SELASA, 13 SEPTEMBER 2016

LAMPUNG --- Warga Dusun Buring Desa Sukabaru Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan masih mempergunakan jembatan gantung dengan tali sling baja dan konstruksi kayu dan bambu.


Menurut salah satu warga Dusun Buring, Andi (40) jembatan gantung sepanjang 15 meter dan lebar 1,5 meter yang ditopang dengan tali baja tersebut kini kondisinya semakin memprihatinkan meski dilalui setiap hari oleh warga yang akan melakukan aktifitas harian diantaranya untuk berangkat dan pulang sekolah.

Pantauan di lokasi di beberapa bagian jembatan sudah nampak keropos dan jebol dan membahayakan pengguna yang melintas terutama anak anak. Perbaikan sering dilakukan tetapi swadaya masyarakat sekitar sehingga hasilnya belum maksimal dan tidak berpengaruh banyak pada kondisi jembatan yang Sungai Way Pisang Kecamatan Penengahan dan merupakan jalan utama tersebut.


Jainuri (30) salah satu warga mengungkapkan bahwa sebelum jembatan gantung yang sekarang ini, sudah ada jembatan sejenis tetapi tak bersisa setelah diterjang banjir. Akhirnya, dibangunlah jembatan gantung yang ada sekarang ini meski kondisinya memprihatinkan dan hanya bisa dilintasi pejalan kaki dan pengguna kendaraan roda dua.

“Warga sebenarnya ingin memiliki fasilitas jembatan permanen tapi usulan dari warga ke pemerintah masih belum direalisasikan meski usulan pembuatan jembatan permanen sudah diajukan,” ungkap Jainuri saat dikonfirmasi media Cendana News, Selasa (13/9/2016)

Sebelum realisasi pembangunan jembatan permanen yang sudah ditinjau oleh komisi C DPRD Kabupaten Lampung Selatan pembangunan jembatan gantung secara swadaya dilakukan karena warga sangat membutuhkan jalan penghubung antar desa termasuk akses bagi anak-anak menuju sekolahnya. Menurut warga manfaat dari jembatan gantung tersebut memang sangat berdampak positif bagi warga selain memotong jarak tempuh tanpa harus memutar melalui jalan lain yang masih menggunakan jalan batu.


Pantauan Cendana News, jembatan gantung yang kerusakannya hanya ditambal dengan bambu tersebut hanya mampu dilewati pejalan kaki dan pengendara kendaraan roda dua, dengan catatan kendaraan roda dua tersebut tidak membawa beban berlebih karena jika itu terjadi, sangat berbahaya bagi pengendaranya, walaupun tetap saja ada pengendara yang nekat.

Ada upaya dari warga untuk membangun jalan darat berbahan paving blok yang diharapkan mampu menghubungkan Desa Karangsari dan Desa Sukabaru namun karena ada rencana pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) pengerjaan jalan hanya sebatas jalan lingkar desa untuk efisiensi.

Keinginan untuk mengubah jembatan gantung di desanya menjadi jembatan permanen menurut salah satu warga, Sodikin, pernah disampaikan kepada anggota komisi C DPRD yang berjanji untuk segera merealisasikan pembuatan jembatan tersebut. Komisi C DPRD bahkan berjanji untuk pembangunan jembatan permanen akan menjadi prioritas.

“Saat kunjungan anggota komisi C DPRD kemarin sempat dijanjikan akan menjadi prioritas meski belum tahu kapan akan dibangun apakah tahun ini atau tahun depan” ungkapnya.

Harapan warga sekitar yang sebagian besar merupakan petani dan pekebun serta pengrajin batu, jembatan permanen segera dibangun sebagai pengganti jembatan gantung yang kondisinya semakin membahayakan. Diharapkan, dengan dibangunnya jembatan permanen nantinya bukan hanya pejalan kaki dan pengendara roda dua yang bisa melintas tetapi juga kendaraan roda empat mengingat di wilayah tersebut ada perkebunan yang tentunya butuh kemudahan akses bagi kendaraan roda empat guna mempermudah proses angkut hasil kebun dan kebutuhan lainnya.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: