kepemilikan tanah yang terdampak tol tersebut.

Meski dilakukan pemblokiran sejumlah alat berat dan truk pengangkut material tol masih terus melakukan aktifitas yang dikerjakan oleh PT Pembangunan Perumahan (PP) di STA 05 hingga STA 07. Beberapa bukit yang diratakan untuk proses pembersihan lahan (land clearing) dilakukan dengan melakukan peledakan (blasting) oleh PT Dahana.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: