SELASA, 20 SEPTEMBER 2016

PONOROGO --- Seniman wayang geber, Gayuh Setyono (27 tahun) mengungkapkan seni tradisi ini mulai ditinggalkan. Wayang geber tergeser oleh wayang kulit dan wayang kamasan.


Wayang geber sendiri merupakan pagelaran wayang yang menggunakan daluang atau lembaran kertas untuk bercerita. Cerita yang diangkat diambil dari kisah Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji.

"Sekarang seniman yang mengerjakan wayang geber jarang, peminat juga tidak ada," ujarnya saat ditemui Cendana News di Jalan Anoman, Selasa (20/9/2016).

Gayuh mampu membuat satu jagong atau satu frame dalam waktu 2 bulan dengan gaya lukis Pacitan dan waktu 1 bulan dengan gaya lukis Wonosari. Sedangkan dalam satu kali pentas dibutuhkan maksimal 24 jagong.

"Ceritanya tetap mengangkat romansa Panji dan Sekartaji dari jaman Majapahit," jelasnya.

Alumnus ISI Solo ini menerangkan dalam satu jagong membutuhkan kertas 4 m x 60 cm. Dengan satu jagong gaya Wonosari dihargai Rp 1,5 juta dan gaya Pacitan dihargai Rp 2-2,5 juta.

"Perbedaan jagong Pacitan dengan Wonosari di latar belakang, Pacitan lebih rumit," imbuhnya.


Menurutnya, dalam satu tahun hanya mampu memproduksi 4 jagong. Tingkat kesulitannya karena wayang geber bukan seni instan dan membutuhkan waktu lama.

"Apalagi hanya dibantu oleh 2 orang saja, istri dan murid saya. Karena yang minat jarang jadi lama buatnya," pungkasnya. 
[Charolin Pebrianti]

Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: