KAMIS, 8 SEPTEMBER 2016

BALI--- I Gusti Putu Dharma Wijaya, salah seorang demonstran tolak reklamasi pada 25 Agustus lalu ditetapkan sebagai tersangka. Saat aksi demonstrasi di Gedung DPRD Bali, I Gusti Putu Dharma Wijaya menurunkan bendera Merah Putih. Ia lantas menggantinya dengan bendera ForBALI (Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa). Warga Banjar Peken, Desa Adat Sumerta itu ditangkap oleh Polda Bali di tempatnya bekerja Rabu malam pukul 21.00 WITA.


Ia langsung ditetapkan sebagai tersangka. ‎"Yang bersangkutan ditetapkan sebagai tersangka dan dijerat dengan Pasal 24 a Junto Pasal 66 UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan," kata kuasa hukum dari ForBALI, I Made Suardana di Mapolda Bali, Rabu malam (7/9/2016).

Saat ini, Suardana melanjutkan, I Gusti Putu Dharma Wijaya masih menjalani pemeriksaan. Menurut Suardana, materi pemeriksaan seputar aksi demonstrasi ForBALI beberapa waktu lalu di Gedung DPRD Bali.

"Pertanyaannya masih seputar siapa yang mengajak demo dan lain sebagainya," ucapnya.

Pada kesempatan itu, Suardana mempertanyakan penangkapan dan penetapan tersangka terhadap rekannya di ForBaLI itu. Ia membandingkan aksi I Gusti Putu Dharma Wijaya dengan suporter sepakbola.

"Bagaimana dengan suporter sepakbola yang mengikatkan bendera di lehernya," tanya Suardana.

Pria yang karib disapa Ariel itu melanjutkan, pasal yang dijeratkan kepada rekannya itu tidaklah tepat. Sebab, pasal itu mengisyaratkan adanya kebencian terlebih dahulu terhadap aksi penurunan Sang Saka Merah Putih. "Kalau niat itu ada, baru bisa dijerat," tegasnya. Apalagi, saat penurunan bendera itu sama sekali Bendera Kebangsaan Indonesia itu tidak diganti dengan bendera lain.


"Tidak diganti. Merah Putih tetap berkibar. Dibawah bendera Merah Putih baru bendera ForBALI," jelasnya.

‎Ia pun menyayangkan penangkapan terhadap I Gusti Putu Dharma Wijaya yang menurutnya di luar prosedur. "Tiba-tiba malam-malam diambil (ditangkap). Masih ada cara yang lebih sehat, lebih santun. Kalau begini jelas ketakutan, ini teror," ucapnya.

Sementara itu, Suardana mengaku belum menentukan langkah hukum bagi rekannya itu. Ia masih menunggu langkah lanjutan dari pihak kepolisian.

"Kita masih menunggu tindak lanjut dari polisi. Kita tunggu dia ditahan atau tidak, baru kita pikirkan langkah hukum yang akan kita tempuh. Bagi saya terpenting hukum memuat tiga hal norma hukum, keadilan dan persepsi. Hari ini persepsi berkaitan penegakan hukum tidak baik," tutupnya.
(Bobby Andalan)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: