SENIN, 26 SEPTEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Tim Kebencanaan Hidrologi Universitas Gajah Mada menemukan betapa parahnya kondisi lahan yang diterjang banjir bandang di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Upaya konservasi membutuhkan kajian akademis yang komprehensif, karena karakteristik lahan yang terdiri dari tanah gembur dan material sedimen sungai dari ketujuh gunung api yang berbeda.


Pakar pengendalian banjir sungai UGM, Istiarto dalam pemaparan hasil kajian bersama sejumlah tim ahli di UGM, Senin (26/9/2016) mengungkapkan, banjir bandang di Garut disebabkan Sungai Cimanuk yang sudah melebihi kapasitas dan diperparah dengan adanya penyumbatan. Selain itu, bencana tersebut juga diperparah dengan longsor dari bagian hulu dari ketujuh gunung api yang mengepung Garut yang menyuplai sedimen dan mempercepat pendangkalan sungai.

Lebih jauh lagi, tim ahli juga menyebut jika tanah di lokasi bencana merupakan tanah yang terbentuk dari abu dari ketujuh gunung api, yang kemudian terusik oleh adanya aktifitas masyarakat yang mengolahnya sebagai lahan pertanian, sehingga tanah abu menjadi semakin gembur. Sementara itu, di sekitar jalur aliran sungai memiliki lapisan tanah yang sudah mengalami proses hidrotermal. Akibatnya, jika air diresapkan ke dalam tanah akan menimbulkan longsor, sementara jika dilepaskan akan menyebabkan banjir.

Tidak hanya itu, secara spasial ketujuh gunung berapi di Garut juga mempunyai karakteristik berbeda, sehingga tidak cukup hanya dengan melakukan pengkajian secara umum guna melakukan upaya konservasi, melainkan pengkajian akademis yang komprehensif melibatkan lintas disiplin ilmu.

Sementara pakar kehutanan UGM, Satyawan Pudyatmoko menambahkan, jika sekarang ini Indonesia menjadi sangat rawan bencana hidrologis yang disebabkan oleh faktor-faktor hidrologi dan meteorologi yang semakin sulit dikendalikan.

Faktor pengendali seperti hutan, kata Satyawan, sudah sangat berkurang sehingga menambah rentan ekosistem-ekosistem yang memang sudah rentan dan memudahkan banjir, dan semua itu semakin menimbulkan krisis-krisis baru di negara Indonesia.

Di sisi lain, lanjut Satyawan, penduduk Pulau Jawa sangat padat dan kebutuhan bahan pangan seperti sayur-mayur sangat tinggi sehingga para petani semakin merangsek naik ke hulu, karena memang tidak ada alternatif lahan lain. Karena itu, persoalan menjadi semakin komplek.

"Upaya pencegahan tidak bisa sekedar memberikan penyuluhan dan penyadaran kepada masyarakat, namun juga perlu segera dicarikan solusi ekonomi alternatif yang ramah lingkungan. Selain itu, vegetasi juga harus segera dilakukan secara tepat, baik dari segi jenis pohon, jumlah dan lokasi penanaman," pungkasnya.
[Koko Triarko] 

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: